Mengenali diri sendiri

Mengenali Aku

Mengenal diri sendiri adalah hal yang dianggap mudah oleh manusia, namun ternyata hampir mayoritas manusia tidak mengenal dirinya sendiri. Mengenal diri sendiri adalah hal paling membuat saya frustasi selama belajar. Bagaimana tidak, ketika ada seseorang bertanya, “siapa saya?”. Sama seperti kebanyakan manusia, jawaban saya adalah nama, dan semua informasi identitas saya.

Bertahun-tahun saya mencari jawaban, “siapa saya?”. Namun tidak ada satupun informasi yang bisa saya jadikan pijakan untuk mencari siapa saya. Namun jawaban baru saya temukan, saat saya justru hanya menjalani proses berlatih meditasi, dan tidak fokus mencari siapa saya.

“Siapa saya?”

Sebelum mengetahui siapa saya, saya ingin bertanya kepada anda, “Apakah anda bisa menunjukkan kepada saya sebuah rumah?”

Baiklah, anda pasti langsung menunjuk sebuah bentuk yang disebut rumah. Sekarang perhatikan, apakah benda bernama rumah itu benar-benar ada, atau ia hanyalah sebuah istilah pendek untuk menyebut kumpulan dari tanah, batu kali, batu bata, semen, kapur, air, genteng, kayu, besi, hingga membentuk sebuah benda yang disepakati sebagai rumah?Itu baru materi, bukankah rumah itu juga punya perjalanan sejarah, sebutlah memori, saat rumah itu dibangun dari material hingga berbentuk “rumah”, lalu ditinggali, terkena panas dingin, dicat ulang, dan sejarah-sejarah lain-lain yang melekat pada sebuah rumah tersebut? Lalu apakah benda yang bernama rumah itu “ada”?Rumah hanyalah kumpulan material yang dibuat dan dibentuk seperti “rumah” dan memiliki sejarah panjang perjalanan hingga anda tunjuk tadi. Artinya “benda” bernama rumah itu hanyalah kumpulan saja, atau campuran antara materi pembentuk dan sejarah atau memori.

Lalu bukankan kita juga seperti itu? Apakah anda kira kita ini hanya daging, rambut, tulang, kuku, dan organ-organ yang terlihat saja? Jelas tidak. Jika dibelah lagi, apakah daging, rambut, kuku, dan lain-lain itu ada? Mereka juga dibentuk dari partikel yang lebih kecil. Demikian juga partikel kecil pembentuknya, dan seterusnya. Itu baru materinya. Bukankan yang disebut manusia juga punya memori seperti rumah tadi? Betul! Manusia juga memiliki memori yang bernama evolusi dari sebelum manusia hingga menjadi manusia. Belum lagi memori pribadi seperti peristiwa-peristiwa yang terjadi di kehidupan kita sehari-hari. Bukankah itu sejarah?memori?

Sama seperti rumah tadi, manusia juga hanya sebutan untuk kumpulan-kumpulan materi pembentuknya dan memori sejarah yang tersimpan dalam trilyunan penyimpan memori dalam tubuh manusia, dari mulai DNA , sel-sel, hingga otak. Manusia sendiri hanya sebutan saja untuk kumpulan semuanya. Kalau dilihat manusia sebagai materi yang solid merujuk pada satu benda mandiri tanpa ada pembentuknya, sebenarnya manusia tidak ada. Demikian juga semua hal di alam semesta ini tidak ada, yang ada adalah materi-materi pembentuk hingga partikel terkecil yang baru bisa kita ketahui. Belum materi-materi yang lebih kecil lagi yang belum bisa kita deteksi atau lihat.

Maka seorang manusia yang punya nama, hanyalah kumpulan informasi sejarah atau peristiwa dan kumpulan materi-materi pembentuknya, seperti juga rumah yang kita bahas sebelumnya. Sebenarnya yang diketahui manusia saat ditanya siapa aku, hanyalah merujuk pada memori dan identitas saja, supaya membedakan satu dengan lain dan sebagai “label” masing-masing diri kita. Anda akan bingung, jika seumpama, dalam satu hari saja, semua memori manusia seluruh dunia dihapus. Maka identitas seperti nama, latar belakang keluarga, pendidikan, semua bahasa, istilah, dan lain-lain apakah masih ada? Jika anda tidak tahu nama anda, lalu siapa anda?Jika anda tidak punya kenangan atau memori akan diri anda, maka siapa anda?

Ketika ditanya siapa aku, rata-rata merujuk pada memori atau kenangan yang membentuk sebuah identitas yang lalu dinamai dengan Robert, Slamet, Rony, Anna, Ratih, dan lain-lain. Namun kenangan hanyalah memori, dan sama sekali bukan aku. Lalu siapa aku?

Dalam perjalanan untuk belajar spiritualitas, setelah melalui proses panjang (walau belum sepanjang orang lain yang lebih dahulu menemukan kebijaksanaa), saya menemukan aku untuk diri saya yang bukan identitas dan memori tadi. Sebenarnya yang disebut “aku” terdiri dari tiga golongan besar, yakni tubuh kita, sistem pikiran kita, dan kesadaran. Ketiga-tiganya membentuk satu kesatuan yang disebut “aku”.

Tubuh adalah hal paling kita kenal, namun sebenarnya tidak kita ketahui. Rata-rata orang hanya tahu tubuh adalah bentuk kita ini, daging, darah, wajah, tangan, kaki, jantung, dan lain-lain. Namun banyak yang tidak memahami proses bagaimana tubuh kita bekerja. Contoh paling sederhana adalah apakah anda tahu jika emosi adalah bahasa tubuh kita? Sebenarnya marah, takut, dan lain-lain adalah proses tubuh kita untuk merespon lingkungan sekitar kita. Semua bagian tubuh bekerja mempengaruhi satu sama lain hanya untuk membentuk satu emosi : marah. Coba perhatikan seperti apa sih orang marah? Dimulai jantung berdetak kencang, lalu memompa peredaran darah untuk lebih cepat berputar. Otomatis ketika peredaran darah berputar lebih cepat, organ-organ tubuh lain juga dirangsang untuk bergerak lebih cepat. Jadilah tubuh anda menjadi panas. Bukankan ketika anda marah, tubuh menjadi panas? Bagi orang yang menderita stroke atau penyumbatan pembuluh darah, marah ini bisa mematikan. Bayangkan saja sebuah selokan air kecil depan rumah anda yang mampet karena sampah. Ketika hujan turun dengan lebat, apa yang terjadi? Air menjadi tumpah ke jalan karena aliran air tidak lancar dan membuat air menjadi menumpuk, lalu luber ke jalan. Orang marah sama juga seperti sebuah motor atau mobil. Ketika anda terburu-buru datang ke sebuah tempat karena anda hampir telat memenuhi waktu janjian dengan klien anda, maka anda akan memacu motor atau mobil anda lebih kencang supaya sampai ke lokasi janjian. Apa yang terjadi ketika gas kendaraan anda naikkan? Otomatis sistem karburator akan membuka katup bahan bakar lebih besar untuk mendukung sistem pembakaran menjadi lebih besar, untuk menghasilkan tenaga guna memperoleh kecepatan lebih tinggi. Lalu apa yang terjadi selanjutnya? pasti mesin akan menjadi jauh lebih cepat panas, dan konsumsi bahan bakar juga menjadi lebih banyak. Sistem ini hampir sama dengan sistem manusia ketika marah. Proses respon tubuh itulah yang kemudian dinamai marah. Ini baru marah, belum takut, khawatir, dan lain-lain. Belum juga sistem tubuh yang lain, seperti sistem pencernaan, sistem respirasi atau pernafasan, sistem reproduksi, dan lain-lain yang mana semua memiliki bagian tubuh yang saling bekerja menjadi sebuah sistem tersebut.

Namun emosi bukan tanpa sebab. Sistem pikiran adalah penginput data yang mendorong sistem tubuh kita untuk membentuk emosi tertentu. Sebenarnya sistem pikiran ini terdiri dari intuisi, insting, dan memori. Fungsi memori adalah sebagai daya ingat, fungsi insting adalah sebagai pengontrol kebutuhan dasar yang diperlukan si sistem besar tubuh, dan fungsi intuisi adalah fungsi istimewa yang hanya dimiliki manusia diantara mahluk bumi lain dimana intuisi ini berguna untuk menimbang dan memilih. Sistem pikiran ini mendapat input juga untuk bekerja, dimana input ini adalah sensor, antena, atau radar yang disebut panca indera. Seperti halnya radar, sensor dan antena, fungsi panca indera hanyalah untuk menangkap data. Namun pengolahan data bukan pada si radar, sensor, dan antena tadi bukan? Jika antena televisi anda menangkap signal, apakah signal itu langsung bisa dilihat?Tentunya anda masih membutuhkan televisi untuk mengubah signal tadi menjadi audio visual yang bisa anda nikmati sebagai program televisi. Radar juga sama, hanya menangkap objek. Namun untuk menentukan itu objek apa, analisanya tetap ada pada si operator radar, karena radar tidak dibekali sistem analisa. Demikian juga panca indera manusia. Panca indera hanyalah radar manusia untuk mengenali benda-benda dan peristiwa di sekitarnya. Ketika panca indera, mata contohnya, menangkap sebuah objek, hanya itulah tugas mata. Ia hanya menangkap objek visual semata. Namun ketika sampai di sistem pikiran, data visual itu diolah dalam waktu sepersekian detik menjadi analisa. Contoh : Ketika akan menyeberang jalan, mata melihat ada objek kendaraan lalu lalang di sebuah jalan. Cukup sampai di situlah tugas mata. Ketika objek visual itu ditangkap sistem pikiran, maka yang pertama akan ditarik adalah memori. “Objek itu apa dan sedang apa?” Objek kendaraan yang sedang berjalan. Memori ini bekerja berdasarkan pengalaman yang pernah terekam dalam memori, bahwa benda berbentuk seperti itu adalah kendaraan mobil, jalan seperti itu adalah jalan raya, sampai pada memori jika kita berbenturan dengan objek itu kita akan sakit, bahkan mati. Dalam sepersekian detik, semua data memori keluar dan ditangkap oleh intuisi. Di dalam intuisi inilah kemudian data dan memori itu diolah, lalu menghasilkan pilihan. Jika menyeberang resikonya apa, jika tidak resikonya apa. Dari situlah kemudian pikiran akan menentukan menyeberang sekarang atau nanti. Ketika intuisi kemudian memutuskan untuk menyeberang, maka data menyeberang itu dikirim ke sistem tubuh, sehingga sistem motorik tubuh menerima dan memberi perintah semua organ yang berada dalam satu sistem yang saya untuk bekerja saling dukung saling mempengaruhi. Maka dari situ kemudian muncul lah perintah ke kaki kita : menyeberang sekarang! Namun tidak banyak manusia yang memahami sistem pikiran ini.

Ini adalah bagian dari “aku” yang paling sulit dijelaskan, karena berhubungan dengan pengalaman yang sulit untuk dicari padanannya dalam kata atau kalimat. Namun saya berusaha untuk menjelaskan sepengetahuan saya tentang kesadaran. Bahwasanya kesadaran adalah ‘sebuah “kondisi” diluar tubuh dan pikiran, namun meliputi keduanya. Bingung? Bayangkan sebuah samudera luas dimana kesadaran adalah air samudera. Di dalam samudera terdapat banyak mahluk hidup atau benda mati. Air samudera meliputi seluruh samudera, termasuk mahluk-mahluk di dalamnya. Air laut terpisah dari ikan-ikan, namun ikan-ikan hidup di dalamnya. Walau terpisah, namun air laut juga sekaligus meliputi ikan-ikan yang hidup di dalamnya. Jadi jika dijelaskan akan membingungkan, karena air laut terpisah dari ikan, sekaligus menjadi bagian dari ikan. Saya akan menulis tentang kesadaran ini, dan berusaha menjelaskannya dengan lebih detail dan paling mendekati makna dari kesadaran. Untuk kali ini, cukup anda pahami bahwa kesadaran adalah suatu ruang yang terjadi saat ini juga. Anda bisa merasakan kesadaran saat anda melihat, mendengar, atau merasakan tanpa pertanyaan, analisa, atau bahkan menghakimi. Ketika anda melihat dengan kondisi tersebut, anda akan merasakan kesadaran di tingkat yang paling sederhana.

Ketiga bagian di atas, yakni sistem tubuh, sistem pikiran, dan kesadaran tidak bisa dipisah-pisah untuk merujuk pada jawaban siapa diri kita. Aku yang sebenarnya bukanlah identitas, namun kesadaran. Kesadaran itulah yang mengontrol sistem tubuh dan sistem pikiran. Kesadaran sendiri berlapis-lapis, hingga kesadaran yang paling murni dan dalam, dimana para manusia tercerahkan berkata, “di situlah yang disebut ‘Tuhan’ berada”. Anda tidak akan memahami Tuhan karena Tuhan tidak terdefinisi. Tuhan bukanlah mahluk, bukan materi, bukan non materi, dan bukan semua yang bisa digambarkan manusia. Maka untuk mengetahui Tuhan, anda harus mengetahui diri anda sendiri masing-masing karena saat anda masih merasa ‘aku’ adalah identitas, maka anda hanyalah entitas terpisah dari sebuah sistem besar yang sulit dijelaskan ilmu pengetahuan tercanggih sekalipun.

Bingung kan? pasti!

Anda tidak akan memahami ‘aku’ jika hanya mencoba mengetahui atau membedah siapa aku, karena mengetahui dan membedah siapa aku sebenarnya hanyalah menarik data rekaman memori dari otak kita yang berisi peristiwa di masa lalu. Aku hanyalah rekaman masa lalu yang kemudian menjadi sebuah definisi. Aku yang sebenar-benarnya aku tidak bisa hanya digali, diteliti, dan dipahami dengan ilmu pengetahuan atau logika. Untuk mengetahui ‘aku’ yang sebenar-benarnya ‘aku’, anda harus masuk kedalam ‘aku’ dengan beragam metode-metode yang harus anda jalani, hayati, dan rasakan. ‘Aku’ baru akan terjawab ketika anda bisa merasakan kesadaran yang bukan sistem tubuh dan sistem pikiran, namun meliputi keduanya.

Jadi, memahami aku, tidak bisa hanya dengan ritual yang anda lakukan hanya karena anda takut berdosa, ingin pahala, ingin masuk surga, atau mungkin karena ritual tersebut sudah menjadi bagian dari habit atua kebiasaan anda. Anda harus melepaskan diri dari keterikatan apapun, dan menelusuri sendiri, siapa sejatinya ‘aku’, hingga suatu waktu nanti anda akan mengerti ‘aku’ dan pada akhirnya memahami ‘Tuhan’ itu sendiri..

Subcribe channel Berbagi Cahaya : https://www.youtube.com/user/morningteachannel

Tinggalkan Balasan