Belajar dari Kematian

Sebuah obrolan di rumah seorang sahabat suatu malam di sudut kota Jogja, berisi isu menakutkan bagi sebagian besar manusia. Ditemani aroma uap kopi panas, dan pisang goreng hangat, kami berdiskusi ngalor ngidul tentang isu yang selama ini dihindari hampir setiap manusia.

Mengerikan dan menakutkan adalah kesan yang didapat ketika manusia membicarakan kematian. Padahal kematian hanyalah sebuah proses dari panjangnya perjalanan hidup seorang manusia.

Seorang filsuf India, Jiddu Krishnamurti mengatakan manusia cenderung menghindari pembicaraan tentang kematian. Padahal satu satunya yang pasti dalam hidup adalah kematian. Semakin menghindari pembahasan kematian, maka kematian itu sendiri akan menjadi semakin asing dan ditakuti. Lalu bagaimana mungkin kita akan mengerti tentang kematian jika kita sendiri selalu menghindari pembahasan tentang kematian?

Uniknya seseorang yang tenang menghadapi kematian adalah seseorang yang bahkan sudah mengalami “kematian” itu sendiri dalam hidupnya. Dalam tradisi Jawa, kematian dalam hidup disebut “Patining urip”.
Kematian dalam makna umum adalah kondisi ketika badan materi manusia telah rusak dan tidak bisa lagi digunakan. Badan materi yang penuh sifat-sifat kamanungsan atau kemanusiaan seperti ego, ambisi, iri, dengki, amarah, dan keinginan kemudian ditinggalkan. Dunia yang penuh dengan ilusi tipu daya materi, telah membuat materi murni manusia tercampur aduk dengan sifat-sifat kemanusiaan seperti ambisi, iri, dengki, amarah, dan keinginan. Seorang ulama besar sufi Abu Mansur Al-Hallaj mengatakan, sifat kemanusiaan itulah yang membuat manusia terpisah dari esensi Tuhan yang murni. Patining urip dimaknai sebagai matinya sifat-sifat kemanusiaan, sama persis ketika manusia mengalami kematian yang sebenarnya, lepas dari semua hal berbau duniawi. Dalam berbagai kepercayaan, kematian yang sebenarnya berarti lepasnya jiwa manusia dari raga materi, dan kembali bersatu dengan “kemurnian Tuhan”.. Innalillahi wa innailaihi rojiun…Dari Allah, manusia kembali kepada Allah atau sangkan paraning dumadi dalam istilah Jawa. Dalam berbagai kepercayaan, surga yang sesungguhnya adalah ketika jiwa manusia yang telah murni pulang menyatu kembali kepada Tuhannya.
Patining urip yang disebutkan tradisi Jawa adalah berlatih mati dan memurnikan jiwa, yakni ketika manusia meninggalkan semua yang berbau duniawi dengan segala sifat-sifat kemanusiaannya, agar nantinya siap menghadapi kematian yang sesungguhnya.

Masyarakat Jawa mensinonimkan kematian dengan perjalanan air. Samudera adalah perlambang Tuhan. Manusia adalah titik-titik air samudera yang melakukan perjalanan kehidupan layaknya perjalanan air yang nanti nya akan berakhir kembali ke samudera. Itulah mengapa masyarakat Jawa melakukan labuhan laut, guna mengingat akan kematian, bukan untuk menyembah laut. Agama dan kepercayaan sendiri adalah jalur sungai yang mengarahkan jalan titik-titik air tersebut untuk kembali lagi ke samudera.

Kematian hanyalah meneruskan perjalanan, untuk kembali pulang. Ketika manusia telah bersih dari segala macam kekotoran sifat kamanungsan atau kemanusiaan, maka istilah “pulang” adalah ketika manusia kembali bersatu dengan “kemurnian Tuhan”.

Maka ketika seorang manusia baik meninggal, saya lebih sering menggunakan kalimat selamat pulang kembali. Karena kedukaan hanya milik manusia yang ditinggalkan dalam kehidupan yang penuh kesengsaraan. YM Dalailama menyebut, kematian seorang manusia baik adalah pesta terindah Tuhan yang disediakan untuk manusia-manusia baik yang pulang kembali ke rumah. Maka Rasulullah SAW melarang sanak keluarga yang ditinggalkan untuk larut dalam kesedihan dan air mata. Air mata hanyalah untuk menangisi kehidupan yang penuh angkara, ambisi, ego, amarah, dan segudang sifat kamanungsan yang membuat manusia tidak menyadari indahnya makna Tuhan dibalik kehidupan dan kematian…

Tinggalkan Balasan