Belajar Meditasi Mudah Bagi Pemula 1 : Apa sih Meditasi?

Meditasi?

Barangkali banyak orang yang sudah pernah mendengar kata meditasi, namun tidak paham apa itu meditasi. Pertanyaan yang sering saya dapatkan adalah bagaimana sih cara meditasi?

Ada beragam cara meditasi, namun pertanyaannya mana cara meditasi yang benar? Sebenarnya bisa dikatakan tidak ada cara meditasi yang benar atau salah. Sepanjang pengetahuan saya, meditasi dibagi menjadi tiga cara, tergantung pada tujuan anda bermeditasi.

  1. Meditasi yang bertujuan untuk sekadar relaksasi
  2. Meditasi yang bertujuan untuk penyembuhan penyakit
  3. Meditasi yang bertujuan untuk spiritualitas

Sebelum bermeditasi, anda perlu mengetahui, apa tujuan anda bermeditasi dahulu. Sebenarnya dari ketiganya, tidak ada meditasi yang terbilang lebih mudah atau lebih sulit. Hal ini karena meditasi memang gampang-gampang susah. Walau terlihat lebih mudah, meditasi yang bertujuan untuk relaksasi tetap akan sulit, ketika anda tidak mengerti cara dan penerapannya.

Pikiran Perlu Istirahat

Jadi pada dasarnya, meditasi adalah cara untuk mengistirahatkan pikiran kita. Perilaku manusia, sebenarnya berawal dari olah pikiran, dimana pikiran mendapat input dari panca indera kita. Contohnya : ketika mata melihat matahari terbenam, ia akan memberi input tentang situasi matahari terbenam tersebut. Input kemudian ditangkap oleh pikiran, dimana pikiran manusia berfungsi selain sebagai memori, juga sebagai pengolah data yang berasal dari panca indera. Saat melihat peristiwa matahari yang terbenam di ufuk barat dengan warna jingga, pikiran akan mengolah data tersebut dan memilah pada dua kesimpulan yakni indah atau tidak indah. Indah dan tidak indah, adalah sebuah kondisi yang dikelompokkan oleh manusia sesuai dengan kesepakatan semenjak ribuan tahun silam. Indah dan tidak indah adalah deskripsi bahasa untuk merujuk pada apa yang ingin disampaikan otak atau pikiran kepada orang lain dalam bentuk bahasa. Hal ini sama dengan bagus jelek, tinggi rendah, jauh dekat, warna, bentuk, dan lain-lain. Dalam agama, hal ini disebut sebagai dualitas pikiran, yakni pemilah-milahan yang sebenarnya awalnya berfungsi sebagai pembeda untuk membahasakan sesuatu agar dimengerti orang lain.

Pada dasarnya, otak manusia berfungsi sebagai memori semata. Tanpa ada otak, anda tidak akan bisa ingat nama anda, alamat rumah anda, atau bahkan istri/ suami anda. Namun otak juga berfungsi menghasilkan pikiran sebagai pengolah data, yang berfungsi untuk menentukan tindakan manusia. Ketika fungsi pengolah data ini digunakan untuk hal positif, misalnya ilmu pengetahuan, maka hasil yang didapatkan akan menjadi positif yakni ilmu pengetahuan yang berguna bagi kemajuan peradaban manusia.

Namun, manusia lebih sering “overdosis” dalam menggunakan pikiran, yang tadinya hanya diperuntukkan bagi analisa data semata. Analisa tersebut kemudian tidak hanya digunakan bagi ilmu pengetahuan dan pembelajaran, namun semua yang tertangkap panca indera dalam sepanjang hari kehidupan manusia pun ikut dianalisa. Dualitas di atas juga memperparah analisa yang dilakukan pikiran anda. Akibatnya timbul rasa iri, dengki, sombong, marah, dan emosi-emosi negatif lain ketika analisa tersebut terhubung dengan dualitas. Ketika anda merasa lebih gagal dan orang lain anda anggap berhasil, maka anda akan menjadi iri, berlanjut emosi, lalu membenci. Padahal gagal dan berhasil, tidak memiliki patokan yang baku, alias tergantung dari sudut mana anda memandang. Orang yang anda anggap berhasil, mungkin memiliki karier yang lebih cemerlang dibanding anda. Namun tanpa anda tahu, karier itu ia dapatkan dengan mengorbankan waktu bersama keluarganya yang sangat sedikit, sehingga kehidupan rumah tangganya tidak terlalu menyenangkan seperti kehidupan keluarga anda. Mungkin anda yang tidak seberhasil dia dalam karier, lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama keluarga anda, sehingga karier anda di kantor pun berjalan apa adanya.

Dualitas pikiran (Sumber : Pixabay)

Demikianlah hasil dari pikiran dan dualitas ketika bertemu. Dualitas dalam arti sebenarnya tidak ada. Pemilahan tersebut hanya kebutuhan bahasa semata, dan bukan pemilahan yang sebenarnya. Apakah yang pendek benar-benar pendek?Belum tentu..Mungkin ada yang lebih pendek lagi, namun kita tidak tahu. Demikian pula yang tinggi belum tentu benar-benar tinggi jika ada orang yang lebih tinggi. Hal itu juga berlaku kepada lambat, cepat, miskin, kaya, sukses, gagal, dan dualitas-dualitas lainnya.

Hidup hanya Saat Ini Saja!

Selain dualitas, pikiran yang “overdosis” juga kerap melupakan waktu, bahwa hidup kita sebenarnya hanyalah saat ini. Kemarin sudah selesai, bahkan sedetik lalu sudah menjadi masa lalu yang telah selesai kita jalani. Masa depan juga sama, merupakan masa yang belum datang. Semua masih mungkin terjadi di masa depan. Seringkali pikiran menjebak kita pada masa lalu yang menimbulkan trauma, dan masa depan yang menimbulkan ketakutan. Sakit hati, kekecewaan, merasa gagal, merasa berdosa, merasa disakiti di masa lalu, menjadi racun bagi kehidupan anda yang hanya terjadi di saat ini saja. Padahal hal-hal tersebut sudah tidak ada lagi sekarang. Kekecewaan dan lain-lain tersebut sudah terjadi di masa lalu, lalu mengapa anda masih bawa sampai sekarang?Mungkin saja orang yang menyakiti anda dan mengecewakan anda tersebut, sudah menyesali perbuatannya dan sudah berubah menjadi orang yang berbeda saat ini. Namun kebanyakan manusia tidak bisa memaafkan, akibat racun dari pikiran yang terus memunculkan memori yang tersimpan di otak dari masa lalu. Saya mengibaratkan hal ini seperti berikut. Suatu minggu, anda dan keluarga anda berwisata ke pantai yang indah. Pada saat wisata itu, anda merekam semua momen yang indah tersebut dengan kamera video anda. Lalu seminggupun berlalu..Di minggu selanjutnya, anda ingin kembali mengingat saat-saat indah berwisata tersebut, karena minggu itu anda tidak bisa lagi berwisata karena kesibukan anda dan keluarga. Lalu anda pergi ke komputer anda, dan memutar rekaman video yang anda rekam saat berwisata minggu lalu. Anda pun terhanyut dalam kebahagiaan minggu lalu. Namun apakah ketika anda melihat video yang anda putar tersebut, anda sedang berwisata di tempat yang sama?Tidak…Anda sedang didepan layar komputer dan hanya melihatnya saja dan merasakan kebahagiaan minggu lalu yang terbawa hingga saat ini. Pantainya tidak ada, momennya tidak anda, dan semua aktifitasnya tidak ada…Hanya ada di layar komputer saja.

Masa lalu seperti film yang kita putar ulang (Sumber : Pixabay)

Begitulah cara pikiran bekerja untuk memunculkan masa lalu. Pikiran seperti kamera video yang merekam peristiwa indah atau buruk. Lalu ketika anda masih terus mengingatnya, maka pikiran itu akan memunculkan memori yang disimpannya, seperti komputer yang kembali memutar video wisata tadi. Kebanyakan kita terhanyut pada kebahagiaan atau kesedihannya, padahal jika kita sadar, semua hanyalah di layar monitor semata. Kejadian tersebut telah selesai, dan anda saat ini sudah berbeda dengan anda di masa lalu. Ketika anda masih ingin hidup di masa lalu, sama seperti ketika anda memutar rekaman video tadi di komputer, dan masih merasakan kebahagiaan di masa lalu. Ketika rekaman tersebut berisi kebahagiaan, maka anda akan bahagia. Namun ketika rekaman tersebut berisi kesedihan atau kekecewaan, maka rasa itupun akan terbawa ke masa sekarang, ketika anda hanya memutar peristiwa tersebut di dalam pikiran anda.

Hal di atas juga berlaku bagi masa depan yang belum datang. Bedanya, masa depan akan cenderung memunculkan ketakutan pada diri anda. Ketakutan apa?Takut miskin, takut tidak bisa makan, takut tidak naik pangkat, takut gaji anda kurang, takut akan kematian, takut sakit, dan takut-takut tidak beralasan lain. Mengapa tidak beralasan? Karena masa depan belum terjadi! Lho tapi kan kita harus mengantisipasi masa depan?Betul…Kita harus mengantisipasi masa depan dengan hidup di saat ini. Namun anda tidak perlu dibebani dengan ketakutan. Percayalah, hidup ini berlangsung karena sebab dan akibat. Anda akan gagal di masa depan dan menjadi miskin, jika saat ini anda hanya tidur-tiduran, dan malas-malasan di kantor. Anda akan sakit, jika saat ini anda hidup serampangan dan tidak sehat, makan-makanan yang menyebabkan penyakit, serta mengumbar pikiran negatif yang tidak perlu. Kematian?Sadarkan anda kita semua akan mati? Buat apa anda takut mati, jika kematian itu suatu hal yang pasti, namun kita tidak pernah tahu kapan waktu kita mati. Jika begitu, hiduplah dengan kebaikan, tanam kebajikan, banyak memberi kepada sesama, menyayangi semua mahluk, sehingga semua kebajikan tersebut akan menjadi bekal anda jika maut menjemput anda. Anda takut mati besok?Mati besok atau seratus tahun lagi sama saja, jika anda tidak memulai sebuah kebajikan. Jadi buat apa takut kematian, jika anda menyadari bahwa saat inilah hidup anda gunakan dengan sebaik-baiknya untuk kebajikan. Jika anda menyadari kematian tanpa merasa takut, maka harusnya setiap detik di saat ini menjadi sangat berharga untuk anda berbuat kebajikan semampu anda. Bahkan tersenyum kepada orang lain atau mengelus kucing anda dengan kasih sayang adalah sebuah kebajikan.

Hidup hanya di saat ini saja, itulah kuncinya. Masa lalu sudah selesai dan tidak ada, hanya tinggal peristiwa yang terekam di memori otak anda. Masa depan juga belum terjadi. Itulah mengapa, Albert Einstein, dan diamini oleh sebuah film berjudul Intestellar yang disutradari oleh seorang jenius bernama Christopher Nolan, menyatakan jika mesin waktu yang bisa dikendarai manusia secara fisik ke masa lalu, atau masa depan tidak pernah akan tercipta. Hal ini karena waktu berjalan secara linier, namun tidak bisa mundur ke belakang atau maju ke depan. Berjalan linier disini adalah bahwa dunia kita ini bukan satu-satunya dunia, namun ada dunia dengan dimensi berbeda dengan dimensi dunia kehidupan manusia di dunia ini. Sehingga secara ilmu pengetahuan dan spiritual, manusia hanya bisa menjelajahi dunia dengan dimensi berbeda ini, dan bukan menjelajahi masa lalu atau masa depan.

Di sinilah meditasi dengan tujuan ketiga di atas, yakni spiritual dilakukan manusia. Tidak dipungkiri, meditasi tingkat tinggi inilah yang “katanya orang yang pernah mencapai”, akan menyibak apa yang disebut manusia dengan “Tuhan”. “Tuhan” sendiri dikatakan oleh para manusia tercerahkan ini, tidak ada dalam dimensi, ruang, dan waktu. Hal inilah yang disebut “kekosongan”, yang akan saya ceritakan di lain tulisan. Sekarang kita hanya akan membahas apa itu meditasi….

Baca juga : Belajar Meditasi Bagi Pemula 2 : Sistem Pola Kerja Pikiran dan Tindakan Anda

Tinggalkan Balasan