Bersosialisasi dengan Bijak

Sore itu, di sebuah sesi meditasi online yang membahas sebuah buku karya seorang bikkhu asal Korea Selatan, Haemin Sunim, banyak peserta yang bertanya tentang bagaimana mengatasi kebencian, bagaimana melupakan seseorang yang telah menyakiti hati kita, bagaimana supaya tidak hanyut dalam trend, bagaimana cara mengatasi pandangan buruk orang terhadap diri kita, dan bagaimana cara untuk menghadapi berbagai persoalan kehidupan terkait hubungan dengan manusia lain.

Bagi orang-orang yang tidak mengenal meditasi, semua masalah begitu kompleks dan sulit untuk diatasi. Seolah-olah kita harus memiliki banyak cara dan trik untuk mengatasi segala macam permasalahan kehidupan.

Namun semakin lama saya mendengar dan renungkan, semakin jelas jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu. Intinya adalah kembali kepada bagaimana meredam pikiran kita, mengenali jati diri kita, dan cara penerimaan atas segala hal.

Ketika pikiran kita masih mendominasi diri kita, maka semuanya akan masuk ke dalam pikiran kita dan membuat kita gelisah serta takut akan sesuatu yang tidak nyata. Pikiran yang selalu menimbang atau menganalisa segala hal, melakukan penghakiman benar salah atau baik buruk, memunculkan memori masa lalu yang justru selalu ingin kita hindari, dan memunculkan ego pembenaran bahwa diri kita lebih benar dibanding orang lain. Hal-hal tersebut memicu munculnya reaksi biologis yang disebut dengan emosi, dan jika emosi kemudian membesar dan meledak, yang muncul kemudian adalah tindakan pelampiasan emosi diri kita. Memaafkan orang lain sangat sulit, namun akan lebih sulit memaafkan diri kita sendiri, ketika diri kita selalu dipengaruhi memori pikiran akan kesalahan kita atau kesalahan orang lain kepada kita di masa lalu. Namun ketika pikiran kita amati yang lantas membuat pikiran menjadi lebih tenang dan diam, maka anda hanya akan menyadari jika semuanya hanyalah permainan pikiran anda sendiri. Hidup hanya di saat ini saja, bukan di masa lalu atau masa depan. Itulah mengapa sesungguhnya kehidupan selalu baru, ketika kita sadar bahwa hidup hanyalah saat ini. Memori hanyalah data masa lalu yang terekam, dan sudah berlalu. Saat ini, hanyalah saat ini.

Mengenali diri kita juga penting, karena ketika kita bicara diri kita, yang selalu diketahui banyak orang adalah identitas kita. (Baca : https://berbagicahaya.com/2118-2-siapa-aku/)

Terakhir adalah penerimaan akan segala hal. Memberontak dan melawan terhadap hal yang menurut kita tidak layak kita dapatkan, hanya akan membuat energi kita terkuras dan berakhir dalam kelelahan. Memberontak seperti melawan arus deras yang jutru akan membuat kita tenggelam. Lalu apakah kita hanya pasrah menerima saja, tanpa aksi apa-apa? Tidak juga. Ketika anda menerima segala sesuatu, dan melihat cara kerja hukum Tuhan atau hukum alam adalah sebab akibat dan menanam memanen perbuatan maupun prasangka, maka anda akan tahu tindakan apa yang harus anda lakukan untuk membela diri. Apakah sebuah tindakan berlebihan yang justru akan merugikan anda, atau atau sebuah tindakan terukur dan berhati-hati akan konsekuensi yang nanti akan anda dapatkan, sebagai resiko dari ‘menanam’ perbuatan? Tidak ada menanam perbuatan tanpa memanen, dan tidak ada panen tanpa ada perbuatan yang anda tanam. Dan hukum Tuhan begitu bijak untuk mengatur siapa menanam dan apa yang ditanam, serta apa yang kemudian akan dipanen…

Tinggalkan Balasan