Bubur Ayam Kang Asep

Kang Asep namanya…

Ia adalah penjual bubur ayam di kawasan Bantulan, Sleman, Yogyakarta. Mengapa saya menulis tentang kang Asep? Karena ia saya anggap guru saya, walaupun ia selalu menganggap saya adalah inspirasi baginya.

Setiap pagi, pria asal Tasikmalaya yang merantau bersama keluarganya ke Yogyakarta ini, berjualan bubur ayam di gerobag sederhananya. Uniknya dari berjualan bubur ayam, ia menghidupi ketiga putrinya dan adik perempuannya yang kini berkuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Hebat? iya…Bukan karena untung dari bubur ayam yang tidak seberapa, namun bisa menyekolahkan anak dan adiknya hingga jenjang tertinggi, namun kang Asep mengajarkan kepada saya tentang memberi dengan ikhlas.

Kang Asep sedang meracik bubur ayam

Bubur ayam kang Asep, termasuk salah satu bubur ayam yang rasanya enak menurut saya. Itulah mengapa saya selalu berlangganan sarapan di gerobag sederhananya. Kang Asep orang yang hangat dan ramah kepada pelanggan. Ia tak segan-segan menawarkan kepada pelanggan, apakah porsi bubur yang di raciknya kurang banyak atau cukup. Ketika pelanggan merasa kurang, tak segan-segan ia menambahkan porsi bubur ayamnya. Keramahan dan keikhlasan membuat bubur ayam kang Asep hampir selalu ramai dikunjungi pelanggan.

Tiap pagi, ketika waktu senggang, saya selalu menyempatkan diri sarapan di tempat kang Asep. Sambil melayani pelanggan, ia sangat suka bercerita tentang apapun kepada saya.  Kadang tak segan, ia menceritakan masalah yang ia hadapi kepada saya. Obrolan kami selalu menjadi hangat saat saya, dengan pengetahuan terbatas yang saya punya dan pengalaman hidup yang saya hadapi, bertukar pikiran dengan kang Asep. Dan saya senang ketika pengalaman saya menjadi inspirasi baru bagi kang Asep. Itulah mengapa saya selalu ditahan untuk tetap berlama-lama berbincang ketika saya harus pamit. “Lain kali, ngobrol lebih lama ya mas…jangan buru-buru pulang….”Katanya dengan riang.  

Kang Asep, adalah seorang yang sederhana, namun jujur. Ketika saya selesai makan dan memesan porsi untuk dibungkus, ia selalu tidak pernah mau di bayar.  Saya tidak boleh menutup kesempatannya untuk berbuat baik, katanya. Ketika ia sudah mengutarakan itu, saya pun tidak enak untuk membayar. Mungkin bagi banyak orang, apa yang dilakukan kang Asep kepada saya justru akan dimanfaatkan untuk mendapat bubur ayam gratis. Kadang saya pesan satu porsi dibungkus, malah sama kang Asep diberi dua porsi dan semua gratis!

 Saya sampai bilang, “kang Asep dapat untung dari mana kalau saya terus dikasih bubur gratis?”.

“Rejeki tidak pernah melihat kita memberi atau tidak mas…Kalau Allah menghendaki saya diberi rejeki, saya memberi atau tidak memberipun rejeki akan datang…” Katanya.

Hebat kang…dalam hati saya. Bahkan kadang, saya masih berpikir ketika saya memberi. Kadang masih ada ketakutan rejeki saya berkurang. Saya sadar, dengan rejeki yang tidak banyak dibanding orang-orang bermobil yang lewat di jalan depan gerobag kang Asep pun,  kang Asep masih mau memberi, mengapa kita yang memiliki rejeki berupa uang lebih banyak takut ketika memberi? Kang Asep tidak takut, dengan memberi rejekinya yang tidak seberapa akan berkurang. Selain itu kang Asep selalu tertib dengan uang kembalian. Ketika uang saya kembali 500 rupiah pun, ia harus memberikan hak saya. Ketika saya bilang, “Bawa aja kang…cuma lima ratus juga…”.

“Jangan mas…nanti saya ditagih sama Tuhan kalau tidak saya kembalikan….”Katanya.

Bahkan masalah kembalian ini cukup lucu. Suatu pagi, kang Asep tidak punya uang kembalian. Kok ya kebetulan, pelanggan yang beli bubur uangnya pecahan besar semua. Apa yang dilakukan kang Asep?

“Bawa aja buburnya…kapan-kapan aja dibayar…”katanya

Dan itu tidak hanya kepada satu pelanggan, saya hitung lebih dari lima pelanggan pagi itu.

Kang Asep yang selalu tidak mau dibayar ketika saya pesan bubur untuk dibawa pulang, membuat saya berpikir. Kalau saya tolak, ia akan memaksa untuk tidak dibayar, namun jika saya terima, masa iya saya selalu dikasih bubur gratis? Saya orang yang tahu diri pastinya.

Akhirnya saya punya akal. Satu-satunya jualan yang kadang lupa dihitung oleh kang Asep adalah sate usus, sate kulit, dan sate ati ayam yang menjadi jualan tambahan di gerobak buburnya. Untuk membalas kebaikan kang Asep tanpa diketahui oleh kang Asep, saya selalu menambah jumlah fiktif sate yang saya makan untuk dihitung. Jika saya makan satu, saya akan bilang saya ambil dua atau tiga sate. Dan seterusnya….

Berhasil! Sampe hari ini, kang Asep tidak pernah tahu, saya selalu berbohong tentang jumlah sate yang saya makan. Ia selalu menghitung sesuai jumlah yang saya laporkan.

Begitulah cara saya membalas kebaikan kang Asep…

Semoga hidup kang Asep dan keluarga selalu bahagia ya kang……..

Tinggalkan Balasan