Berdagang dengan Tuhan

Beramal tidak harus dengan uang. Banyak hal yang bisa anda sumbangkan kepada orang lain. Keterampilan, tulisan, barang kebutuhan, atau bahkan hanya sebaris doa yang baik. Seorang sahabat pernah berkata, “Ketika seorang pengangguran anda kasih uang, uang itu akan habis dalam hitungan hari, bahkan jam….Namun jika anda memberinya keterampilan, maka anda sudah memberinya nasi seumur hidupnya…”

Suatu hari, seorang ibu tua mendatangi kafe tempat saya sedang menikmati secangkir kopi. Ibu itu menengadahkan tangannya, sembari memohon untuk diberi uang. Lalu sayapun merogoh saku celana dan menemukan sejumlah uang yang kemudian saya kasih ke ibu tua itu. Selang satu dua hari kemudian, ibu tua itu datang lagi ke kafe. Kebetulan saya juga sedang ngopi di tempat yang sama. Ibu itu kembali menegadahkan tangan untuk meminta uang. Sayapun kembali merogoh saku celana, dan menemukan sejumlah uang yang saya berikan lagi ke ibu tua itu. Tak lama, seorang teman yang kebetulan juga sering nongrong di kafe tempat saya ngopi nyeletuk, “Ngasihnya jangan banyak-banyak…nanti tiap hari dia datang minta uang…”Kata teman saya mencoba menasehati saya.

Saya hanya tersenyum mendengar komentarnya. Saya hanya membayangkan, bagaimana jika si ibu itu adalah ibu saya, atau bagaimana jika ia sengaja dikirim untuk menguji saya. Bagi saya uang juga salah satu bentuk kecil dari rejeki yang dititipkan kepada saya, dan pasti bukan milik saya. Ada hak orang lain di situ. Saya juga memberi bukan untuk mencari surga atau takut neraka kok…Bagi saya, kewajiban sesama manusia adalah membuat manusia lain bahagia…kalau tidak bisa minimal jangan menyakiti orang lain. Bagi saya dan ibu itu, nominal uang berbanding dengan kebutuhan berbeda. Bagi saya, uang 15 ribu hanya saya belikan rokok. Namun bagi ibu itu, mungkin uang 15 ribu bisa membantunya membeli sebungkus nasi sekadar untuk meredakan rasa lapar. Saya tidak pernah mempedulikan buat apa uang yang semampu saya, saya kasih ke orang lain. Kalau buat kebaikan, saya senang, ataupun kalau uang itu untuk keburukan pun saya tidak peduli. Bagi saya, tugas saya sebagai manusia telah saya laksanakan. Dan bagi orang yang saya kasih, tugasnya baru mulai. Kalaupun ia menggunakannya untuk hal negatif, itu urusan dia dengan Tuhannya. Namun jika ia menggunakannya untuk hal berguna, artinya ia mendapat berkah yang jalannya dipilih Tuhan melalui tangan saya. Bagi saya, apapun yang mampu saya berikan, itulah tugas saya hidup di dunia.

Tinggalkan Balasan