Bulan Suro dan Konsep Ketuhanan Jawa

Seorang kawan berkata, “Ini malam satu Suro lho…nanti malam hati-hati kalau pulang malam. Banyak dhemit (hantu) berkeliaran…”

Satu Suro, selalu berada dalam stigma mistis di tengah masyarakat. Saya dahulu juga begitu. Sebagai orang asli Yogyakarta, saya memiliki pandangan jika bulan Suro adalah bulan mistis yang penuh dhemit. Film-film horor Indonesia juga mengamini dan menguatkan stigma itu.

Namun setelah saya mulai meniti jalan spiritual, stigma mistis bulan Suro pun berubah menjadi kekaguman kepada tradisi dan keagungan budaya Jawa. Saya lantas menyebut bulan Suro sebagai bulan suci, bukan lagi bulan mistis. Inilah bulan “Ramadhan” nya orang Jawa. Suro yang merupakan bulan pertama dari kalender Jawa yang dibuat Sultan Agung, Sultan Mataram ke-3, adalah bulan dimana leluhur Jawa mengajarkan untuk meninggalkan segala kegiatan duniawi, dan memperbanyak laku spiritual mengingat Gusti Pengeran, sebutan Tuhan dalam tradisi Jawa. Bulan Suro, merupakan bulan dimana pantang bagi masyarakat Jawa untuk berpesta pora, dan lebih spesifiknya mengumbar nafsu duniawi.

Di bulan ini pula, digelar banyak tradisi penyucian atau pembersihan, seperti jamasan kereta pusaka, jamasan keris pusaka, hingga tradisi Nguras Enceh (gentong) di makam raja-raja Imogiri Bantul. Pada malam satu Suro sendiri, banyak masyarakat yang melaksanakan ritual samadhi di pantai Parangkusumo, Bantul. Selain itu, terdapat tradisi yang cukup popular di kalangan masyarakat Yogyakarta dan Surakarta, dimana masyarakat melaksanakan tradisi budaya Laku Lampah Ratri Mubeng Beteng. Tradisi ini diikuti ribuan masyarakat dengan cara berjalan dan bermeditasi, mengelilingi benteng keraton dalam kondisi diam. Tradisi ini mengajak masyarakat untuk mengintrospeksi diri masing-masing, kekurangan hingga seberapa jauh masing-masing dari kita telah memahami esensi hidup dan kehidupan.

Mistisisme Jawa, yang dalam sejarah menempati porsi terbesar dari keyakinan Ketuhanan Jawa, menempatkan Tuhan dalam pandangan berbeda di tengah masyarakat Jawa. Walau Islam kemudian masuk ke tanah Jawa, namun pemahaman ajaran tassawuf yang hampir mirip dengan konsep ketuhanan Jawa kuno, membuat Islam dengan mudah diterima masyarakat Jawa. Inilah mengapa, akulturasi budaya dan spiritual begitu kental di masyarakat Jawa. Konsep “Manunggaling Kawulo Gusti”, bahkan telah dikenal jauh sejak sebelum ajaran Tassawuf Islam masuk. Keyakinan Tuhan jumbuh (melebur) dalam diri manusia, merupakan konsep tertinggi dalam berbagai agama dan kepercayaan di dunia. Konsep ini tidak mudah dipahamkan dan dipahami oleh orang awam, selain masing-masing manusia harus menjalani “laku” nya sendiri-sendiri. Tuhan dalam konsep ketuhanan Jawa adalah konsep Tuhan personal, sehingga masyarakat Jawa sendiri hanya mengenal kepercayaan, dan bukan agama. Laku yang dimaksud di atas adalah sebuah proses panjang, tidak hanya ritual, namun juga revolusi batin untuk mencari hakekat hidup dan kehidupan. Ketika laku telah dijalankan dengan benar, maka “Tuhan” dalam pandangan masyarakat Jawa akan mewujud dalam konsep “Tan Keno Kinoyo Ngopo” atau tidak bisa dijelaskan dan digambarkan. Hal ini terkait kepercayaan Jawa dimana Tuhan bukanlah mewujud dalam materi, yang dapat bertindak layaknya mahluk atau manusia. Tuhan adalah sumber kehidupan yang welas asih, dan “diwujudkan” dalam sifat agar manusia dapat mengenali. Tuhan dalam kepercayaan Jawa bukanlah Tuhan yang gemar menyiksa ketika manusia tidak menurut aturan-aturan yang telah dibuat Tuhan melalui kitab suci, yang konon dipercaya sebagai perkataan Tuhan sendiri. Bagaimana Tuhan dapat “berkata” jika Tuhan bukan materi atau mahluk? Manusia dapat memahami eksistensi Tuhan, ketika manusia telah melakukan langkah dan laku, meniti jalan untuk “ngonceki” (mengupas). Ngonceki atau mengupas ini merupakan istilah yang digunakan masyarakat Jawa, untuk menjelaskan perjalanan laku spiritual mencari esensi ketuhanan.

Konsep Manunggaling Kawulo Gusti, sekali lagi mempercayai bahwa Tuhan melebur dalam diri setiap manusia. Namun eksistensi Tuhan, tertutup oleh sifat-sifat kamanungsan atau kemanusiaan manusia sendiri. Agar manusia dapat meraih eksistensi ketuhanan, maka manusia diharuskan menanggalkan sifat-sifat kamanungsan, seperti ego, amarah, iri hati, dengki, dan sebagainya. Satu persatu sifat itu harus di onceki atau dikupas hingga tuntas. Itulah mengapa masyarakat Jawa mengibaratkan perjalanan spiritual memahami eksistensi ketuhanan ini, dengan mengupas buah kelapa. Satu persatu dari mulai kulit, sabut, batok kelapa, bahkan daging kelapa sendiri harus dikupas untuk mendapatkan tirta suci berupa air kelapa. Saat manusia telah tuntas ngonceki sifat-sifat kamanungsan, maka barulah manusia akan bertemu dengan eksistensi kesejatian Tuhan.

Seperti juga dalam konsep Islam yang memandang kehidupan sebagai “Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun”, di Jawa dikenal dengan istilah “Sangkan Paraning Dumadi”. Setiap kehidupan berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Dengan indah, masyarakat Jawa mengibaratkan kehidupan seperti perjalanan air, dimana Tuhan diibaratkan sebagai samudera, dan manusia adalah titik-titik air. Titik-titik air mengalami perjalanan panjang dari samudera, dan akan kembali lagi ke samudera. Agama dalam masyarakat Jawa dikonotasikan sebagai sungai-sungai kecil yang menjadi jalan bagi titik-titik air menuju samudera. Banyaknya kepercayaan atau agama, yang diibaratkan sebagai sungai kecil, tidak akan berujung langsung ke samudera. Sungai-sungai kecil tersebut, di ujungnya akan bertemu di satu sungai besar, yang akan membawa titik-titik air tersebut menuju samudera. Hal ini bermakna bahwa semua ajaran agama, memiliki akar yang sama, yakni kebaikan. Ketika manusia masih awam dengan agama, maka manusia diibaratkan masih berada di sungai kecil, dimana manusia masih diharuskan menjalani ritual-ritual dan menaati aturan-aturan agama. Namun ketika laku manusia dalam ritual dan menaati aturan tersebut dilakukan dengan pemahaman yang benar, maka manusia akan menjumpai sebuah pemahaman besar yang melampaui konsep agama tentang esensi Tuhan yang sejati. Itulah konsep sungai besar yang dimaksud, bahwa jika seorang berasal dari agama A, B, C, D, maka konsep agama A, B, C, D itu akan lebur dalam sebuah konsep besar, yakni konsep kesejatian Tuhan. Namun jika manusia tidak benar dalam menjalankan laku ritual agama, maka selamanya manusia akan terjebak di sungai kecil dan tidak akan sampai ke sungai besar, dimana sungai besarlah yang akan langsung membawa manusia menuju Tuhan Sang Pencipta Alam.

Maka ketika masyarakat Jawa mengatakan bahwa agama adalah “ageman” atau pakaian, hal ini dimaksudkan bahwa agama hanyalah petunjuk hidup manusia. Agar dapat hidup bermasyarakat dengan baik, diperlukan ageman atau pakaian. Tanpa pakaian, manusia tidak akan bisa hidup bermasyarakat dengan baik. Seperti halnya pakaian, agama juga hanya dipakai saat manusia menjalani kehidupan saja. Ketika datang ke dunia, manusia tidak membawa pakaian. Demikian pula ketika kematian tiba, pakaian itupun akan ditinggalkan. Hal ini dimenegaskan bahwa dalam pandangan masyarakat Jawa, agama hanya dipakai untuk pedoman hidup membentuk manusia-manusia berperilaku baik. Ketika kematian tiba, hanya amal baiklah, dan bukan agama, yang dibawa sebagai bekal manusia menjalani kehidupan setelah kematian.

Konsep inilah yang membuat masyarakat Jawa mengadakan berbagai ritual di laut, seperti melakukan samadhi atau meditasi, hingga labuhan laut. Samudera mengingatkan manusia akan tujuan perjalanan manusia setelah kehidupan purna, yakni sangkan paraning dumadi. Ketika labuhan laut, masyarakat Jawa juga melarung berbagai benda duniawi, yang dimaksudkan sebagai simbolisasi pelepasan materi dunia yang fana, yang harus “dionceki”, sebagai syarat agar manusia dapat menjalani laku mencari esensi hidup, kehidupan, dan ketuhanan itu sendiri, demi meraih kondisi “Manunggaling Kawulo Gusti”. Namun sayang, dangkalnya pemahaman manusia-manusia yang masih berada di sungai kecil (seperti dijelaskan di atas) dan ketidaktahuan, menciptakan stigma-stigma negatif terkait kepercayaan Jawa. Masyarakat Jawa dituduh musyrik dengan menyembah laut, pohon, atau bahkan mengaku dirinya Tuhan. Padahal semua stigma tersebut justru tersemat oleh manusia-manusia yang masih dangkal pemahaman, dan konsepsi ketuhanannya. Stigma inipun rata-rata dibiarkan berlalu oleh masyarakat Jawa, karena dalam kepercayaan Jawa, semakin tinggi dan matang tingkat pengetahuan manusia, maka ia akan seperti padi. Semakin matang tanaman padi, maka buahnya akan semakin menunduk. Tidak ada yang perlu diklarifikasi oleh masyarakat Jawa mengenai kepercayaannya akan konsepsi ketuhanan. Tingginya konsep ketuhanan Jawa, tidak akan bisa dijelaskan dalam perkataan kepada masyarakat awam yang tingkat pemahaman agamanya masih sebatas menjalankan aturan-aturan agama dengan membabi buta. Hal ini karena tingkat kematangan dan kebijaksanaan seseorang dalam memahami kehidupan, hanya bisa diraih dengan lelaku atau konsep “ngonceki” (mengupas).

Ketika bulan Suro dianggap suci oleh masyarakat Jawa karena dipercaya sebagai bulan perenungan diri, untuk mencari esensi hidup, kehidupan, dan ketuhanan, lagi-lagi hal ini tidak akan dipahami oleh manusia yang masih berada di sungai kecil dan sekadar menjalankan aturan-aturan agama tanpa menggali esensi kedalaman ajaran agama yang bermuara untuk membentuk pribadi manusia yang baik. Ketika bulan Suro dianggap sebagai bulan mistis dan penuh ritual-ritual yang dianggap musyrik, manusia Jawa yang telah matang dalam pengetahuan tentang esensi hidup, kehidupan, dan ketuhanan lagi-lagi tidak perlu menjelaskan dengan susah payah kepada manusia-manusia dengan tingat pemahaman ketuhanan yang masih berada di level lebih rendah. Hal ini karena konsep Tuhan sebagai “tan keno kinoyo ngopo” tidak bisa dijelaskan dan dalam bahasa apapun. Manusia harus menjalankan laku, dan menggali esensinya. Hidup adalah sebuah perjalanan titik air, dari samudera dan akan kembali lagi ke samudera. Dan bulan Suro, bagi masyarakat Jawa merupakan bulan yang digunakan untuk mengintrospeksi diri guna meraih kebijaksanaan tertinggi. Tidak ada waktu menghakimi dan menilai orang lain, bagi seorang manusia yang telah mengerti esensi hidup, kehidupan, dan Tuhan yang “tan keno kinoyo ngopo”.

Tinggalkan Balasan