Daily

Peringainya yang cantik sanggup membisukan puluhan laki-laki, rambutnya yang bergelombang sanggup menyatukan dua jiwa yang jauh, matanya yang takjub mampu menyinari perasaan yang kosong karena ulah manusia. Tapi kenapa Daily sore ini gelisah di ujung senja?

Seminggu lalu Daily tersentak oleh undangan pernikahan sahabatnya. Ia merasa bahwa ada yang janggal dengan ketetapan Allah. Daily berpikir bahwa Allah sudah memberikan ketidakadilan, sebab Erlin teman Daily SMA ini boleh dikatakan jarang ibadah, cantik juga tidak terlalu, tinggi badannya hanya 150, berbanding terbalik dengan Daily yang mempunyai wajah cantik, tinggi semampai dan rajin beribadah. Tapi kenapa Daily sampai saat ini belum menikah?

Daily datang ke pesta perkawinan Erlin. Dengan hati yang iri ia mencoba menyelamati Erlin dengan sedikit menyinggung.

“Laku juga kamu Lin?” kata Daily dengan nada sinis.

Erlin hanya tersenyum simpul mendengar “pujian” sekaligus sindiran Daily.

Yang lebih membuat Daily semakin iri adalah, suami Erlin tergolong laki-laki gagah dan ganteng. Jauh dengan Erlin yang hanya segitu-gitu saja pikir Daily.

Daily duduk di sudut gedung pernikahan, dia sibuk mengamati Erlin dari jauh.

“Kenapa Erlin beruntung sekali?” pikir Daily.

Semakin emosi Daily disitu, maka akan semakin banyak dosa yang dibikinnya.

###

Malamnya Daily masih terbayang-bayang kenapa Erlin seberuntung itu. Daily mulai sinis, emosi dan dengki terhadap kawan SMA nya itu, sebab tadi di pesta hampir semua kawannya membawa pasangannya. Hanya Daily saja yang masih setia dengan diri sendiri.

Dia mencoba bertanya kepada semua Ustad dan Ustadzah kenapa dia belum mendapatkkan jodoh. Dan semuanya mengatakan “Sabar! Itu rahasia Allah!” Daily sedikit kecewa, dalam hatinya berkata “Iya!” Kalau cuma sabar aku juga tahu harus sabar. Tapi aku butuh jawaban kongkrit, jelas! Dan masuk akal!

Perenungan demi perenungan ia lalui setiap harinya. Ia belum menemukan titik temu masalahnya. Ia baca beberapa buku tentang agama juga jawabannya sama saja mengatakan bahwa jodoh, rejeki dan maut di tangan Allah.

Raut wajah Daily mulai jengkel. Kecantikannya seolah luntur diterjang emosinya.

“Kurang apa sih aku ini, cantik, sebentar lagi aku diangkat jadi kepala cabang wilayah, iman juga kuat, ngaji tiap malam, sedekah tiap hari. Lalu apa lagi yang kurang? Kok masih jauh dari jodoh!”

###

Keesokan harinya Daily pergi ke sebuah Danau kecil tak jauh dari tempat tinggalnya di kawasan Elit Surabaya. Daily meratapi nasibnya, ia mulai mengeluhkan keberadaan Allah. Urat frustasinya sudah mulai menyembur keluar menyangkal segala ketetapan-Nya.

Tak berselang lama, seorang kakek datang untuk sekedar istirahat, karena memang Danau ini adem dan enak untuk istirahat. Kakek itu menstandarkan sepedanya, rupanya dia penjual balon keliling.

Pemandangan dari belakang seolah hanya Daily dan kakek itu yang terlihat.

“Sudah lama Non?” sapa kakek itu.

Daily hanya mengangguk saja.

“Kenapa?” tanya kakek.

“Soal hidup jangan diratapi terlalu dalam. Mungkin ada yang salah dari kehidupan kita.

Daily menoleh ke arah kakek itu.

“Bapak tahu?” tanyanya.

Kakek itu hanya menggelengkan kepala dan matanya terus menatap ke ujung Danau itu.

“Saya tidak tahu apa-apa dan tidak tahu sama sekali. Memangnya ada apa denganmu?”

“Saya heran. Kenapa sampai sejauh ini saya belum menikah?”

“Oalah soal pernikahan?”

“Iya. Saya iri dengan teman-teman saya”

“Jika hatimu gelisah, jiwamu tidak tenang dan jodoh belum juga datang. Mungkin kamu terlalu dalam mencampuri urusan Tuhan!”

Penulis :

Fajar Dwi Putra                                                           
(Penulis novel “Mawar Hitam”)

Dosen Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
Website : http://www.fajardwipa.com
Instagram : @jokadesanta
E-mail : jokadesanta@yahoo.com

Tinggalkan Balasan