Dimensi Ketiga

Aku melihatnya bukan sebagai seseorang yang miskin atau hina, aku lebih melihatnya sebagai sebuah dimensi. Dimensi yang memberikan pencerahan dan pengolahan daya pikir dan imajinasi untuk membingkai gelombang-gelombang kehidupan.

Namanya Yanu (bukan nama sebenarnya karena ini alasan etika, jadi saya tidak boleh menuliskan namanya karena permintaan narasumber), sekitar 54 tahun, saat aku tanya pekerjaannya di menjawab “Babu Tuhan” dia menjelaskan apa maksud dari kata “Babu Tuhan!” Babu adalah pembantu, jadi pembantunya Tuhan itu adalah siap sedia dengan segala resiko yang dihadapinya. Dan dia mengatakan rela tidak mendapatkan apa-apa. Bahkan dia bercerita pernah dimaki-maki seorang yang kaya raya karena meminta sedekah di hari jumat.

Bagiku Yanu adalah sebuah dimensi berjalan, merekahkan pandangan manusia-manusia untuk melihat kecenderungan hidup di dunia. Sebuah eskalasi kontemporer dalam dirinya, tapi setidaknya ia pernah hidup untuk menolong orang dan paling tidak dalam hatinya ada rasa senang tanpa meminta sedikitpun imbalan.

Siang itu dibawah pohon tak jauh dari alun-alun utara, Yanu memberikan gagasan kenapa manusia  sering lupa ini dan itu. Baginya manusia itu sudah lepas dari dimensi ketiga, dimensi yang memberikan keterikatan batin antara manusia dengan Allah tuhannya.

Aku penasaran tentang dimensi ketiga ini. Yanu dengan kaos compang camping memberikan satu jalur pemikiran yang unik. Baginya manusia itu sudah masuk dunia sesat, yang didalamnya adalah sesat pikir, sesat ruhani, sesat kemerdekaan dan sesaat agama. Yang paling parah adalah sesat agama. Sebab disaat manusia sesat agama, dimensi hanya berlaku dua sisi saja, sesama manusia dan sesama alam.

“Kenapa tidak satu dimensi saja?”

“Sejahat-jahatnya Manusia pasti punya nurani untuk perduli kepada sesama”

“Tapi banyak manusia yang tidak perduli juga!” protesku.

“Itu bukan manusianya! Tapi nalurinya mati!”

Yanu melanjutkan, “Manusia sering tidak sependapat dengan Tuhan. Tuhan digenggamnya ditangan kiri, lalu sejarah nabi-nabi dibakar dalam kesempitan otaknya”

“Bagaimana menemukan dimensi ketiga itu?”

“Ber-rendah-rendahlah di hadapan Tuhan, sapalah Dia, jangan banyak meminta dengan mulut, mintalah dengan hati. Kalau kau mendengar nama Tuhanmu disebut dan hatimu bergetar, bersiaplah menerima ketakjuban yang memasuki setiap sudut pikiran dan hatimu. Bagiku dimensi ketiga adalah dimensi untuk masuk melalui celah-celah dunia untuk menciptakan rasa nyaman bertuhankan Allah”

“Kenapa?”

“Karena Allah menciptakan dunia untuk manusia, tetapi Allah tidak menciptakan manusia untuk dunia!”

Penulis : Fajar Dwi Putra                                                           
Penulis novel “Mawar Hitam” Dosen Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
Website : http://www.fajardwipa.com
Instagram : @jokadesanta
E-mail : jokadesanta@yahoo.com

Tinggalkan Balasan