Duryodana

Dalam kisah pewayangan Mahabharata, Duryodana adalah seorang bedebah busuk yang rakus kekuasaan. Nyaris tidak ada kebaikan dalam diri para Kurawa termasuk Duryodana. Hitam selalu hitam dan putih selalu putih. ⁣⁣⁣
Namun dibalik “kelir” pagelaran wayang, Duryodana merupakan seorang pejuang persamaan hak yang menolak klaim bahwa hanya titisan Dewa (Pandawa) lah yang bisa menjadi raja. Menurutnya semua manusia memiliki hak dan derajad yang sama. Itulah mengapa resi Bhisma, begawan Drona, dan Karna memihak kepada Kurawa.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Saat dalang membawakan kisah Mahabharata, penonton awam yang terbawa emosi oleh kisahnya akan menganggap jika Duryodana memang bedebah tengik yang layak dibunuh oleh panglima Pandawa Raden Wrekudara. Namun bagi penonton yang memahami esensi “Kelir” pada pewayangan, pasti memahami tidak ada manusia yang sempurna.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Harusnya jika Pandawa tidak merasa “jumawa” sebagai titisan Dewa, dan Duryodana tidak memperjuangkan hak dengan cara memaksa, semua tidak perlu diselesaikan dalam perang Bharata. Selepas Bharatayudha, tidak ada pihak yang kalah dan menang. Semua mengalami kekalahan, kehancuran, dan kehilangan. Tidak hanya keluarga Pandawa dan Kurawa, namun juga rakyat kecil.⁣⁣⁣
⁣⁣
Indonesia saat ini adalah Hastinapura. Ada Pandawa dan Kurawa yang merasa harus merebut kekuasaan demi ego, hasrat, dan keserakahan. Banyak masyarakatnya memandang hitam selalu hitam dan putih selalu putih. Perbedaan pendapat harus diselesaikan dengan perang Bharata, dimana akhir perang selalu hanya kekalahan dan penderitaan yang berjaya. Tidak ada satu kemenanganpun di sana…⁣

Tinggalkan Balasan