Esensi Kurban : “Benar namun kurang Tepat?”

Sekitar tahun 2011 an kalau tidak salah, saya pernah tiba-tiba mempertanyakan tentang kurban. Mengapa Tuhan memerintahkan manusia untuk menyakiti dan membunuh mahluk lain, hanya supaya Tuhan yakin manusia mencintai-Nya?

Saya mencari jawaban di semua teman dan pemuka agama yang saya kenal. Jawabannya sama dan selalu tidak memuaskan saya.

“Kehendak Allah. Sapi, kambing, dan unta itu mahluk-Nya..jadi jika pemiliknya yang meminta, sah sah saja..Toh itu sudah dicontohkan melalui kisah nabi Ibrahim A.S dan nabi Ismail A.S…Semua untuk mengetes, cinta manusia hanya kepada Allah atau yang lain?”

Kalimat terakhir ini saya setuju, tapi siapa ngetes? Allah sendiri?Apakah Allah butuh untuk dicintai manusia?Lalu kenapa harus membunuh?Sampai ada janji jika mahluk yang dikurbankan akan masuk surga?siapa yang menjamin?Allah sendiri?Masuk surgapun masih jadi budak manusia karena para hewan tersebut akan jadi tunggangan orang yg berkurban?Atau semua ini adalah kesalahan pemahaman yang diulang-ulang hingga menjadi “pembenaran”?

Kita kembali ke kisah nabi Ibrahim A.S dan nabi Ismail A.S yang menjadi landasan hukum berkurban. Suatu hari Ibrahim A.S mendapat mimpi, yang kemudian diterjemahkan sebagai perintah Allah, untuk menyembelih anaknya Ismail A.S. Lalu Ibrahim pun mengatakan hal tersebut kepada Ismail. Singkat kata, Ismail setuju untuk disembelih, sebagai bukti kesabaran dan kecintaannya kepada Allah SWT. Sampai pada hari penyembelihan, Ismail yang sudah pasrah dan menerima ketentuan, pun merelakan dirinya disembelih oleh ayahnya sendiri. Namun pedang tajam Ibrahim ternyata tidak mampu memenggal lehar anak terkasihnya, hingga akhirnya malaikat Jibril turun dari surga membawa kambing. Jibril berkata, jika Allah telah mengetahui cintanya Ibrahim dan Ismail kepada Allah melebihi apapun. Karena itulah Allah memerintahkan Jibril datang dan mengganti Ismail yang akan disembelih dengan seekor kambing.

Kejadian itu kemudian menjadi tradisi dan terus diperingati jutaan umat Islam setiap tahunnya dengan menumpahkan berjuta-juta darah hewan ternak, hanya untuk membuktikan kecintaan kepada Allah, dan bertujuan untuk menumpuk pahala. Mengorbankan darah dan jiwa, sebenarnya merupakan tradisi pagan yang dikemas dengan label agama. Ketika tradisi pagan tersebut masuk ke dalam label agama, maka dari segala sisi, tradisi tersebut kemudian dibenarkan tanpa boleh dikritik.

Pada dasarnya, saya tidak sedikitpun menyalahkan ajaran agama. Saya selalu HANYA MENGKRITISI PEMAHAMAN MANUSIA AKAN AJARAN AGAMA. Ajaran agama merupakan tuntuntan kepada kebenaran dan kebijaksanaan. Islam adalah salah satu jalan tuntunan yang sangat indah ketika manusia benar dalam memahaminya. Sayang salah satu ajaran indah ini menjadi salah persepsi akibat ego, kebodohan, dan arogansi manusia. Agama menjadi produk yang sangat ampuh dalam menggapai kekuasaan dan menguasai ekonomi. Itulah mengapa kemudian agama menjadi sebuah komoditi yang sangat efektif, ketika orang yang menganutnya membabi buta dalam menjalankan ritual ibadah, tanpa memahami esensi kebijaksanaan indah yang ada di balik kisah-kisah yang diceritakan dalam kitab suci.

Untuk memahami ajaran agama, seseorang harus memahami sejarah dimana agama itu tumbuh. Mengapa? Karena ajaran agama tidak dapat dilepaskan dari sejarah, budaya, dan tradisi dimana ajaran agama itu tumbuh. Sederhana sebenarnya, karena agama adalah sebuah tuntunan. Tuntunan adalah ajaran yang perlu diajarkan untuk menuntun manusia kepada tujuan dari agama tersebut. Dalam teori komunikasi massa, agar apa yang anda bicarakan dapat didengar dan diterima oleh audiens, maka anda perlu mengetahui sifat, pendidikan, tingkat ekonomi, kebiasaan, status sosial, hingga kondisi sosial budaya si audiens. Setiap agama dan kepercayaan di seluruh dunia, ajarannya selalu terkait dengan kondisi di sekitarnya, bukan kondisi manusia di tempat lain yang jauh. Hal ini terkait dengan mudahnya si audiens memahami sebuah ajaran yang asing bagi dirinya, jika ajaran tersebut disesuaikan dengan kebiasaan dan kehidupan sehari-harinya. Ajaran Hindu akan sulit dipahami oleh India jika pertama kali diajarkan dengan tradisi Eropa atau bahasa Inggris. Ajaran Katolik juga akan sulit dipahami oleh orang Yahudi jika diajarkan dengan budaya India. Demikian juga ajaran Islam, akan sulit dipahami oleh orang Arab jika pertama kali Islam muncul, ajarannya diajarkan dengan tradisi dan bahasa Cina. Hal ini karena tradisi melekat kepada kebiasaan sebuah komunitas atau bangsa yang berujung pada tingkat pemahaman akan ajaran yang diajarkan. Sama seperti ketika anda ingin mengajarkan komputer kepada anak TK dengan bahasa pemrograman yang rumit, pastilah anda akan ditinggal pergi oleh anak-anak yang tidak memahami bahasa anda. Jika anda ingin mengajarkan komputer kepada anak TK, maka ajarkanlah dengan media dongeng, kartun, atau apapun yang menjadi dunia dan bahasa anak kecil. 

Ketika Islam muncul di tanah Arab, mayoritas orang Arab waktu itu adalah pedagang dan penggembala. Itulah mengapa dalam Islam, “bahasa dagang” seperti untung rugi sangat dominan. Orang yang berbuat baik dapat pahala (untung) dan yang berbuat tidak baik mendapat dosa (rugi). Pahala dan dosa pun nanti ditimbang ketika manusia mati. Jika Pahala anda lebih banyak, maka anda akan masuk surga. Sementara jika dosa anda lebih banyak, anda akan masuk neraka. Bahasa gembala juga cukup dominan dalam Islam, dimana banyak ayat Al-Quran dan As-Sunnah yang dihubungkan dengan unta atau domba.

Kisah nabi Ibrahim A.S dan nabi Ismail A.S adalah salah satu contoh dari bahasa tersebut. Sama dengan tradisi Hindu yang menggunakan hewan sapi sebagai tunggangan Siwa, atau di Jawa ketika hewan sapi juga diklaim sebagai tunggangan Batara Guru. Hal ini terkait dengan kebiasaan dan tradisi masyarakat setempat, dimana di India dan Jawa, sapi tentu lebih familiar dibanding unta (walau di India juga ada unta). Sementara di Arab dan tradisi Yahudi, domba dan unta tentulah lebih familiar untuk masyarakat di sana. 

Budaya gembala di masyarakat timur tengah membuat hewan ternak seperti domba dan unta, merupakan harta yang tak ternilai. Mereka membesarkan ternak dari kecil hingga besar, dan kemudian dijual untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Begitu berharganya hewan ternak inilah yang membuat kisah nabi Ibrahim menjadi menjadi sebuah tantangan bagi masyarakat di sana.

Ketika anda memahami ajaran agama dengan benar, pertama yang anda dapati pastilah Tuhan itu bukan materi, atau non materi. Tuhan selalu tidak terdefinisi dengan kata-kata, atau paling mudah dibahasakan “berbeda dengan mahluk-Nya”. Barangkali untuk memahami makna Tuhan, akan sangat sulit dimengerti bagi orang-orang yang awam dengan ajaran kebijaksanaan.  Jangankan “bertemu Tuhan”, memahami Tuhan saja banyak yang masih tanpa sadar terseret pada paham, Tuhan adalah sesosok bentuk yang memerintah alam semesta dari singgasana-Nya. Tuhan begitu berkuasa atas alam semesta dan manusia, serta memberikan perintah, berkah, dan hukuman saat menjalankan alam semesta, termasuk kehidupan manusia. Pemahaman Tuhan yang inilah yang paling umum dipahami hampir kebanyakan muslim. Namun banyak juga muslim yang mendapatkan pencerahan sehingga melihat dan memahami Tuhan dari sisi yang berbeda. Dalam tradisi Jawa, Tuhan disebut “Tan kena kinaya ngapa”, atau yang tidak terdefinisi. Sama dengan ajaran Islamnya Rasulullah, bahwa Allah adalah Dzat yang berbeda dengan mahluk-Nya. Namun untuk memahamkan masyarakat Arab yang masih Jahiliyah dan tidak mengenal ajaran kebijaksanaan, maka Tuhan ini kemudian diceritakan dengan perumpamaan, supaya mudah dimengerti. Allah, malaikat, Iblis yang sebenarnya ada di dalam diri kita, kemudian seolah-olah dibendakan. Hal ini hanya untuk mengenalkan Islam di kalangan masyarakat bawah, dimana faktor visual sangat dominan. Orang tidak akan percaya jika tidak melihat, atau minimal pernah melihat yang mirip. 

Islam sendiri pada dasarnya mengajarkan peleburan antara diri pribadi dan Allah SWT. Anda hanya bisa “merasakan” Allah jika anda melebur kepada-Nya. Untuk melebur kepada-Nya ini, anda perlu banyak cara dan rambu-rambu ibadah yang harus anda tunaikan. Namun ibadah hanyalah ritual. Ketika anda tidak mendalami dan mencari, maka ibadah hanyalah sebatas ritual semata tanpa makna. Berikut saya singkat saja faktor-faktor yang membawa anda melebur kepada Allah SWT, dalam kisah nabi Ibrahim A.S dan nabi Ismail A.S. Saya hanya menceritakan saja. Untuk memahaminya, anda perlu mencari sendiri, mengalami sendiri, dan menemukan jawaban sendiri. 

  1. Kepasrahan dengan cara menerima tanpa membantah, sadar bahwa hukum alam berlaku untuk semua mahluk. Manusia hanya harus mengikuti saja, tanpa membantah. Hal ini didapat dari kesadaran dan introspeksi diri secara mendalam. Ketika anda mendapat musibah kecelakaan, ketika anda membantah musibah yang menimpa anda, maka yang anda dapat hanya amarah dan rasa jengkel. Namun ketika anda introspeksi dan menerima, maka dalam hukum alam yang berlaku utama adalah sebab akibat. Akibat berasal dari sebuah sebab. Kecelakaan yang anda alami bisa jadi karena anda kurang berhati-hati, teledor, dan kehilangan kesadaran. Jikapun orang lain yang teledor, selama anda berhati-hati dan menjaga kesadaran, barangkali anda masih bisa menghindar dari kecelakaan. Maka jika anda menerima, pasrah, ikhlas dan sadar, anda justru akan mengintrospeksi diri sendiri, mengapa anda kecelakaan. Jikapun itu salah orang lain, ketika anda menerima dan pasrah, maka anda akan dengan mudah memaafkan. Kekuatan pasrah ini sangat luar biasa. Saya selalu mengibaratkan air dan batu sebagai perumpamaan termudah. Ketika anda hidup seperti batu, kemanapun anda bergerak, anda akan berbenturan dengan benda lain, yang mana benturan itu akan merusak diri anda. Ketika anda sangat kaku seperti batu, dan selalu menolak atau membantah apapun yang anda alami, maka yang anda dapatkan hanya benturan seperti cek cok dengan orang lain, amarah, iri, dengki, dan emosi-emosi negatif lain yang lama kelamaan akan merusak tubuh dan batin anda. Namun jika anda mencoba hidup seperti air, kemanapun anda mengalir mengikuti alur sungai (hukum alam atau ketentuan Tuhan), maka suatu ketika aliran itu bertemu batu, yang dilakukan batu adalah berdiri menantang air, sementara air sendiri akan terus mengalir ke samping kanan kiri batu dan mencari celah atau jalan untuk tetap mengalir. Air sendiri ketika ditempatkan di wadah apapun, ia akan fleksibel mengikuti bentuknya, sementara batu tidak. Ia tetap kaku mempertahankan bentuknya. Anda pernah lihat film Taichi Master yang diperankan oleh aktor Hongkong Jet Li? Taichi adalah ilmu beladiri yang mengadopsi prinsip dan sifat alam, terutama air. Ketika ilmu beladiri lain melawan dengan sekuat tenaga dan agresif, Taichi justru mengikuti tenaga dan gerak lawannya. Uniknya ketika mengikuti gerak lawannya, energi Taichi yang terlihat lemah lembut, justru memiliki daya rusak yang berlipat-lipat kalinya dari jurus yang menggunakan tenaga maksimal untuk bertarung. Mudah saja, ketika anda pasrah dan menerima apapun ketentuan-Nya, maka energi anda akan terkumpul maksimal, tanpa terganggu oleh pikiran dan emosi yang mengonsumsi energi anda besar-besaran. Maka ketika nabi Ismail dan nabi Ibrahim pasrah dan menerima, diibaratkan pedang paling tajam yang diayunkan nabi Ibrahim tidak mampu menebas leher nabi Ismail. Hal ini terjadi karena dalam posisi pasrah, menerima, dan dipenuhi kesadaran, seorang manusia telah menyatu dengan esensi diri dan alam semesta. Ia tak lagi terikat materi apapun, termasuk tubuh dan emosi. Maka jika ia bukan lagi materi, tidak ada satupun pedang tajam (materi) yang sanggup menyentuhnya. Bisakah sebuah pedang membelah air?Hal ini dijelaskan dalam fisika quantum, yakni pada dasarnya jika tubuh manusia ini diteliti bahan pembentuknya hingga materi terkecil yang bisa disaksikan panca indera, maka yang ada adalah energi, bukan materi. Mudahnya, jika tubuh manusia dilihat dengan mikroskop hingga partikel terkecil, kita ini sebenarnya hanyalah kumpulan energi yang tidak berbentuk, sama dengan bahan dasar pembentuk alam semesta.
  2. Untuk bisa “menyatu dengan Allah”, maka pahami diri kita sendiri. Dari manusia lahir, semua yang disebut “manusia” dan apa yang dimilikinya hanyalah pinjaman modal agar manusia bisa  bertahan hidup di dunia. Dari mulai tubuh kita adalah pinjaman, dimana ketika kita mati, maka tubuh ini harus kita kembalikan, sementara ruh atau kesadaran akan meneruskan perjalanan selepas kehidupan di alam fana. Jika tubuh adalah pinjaman, apalagi materi. Masalah terbesar manusia adalah merasa memiliki, dari tubuh hingga materi. Ketika rasa memiliki tersebut tidak kita hilangkan, maka esensi manusia sesungguhnya sulit anda pahami. Materi yang merasa dimiliki manusia adalah sumber kebodohan dan ketidaktahuan yang menutupi kebijaksanaan. Merasa memiliki materi membuat manusia saling berkelahi, berperang, mengumbar emosi, kelicikan, kebencian, penindasan, rasa iri, dengki, dan semua emosi negatif. Ketika anda menghilangkan rasa kemelekatan atau kepemilikan kepada materi yang “merasa anda punyai”, maka secara otomatis semua emosi dan perilaku negatif di atas akan hilang dengan sendirinya. Hakekat manusia adalah cinta kasih tanpa pamrih, namun cinta kasih itu terkubur oleh emosi dan perilaku negatif yang berawal dari rasa kepemilikan atau kemelekatan terhadap materi yang “merasa anda miliki”. Dalam kisah nabi Ibrahim dan nabi Ismail, anak adalah sumber kemelekatan bagi Ibrahim, sementara tubuh/kehidupan adalah sumber kemelekatan bagi Ismail. Ketika keduanya menghilangkan kemelekatan masing-masing, maka hal inilah yang disebut ‘lebih cinta Allah dibanding selain Allah”. Apapun yang merasa anda punyai adalah sumber penderitaan batin anda, dan ketika semuanya anda lepaskan, maka sumber penderitaan pun ikut lenyap. Pada hakekatnya manusia boleh memanfaatkan materi, namun manusia tidak boleh merasa memiliki dan larut dalam kemelekatan. Kisah Ibrahim dan Ismail ini sangat indah jika kita pahami dalam perspektif yang berbeda. Hilangnya kemelekatan Ibrahim dan Ismail, mengakibatkan datangnya malaikat (cahaya) yang membawa domba dari surga. Domba sebagai simbol kebodohan dan kegelapan batin merupakan simbolisasi yang kemudian terkait dengan iblis (lucifer) yang berwujud domba jantan. Kebodohan inilah yang seharusnya disembelih oleh nabi Ibrahim dan nabi Ismail, untuk bisa melebur dengan Dzat tertinggi, dan merasakan Allah melebur dalam dirinya dan diri setiap manusia yang berhasil mencari di jalan terang cahaya.

Kembali lagi dalam tradisi Arab dan Yahudi, dimana kebanyakan masyarakatnya merupakan pedagang dan gembala, maka banyak masyarakat yang melekat pada harta/materi yang merasa dipunyainya. Pedagang melekat pada harta, uang, istri, anak, kejayaan, dan lain-lain. Sementara itu gembala melekat pada hewan ternaknya yang merupakan harta tak ternilai sebagai modal untuk bertahan hidup. Maka di sinilah tradisi kurban kemudian berbeda di mata saya. Lucu ketika di masa sekarang saat Islam telah sampai di seantero jagad, dimana kebanyakan masyarakat di masing-masing tempat berbeda-beda profesi dan jalan hidupnya. Ketika muslim saat ini bukan mayoritas pedagang dan gembala, maka kemelekatannya pada materi pun berubah. Kemelekatan manusia sekarang ada pada pangkat, jabatan, status sosial, uang, mobil, rumah, makanan, dan lain-lain. Menurut saya tidak tepat jika yang “dikurbankan” tetap hewan ternak, karena bagi seorang pekerja kantoran misalnya, tidak ada kemelekatan apapun pada hewan ternak. Kemelekatannya ada pada uang dan jabatan, keluarga, atau materi lain yang “merasa ia miliki”. Namun bukankan dengan membeli hewan ternak menggunakan uang, ia telah melepaskan kemelekatan pada uang? Ada benarnya namun menurut saya kurang tepat. Bayangkan seorang gembala domba, ia membesarkan seekor anak domba dari kecil dengan usaha dan keringatnya, supaya ketika besar nanti bisa ia jual dengan harga tertinggi untuk biaya hidup. Tiba-tiba ketika dombanya besar, ia diminta untuk menyerahkan dombanya disembelih dan dagingnya dibagi-bagikan kepada orang lain yang mungkin tidak dikenalnya. Betapa menyakitkannya bagi si gembala jika ia tidak pasrah, menerima, ikhlas, dan menghilangkan “rasa kepemilikan” yang didapat dari usahanya berbulan-bulan membesarkan anak domba hingga besar dan siap dijual. Rasa kemelekatan ini berbeda, ketika anda adalah seorang pekerja kantoran, yang dengan mudah membeli domba dewasa dengan uang anda, lalu anda serahkan domba yang anda beli itu untuk disembelih dan dagingnya dibagi-bagikan kepada orang lain, dengan imbalan surga lagi! (Surga di sini adalah surga berupa tempat yang dipahami sebagian besar orang). Kemelekatan gembala lebih besar karena ia menjalani proses, usaha, memeras keringat, menumpuk harapan ketika dombanya besar bisa dijual mahal dan memberikan hasil uang yang maksimal untuk kehidupannya. Sementara pekerja kantoran tidak memiliki keterikatan apapun dengan domba, karena ia bisa membeli dan memilih domba mana saja yang ia ingin kurbankan. Ia tidak mengalami proses membesarkan domba. Kemelekatannya lebih kepada uang dan materi lain seperti kendaraan, rumah, dan lain-lain, yang selama ini dicari dengan keringat dan usahanya, dimana materi-materi tersebut membuat hidupnya “terasa” nyaman.  Mungkin juga dengan uang yang ia hasilkan, ia dengan mudah membeli domba, namun ia tidak melekat karena tidak mengalami proses yang harus dilakukan untuk membesarkan domba. Apalagi di masa sekarang, dimana orang bisa membeli domba atau sapi kurban dengan sistem online. Anda cukup setor uang untuk membeli, tanpa melihat hewan ternak yang anda beli dan akan anda kurbankan. Hal ini sama dengan petani yang harus memberikan hasil panennya untuk disumbangkan kepada orang banyak. Ia akan lebih melekat kepada hasil panennya karena ia mengalami proses dari menanam, merawat, hingga memanen. Ketika seorang pekerja kantoran membeli beras, dan menyumbangkannya, kemelekatannya akan berbeda dengan petani yang mengalami proses tadi.

Maka seharusnya kurban dipahami tidak saja berkurban hewan, namun materi apa yang paling melekat di kehidupan anda. Tanyakan pada diri anda sendiri, materi apa yang paling anda sayangi, maka itulah yang seharusnya anda kurbankan. Contoh anda memiliki mobil antik kesayangan yang anda rawat dengan telaten dan hati-hati. Anda mungkin juga memiliki mobil lain yang harganya berlipat-lipat lebih mahal dari mobil antik anda, namun hanya anda gunakan sebagai “kendaraan” saja. Ketika anda dihadapkan pada kenyataan harus menjual salah satu mobil untuk sebuah kebutuhan, mana yang anda pilih untuk anda jual duluan?

Demikianlah, kisah kurban nabi Ibrahim A.S dan nabi Ismail A.S, dalam pemahaman saya. Kurban tidak disamaratakan dengan menyembelih hewan ternak. Kurban sesungguhnya adalah memberikan materi yang paling anda sayangi untuk melepaskan kemelekatan anda pada dunia, guna menjumpai sang Dzat yang maha agung, Allah SWT. Apa yang paling berharga dalam diri manusia? Pernahkah anda berpikir bahwa sebenarnya hal paling berharga yang anda punyai adalah Diri sendiri?Sudahkah anda mengorbankan diri anda untuk mencintai, berbuat welas asih tanpa pamrih pahala atau surga, serta membuat semua mahluk berbahagia dan memperindah kehidupan alam semesta dengan perbuatan baik?

Kurban bagi yang mampu, bukan berarti mampu secara materi, namun mampu untuk melepaskan kemelekatan pada materi duniawi yang membuat anda terjebak dalam kebodohan dan kegelapan batin, yang mengakibatkan anda jauh dari sifat welas asih Allah yang selalu melekat dalam diri kita..

Ini hanya pandangan saya, anda sangat berhak untuk tidak setuju…

Tinggalkan Balasan