Hidup Yang Indah

Selepas sholat Maghrib tadi, saya pun duduk bersila dan berdoa.. Namun saya berpikir, apa lagi yang harus saya minta?Apa yang saya butuhkan semua telah tersedia. “Apapun yang saya butuhkan, bukan apapun yang saya inginkan..”. Alhamdulillah kesehatan saya dan keluarga hingga hari ini tidak ada masalah, paling jauh terserang flu. Kesejahteraan juga demikian. Kesejahteraan ini yang memiliki makna berbeda-beda manusia satu dengan lainnya, tergantung patokan kondisi seperti apa seorang manusia dikatakan sejahtera. Banyak orang yang memiliki patokan tinggi untuk kesejahteraan, seperti memiliki uang banyak, kendaraan, hingga rumah yang nyaman untuk ditinggali. Belum lagi kebutuhan sekunder dan tersier dengan standard yang jauh melampaui kondisi sebenarnya. Akibatnya, terjadi ketidakpuasan terhadap hidup yang berujung pada kekecewaan dan ketidakbahagiaan. Mengapa?karena anda akan dituntut untuk terus mengejar standard kesejahteraan yang anda patok untuk diri anda. Lalu apakah manusia tidak boleh senang dan bahagia? Sekali lagi senang dan bahagia tergantung dari patokan dan pola pikir anda. Saya pernah bertemu dengan suami istri yang bekerja sebagai tukang sapu di bilangan Pancoran, Jakarta Selatan yang saya ceritakan di tulisan yang lain. https://berbagicahaya.com/2019/01/08/sabar-dan-menerima-itu-berbeda-nak/

Kesejahteraan, tergantung dari kebahagiaan. Kebahagiaan tergantung dari cara pandang kita terhadap standard kesejahteraan tadi. Jika kita renungkan dengan lebih dalam, sebenarnya apa sih kebutuhan pokok kita untuk hidup?Sandang, pangan, papan itu pasti, ditambah hal-hal lain yang tidak kita sadari sudah kita dapatkan tanpa membayar sepeserpun. Oksigen dan sinar matahari contohnya. Almarhum kakek saya, menjelang hari-hari terakhir kehidupan beliau dahulu, harus di supply tabung oksigen untuk membantu bernafas karena kondisi paru-parunya yang tidak memungkinkan untuk memompa oksigen ke seluruh tubuh. Harga tabung oksigen waktu itu, sekitar 800 ribu per tabung yang hanya digunakan untuk beberapa hari saja. Teman saya bercerita, ayahnya hampir tiap minggu harus cuci darah, dengan harga 800 ribu sekali cuci darah karena fungsi ginjalnya yang sudah jauh menurun.

Anda bisa membayangkan, berapa harga oksigen yang kita konsumsi setiap tarikan nafas kita, dan berapa harga ginjal yang berfungsi normal untuk membersihkan darah kita dari bakteri dan zat-zat berbahaya yang berdampak bagi kesehatan tubuh. Belum lagi berapa harga sinar matahari jika kita kalkulasi dengan meteran PLN, untuk menghidupi tanaman, yang buahnya kita konsumsi.

Saya tidak mencoba membenarkan diri, karena memang kondisi keuangan saya tidak sebagus kawan-kawan saya lainnya yang bergaji besar. Tidak..bukan itu. Saya bukan terpaksa berpikiran “nerimo” karena kondisi keuangan saya mengharuskan saya melakukan itu. Namun saya benar-benar menyadari, nikmat yang saya dapatkan sebagai manusia yang hidup tercukupi di dunia. Bagi saya, semua benda yang saya punyai ada karena fungsinya, bukan karena untuk memanjakan hidup saya. Saya sudah terlalu banyak dimanjakan oleh Tuhan melalui alam semestanya. Kalau fungsi kendaraan adalah untuk berkendara ke tempat kerja atau ke tempat lainnya, buat apa saya harus membeli motor besar atau mobil mewah?Apalagi kendaraan mewah harus saya dapatkan dengan berhutang kesana kemari. Saya berprinsip tidak harus punya hutang untuk memanjakan hidup saya dan menuruti keinginan saya. Semampu saya, itulah yang saya nikmati. Jika saya ingin sesuatu, saya akan membeli asal sesuai dengan fungsi dan kebutuhan saya, itupun dari hasil menabung atau saat mendapatkan rejeki cukup.

Tuhan telah “mencukupkan nikmat”….Tuhan tidak “melebihkan nikmat”…Hal itulah yang membuat saya membedakan antara sabar dan “nerimo” dalam bahasa Jawa. Keinginan yang terlalu tinggi menyebabkan hidup kita dipenuhi kekhawatiran, kekecewaan, ketidakhati-hatian, lelah, dan ketidakpuasan yang terus menerus terjadi. Hidup menjadi tidak nyaman dan selalu dikejar-kejar target. Saat itu terjadi, anda tidak akan menemukan kebahagiaan yang selalu saya dapatkan, hanya dengan duduk diam menikmati alam, menikmati kebersamaan bersama keluarga, menikmati kesehatan, dan menikmati apa yang sudah kita punya. Kebahagiaan seperti itu tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata, namun rasanya meresap dan membuat hidup saya seperti penuh bunga dan air mengalir yang penuh ketenangan.

Saya ingat, seorang kawan pernah memposting sebuah foto di akun Facebooknya. Foto yang membuat saya selalu mengingatkan diri sendiri akan makna kesederhanaan. Foto seorang ulama besar, Buya Syafii Maarif, mantan ketua PP Muhammadiyah, salah satu organisasi Islam terbesar di dunia. Foto celana Buya yang robek, ditambal sendiri oleh beliau. Tanpa malu, beliau memakai celana itu kemana-mana. Bahkan Buya di komplek rumahnya yang tidak jauh dari rumah saya di Yogyakarta, selalu tidak segan mampir ke warung nasi sederhana di dekat rumah beliau untuk makan siang atau menjamu tamu-tamunya tanpa rasa malu sedikitpun. Sebuah potret kesederhanaan yang selalu saya ingat dan membuat saya malu terhadap diri saya yang kadang masih terbawa oleh faktor duniawi tanpa saya sadari. Padahal, sebagai seorang mantan ketua umum organisasi Islam terbesar di Indonesia, bahkan dunia, bisa saja beliau hidup bermewah-mewah seperti beberapa orang yang mengaku ulama, namun dengan bangga menunjukkan kemewahan harta yang ia punyai. Namun beliau memilih hidup sederhana di pinggiran kota Yogyakarta, di sebuah komplek perumahan dan berbaur dengan masyarakat sekitar.

Kebahagiaan sejati didapat bukan dari benda-benda duniawi yang memanjakan hidup kita. Mengapa? Karena laiknya semua materi duniawi lain yang sifatnya tidak kekal, benda-benda duniawi suatu hari akan hilang. Hidup di dunia tidak ada yang abadi, apalagi materi yang kita punya. Bahkan orang-orang yang kita cintai pun akan hilang suatu hari nanti. Kekecewaan akan meliputi kita jika kita terus memegang erat benda-benda tersebut, ketika benda-benda atau materi itu hilang suatu hari nanti. Tidak ada satupun manusia yang bisa memastikan masa depan. Hanya satu yang bisa dipastikan, yakni kematian. Materi duniawi benar-benar membuat hidup kita tidak menentu. Saat mengejarnya kita harus menghalalkan segala cara, menepiskan kelelahan, dan menepikan banyak waktu berharga bersama keluarga atau waktu berharga untuk diri anda sendiri. Dan pada saat anda mendapatkan materi tersebut, anda akan diliputi rasa tidak puas, dan terdorong untuk terus mencari materi yang lebih tinggi atau lebih banyak lagi. Hal itu menambah kesengsaraan anda di dalam hidup. Belum lagi saat tiba-tiba materi yang anda cari dengan susah payah tersebut tiba-tiba hilang. Betapa nelangsanya hidup anda waktu itu.

Maka sore tadipun saat saya memulai berdoa, saya hanya berkata kepada diri saya sendiri, “Tuhan, saya bingung mau minta apa lagi. Atau bahkan saya merasa kurang ajar karena masih meminta. Karena semua kebutuhan saya telah dicukupi. Karena kebahagiaan saya terus tumbuh dengan mencintaimu dan alam semestamu, yang memberi manusia tanpa meminta kembali. Karena apa yang telah saya dapatkan bersama keluarga telah cukup membuat kami bisa terus tersenyum, bernyanyi dalam kebersamaan, dan memuji-Mu tanpa henti. Lalu apa lagi yang harus saya minta?”

Tinggalkan Balasan