Inspirasi Hidup dari Air

Bapak almarhum pernah suatu ketika berpesan kepada saya, “hidup itu seperti air…..”.

Dahulu saya mencari-cari apa maknanya. Setelah sekian tahun, saya baru paham yang dimaksud oleh bapak. Banyak orang bilang air adalah sumber kehidupan. Namun ternyata air bukan hanya sumber kehidupan, air adalah kehidupan itu sendiri. Terdapat tiga pelajaran yang saya dapatkan dari air.

Pelajaran pertama yang saya dapatkan dari air adalah, pelajaran tentang bagaimana menghadapi kehidupan. Sesuai dengan sifat air yang cair, ia selalu mencari tempat yang rendah untuk mengalir. Alirannya tidak ada yang lurus, namun selalu berkelok-kelok menyesuaikan tempat di mana air bisa meresap atau mengalir. Ketika melakukan perjalanan  di sungai, air menjumpai banyak sekali rintangan. Contohnya ketika ia menjumpai batu, air tidak akan menabrakkan dirinya ke batu dan berhenti mengalir. Ia akan mencari jalan atau celah di sekitar batu agar bisa terus mengalir. Aliran air di sungai sendiri mengalir tanpa dorongan apapun. Ia mengalir apa adanya, terus mengalir tanpa terhenti oleh benda-benda yang menghalangi aliran. Akhirnya semua air akan berakhir di samudera, untuk selanjutnya mengalami siklus kembali seperti di awal dia mengalir.

Hidup mengalir seperti air sungai (Sumber : Pixabay)

Jika kita memperhatikan air, begitulah hidup. Hidup ibarat air yang mengalir. Agar Air bisa terus mengalir, syaratnya ia mengalir dari dataran tinggi ke dataran rendah. Karena itulah air selalu mengalir tanpa dorongan apapun. Ia bergerak apa adanya mengikuti kontur bumi dari dataran tinggi ke dataran rendah. Ia tidak pernah menolak arah ini. Demikian pula hidup manusia. Manusia akan menemukan kebahagian ketika hidup apa adanya, tanpa keinginan apapun. Keinginan selalu membuat kita menderita, terutama ketika keinginan tidak tercapai. Ketika keinginan tercapai pun, manusia akan selalu memiliki keinginan untuk lebih dan lebih. Dalam falsafah hidup orang jawa, kata menerima dalam hidup begitu penting. Menerima bukan berarti menyerah kalah. Bukan!! Menerima berarti menyadari apa yang kita punyai adalah karunia Tuhan atau berkah yang luar biasa indahnya. Ketika kita selalu hidup dalam penerimaan dan rasa syukur, hidup akan terasa tenang, nyaman, dan bahagia. Berbeda ketika kita hidup dalam dorongan emosi dan keinginan yang tak pernah habis jika dituruti. Manusia akan selalu tidak puas dengan apa yang didapat, dan selalu ingin lebih. Ketika keinginan ingin lebih selalu di turuti, siap-siaplah hidup anda akan habis untuk menuruti keinginan yang tidak pernah merasa puas.

Mimpi dan Keinginan kadang Menjadi Racun

Kita sering lupa bersyukur atas nikmat sederhana yang kita peroleh sehari-hari. Setiap bangun tidur, pernahkah anda bersyukur atas nikmat kesempatan hidup yang diberikan Tuhan di sebuah pagi? Rata-rata manusia bangun tidur segera berpikir, apa yang akan dilakukan hari ini, atau keinginan apa yang ingin anda capai hari ini. Padahal tahukah anda, banyak diantara kita yang malam sebelumnya masih berbincang dengan keluarga dan teman-teman, namun di pagi hari, Tuhan tidak lagi memberikan berkah kesempatan untuk bangun dari tidur? Sederhana saja, syukurilah nikmat kehidupan yang masih diberikan Tuhan untuk kita. Banyak orang yang justru mengisi kesempatan hidup dengan mengumbar emosi, ego, pikiran buruk, membenci orang lain, menyakiti mahluk lain, dan sifat-sifat serta perbuatan buruk lain. Apakah anda tidak bertanya, jika pagi ini anda masih hidup, bagaimana dengan siang nanti, malam nanti, atau besok pagi? Kesempatan hidup adalah sebuah kesempatan yang diberikan Tuhan, untuk melakukan sebanyak-banyaknya kebaikan. Ketika kesempatan hidup anda gunakan untuk menumpuk harta benda dan menanam keburukan, sekali lagi apakah nanti siang, nanti malam, atau besok pagi anda masih hidup?Jika tidak apakah harta yang anda tumpuk, dan keburukan yang anda tanam hari ini akan menyelamatkan hidup anda setelah mati? Ketika saya bercerita tentang tidak adanya keinginan ini, lantas istri saya bertanya, “Apakah kita tidak boleh memiliki mimpi?”

Mimpi dan keinginan adalah sebatas motivasi (Sumber : Pixabay)

Tentu saja boleh jika itu sebatas motivasi. Namun jika mimpi itu membelenggu hidup anda, dengan cara mimpi itu harus terwujud, itu yang saya katakana sebagai hidup tidak menerima apa adanya. Anda boleh bermimpi memiliki mobil, namun ketika tabungan anda tidak cukup untuk membeli mobil secara tunai, anda lalu berhutang hanya agar anda memiliki mobil seperti tetangga yang baru beli mobil baru. Padahal jika dihitung-hitung, hutang yang anda ajukan, cicilannya sungguh memberatkan hidup anda sehari-hari. Anda memang lantas memiliki mobil, namun anda juga akan menemukan kesulitan hidup sehari-hari, yang itu akan mengorbankan kebutuhan keluarga akibat cicilan hutang anda. Ini yang saya sebut sebagai memaksakan diri dan tidak menerima apa adanya, tidak melihat kemampuan anda dan memaksakan mewujudkan mimpi namun mengorbankan kenyamanan hidup anda sehari-hari.

Manusia Lahir dengan Total Prosentase 100 Persen!

Air yang selalu mengalir dari dataran tinggi ke dataran rendah, juga mengingatkan kita untuk terus belajar dengan sifat rendah hati. Dengan rendah hati, kehidupan akan mengalir apa adanya. Apakah tinggi hati tidak akan membawa kehidupan apa adanya?Jelas tidak. Tinggi hati akan menyeret anda kepada sifat ketamakan dan sekali lagi rasa tidak puas diri. Anda selalu ingin lebih dibandingkan orang lain di sekitar anda. Ketika ada orang lain yang memiliki kelebihan, hati menjadi panas dan iri, serta tidak menerima kekurangan. Akibatnya, anda akan melakukan apapun agar selalu ada di atas, tidak peduli apa yang anda lakukan itu merugikan anda dan orang lain atau tidak. Hidup anda akan selalu dikejar-kejar ambisi untuk lebih. Apakah hidup seperti itu menentramkan?Setiap waktu anda memikirkan bagaimana cara agar orang lain tidak bisa lebih dari anda. Padahal kekurangan adalah bagian dari hidup manusia. Tidak ada manusia yang dilahirkan sempurna 100 persen. Seorang sahabat saya memiliki anak yang lahir dengan kekurangan indera pendengaran. Namun setiap hari ia selalu membanggakan anaknya di media sosial. Ketika suatu hari kita bertemu dan bersama duduk ngopi di pagi hari, saya bertanya mengapa ia selalu membanggakan aktifitas anaknya di media sosial? Jawabnya sungguh membuat saya tersentuh, “Semua manusia dilahirkan dalam kondisi 100 persen mas..Namun Tuhan tidak penuh memberikan 100 persen itu…Ada yang diberi rejeki cuma 20 persen, cuma ia diberi kesehatan 80 persen…ada juga sebaliknya diberi rejeki 80 persen namun kesehatannya hanya 20 persen sehingga ia sering sakit-sakitan…Saya yakin prosentase itu tidak hanya berlaku untuk kesehatan dan rejeki saja, namun ada hal-hal lain seperti kebahagian, anak, orang tua yang masih sehat, dan lain-lain. Ada yang uangnya banyak, tapi tidak memiliki anak. Ada yang uangnya sedikit tapi anaknya banyak. Itulah yang saya maksud dengan Tuhan memberi manusia selalu 100 persen. Anak saya tidak pernah kekurangan pendengaran…Tuhan memberikan prosentase sisanya dari pendengaran anak saya yang hanya 20 persen ada di hal lain. Hal lain itulah yang sedang saya cari dan saya yakin ada…”

Seperti Aliran Sungai, Hidup Tidak Ada yang Lurus

Tidak ada aliran air, seperti di sungai, yang benar-benar lurus. Semua aliran sungai, walau terlihat lurus, namun pasti berkelok. Ketika aliran air menemui batu di tengah aliran, air pasti mencari jalan untuk terus mengalir di sekitar batu, walaupun harus melalui celah yang sempit. Hal ini mengingatkan saya kepada kehidupan, dimana tidak ada kehidupan yang benar-benar mulus. Hidup penuh kelokan-kelokan, dimana terdapat kesedihan, kebahagiaan, kesuksesan, kegagalan, dan lain-lain. Namun ketika hidup penuh rintangan, lihatlah bagaimana batu tidak membuat air berhenti mengalir. Banyak cara dan pilihan untuk menghadapi masalah. Walau kecil, tidak ada masalah yang tidak memiliki jalan keluar, asal anda tekun, ulet, dan pantang menyerah. Banyak orang yang gagal menghadapi masalah kemudian memilih jalan mengerikan, yakni bunuh diri atau stress hingga sakit jiwa. Orang yang berkata, “tidak ada jalan lain selain….” adalah orang yang picik dalam berpikir ketika ada masalah. Ingat hidup bukan pilihan, namun hidup menyediakan banyak pilihan. Kadang kita hanya tidak mau menjalani resiko pilihan yang menurut kita tidak enak jika kita lakukan. Kita hanya ingin menjalani pilihan yang menurut kita enak saja. Pilihan yang tidak enak kita abaikan. Padahal setiap pilihan memiliki konsekuensi sendiri. Manusia cenderung menuruti egonya yang tidak mau meninggalkan kenyamanan, ketika memilih pilihan yang menurutnya tidak enak. Jangan menyerah ketika anda menghadapi masalah. Berat ringan masalah hanyalah ada di pikiran anda. Masalah menjadi berat karena takut kehilangan sesuatu, baik kenyamanan, kehangatan, dan sesuatu yang anda punyai atau anda raih. Ketika anda menyatakan kepada diri anda, bahwa semua yang anda punya dan raih adalah hanya titipan dan milik anda, maka masalahpun akan menjadi lebih ringan karena beban anda untuk meninggalkan apa yang takut anda tinggalkan sudah berkurang jauh. Contohnya ketika seorang pengusaha bangkrut, hutangnya banyak, kemudian ia menjadi stress. Mengapa stress? karena ia diharuskan meninggalkan kenyamanan duniawi yang tak abadi. Ia takut memulai kemiskinan, dan takut bagaimana jika ia tidak bisa membayar hutang. Atau seorang pemuda yang stress karena diputuskan hubungan oleh pacarnya. Stress yang ia rasakan adalah karena ia selalu terikat dengan memori masa lalu dengan si pacar. Ia takut memulai hidup tanpa kenyamanan yang selama ini ia dapatkan dari si pacar. Padahal jika si pengusaha yang bangkrut di atas serta si pemuda yang stress diputus pacarnya, menghilangkan ketakutan serta memori masa lalu yang mereka simpan, saat masih memiliki harta atau memiliki pacar, rasa tertekan, kehilangan, hingga stress pun hilang seiring hilangnya memori kenyamanan di masa lalu. Namun lagi-lagi, lebih banyak orang yang suka terjebak pada ketakutan dan memori indah masa lalu yang hanya tersisa dalam ingatan. Ketakutan akan hilang jika memori itu anda kikis dan anda hilangkan, yang berakibat tidak ada masalah yang berat karena masalah akan menjadi ringan saat anda tidak memiliki beban memori masa lalu yang fiktif. Mengapa fiktif? Jelaslah…Masa lalu itu hanyalah seonggok ingatan, dan bukan lagi kenyataan. Kenyataan adalah saat ini. Bahkan masa depan juga sesuatu yang fiktif karena belum terjadi.

Masa depan anda ditentukan oleh apa yang anda lakukan saat ini

Hidup yang tak selalu lurus itulah yang kita hadapi setiap waktu di sisa hidup kita, hingga seperti air yang perjalanannya berakhir di samudera. Hidup juga begitu, setelah mengalir dan terus mengalir, akhirnya kita semua pasti sampai pada akhir perjalanan yakni kematian.

Tinggalkan Balasan