Ketika Kejujuran Menjadi Ironi

Di sebuah SMP negeri kota Yogyakarta tahun 80 an, seorang guru agama membagikan sebuah buku yang harus diisi masing-masing siswanya setelah selesai melakukan ibadah di luar sekolah. Buku harus diisi dengan tanda tangan pemuka agama yang memimpin ibadah.
Parjiyono adalah siswa yang paling banyak mengosongi buku, karena ia jarang melakukan ibadah yang diperintahkan agamanya. Dengan jujur, ia kumpulkan buku yang jarang-jarang diisi itu kepada guru agamanya.
Ketika semua buku terkumpul, gurunya memeriksa satu persatu buku siswanya tersebut. Parjiyono adalah satu-satunya siswa, yang isiannya bolong-bolong, bahkan hampir kosong. Melihat buku itu, dengan geram, gurunya menunjuk Parjiyono yang duduk pasrah menanti hukuman yang ada di depan matanya.

“Parjiyono, kenapa bukumu hampir kosong?!”tanya bu guru.

“Iya bu, saya memang jarang beribadah…”kata Parjiyono lirih.

Dengar jawaban jujur Parjiyono, bu guru tambah geram.

“Untung kamu bukan anakku. Kalau anakku, sudah saya cambuk sebagai hukuman. Karena di agama, seperti itulah hukuman bagi orang yang tidak pernah beribadah!” Kata bu guru dengan raut wajah menyeramkan seperti artis sinetron kalau sedang akting marah.

“Kamu sekarang keluar dari kelas selama pelajaran agama!”perintah bu guru dengan tangan kiri menunjuk keluar ruangan.

Parjiyono keluar kelas dengan lemas. Malu bercampur bingung berputar-putar di otaknya.

Selesai pelajaran agama, Ngatiman, sahabat karib parjiyono langsung menghampiri sahabatnya yang menahan lelah menjalani hukuman berdiri di luar kelas, selama satu jam pelajaran agama.

“Kamu bodoh banget sih yon….pake jujur-jujuran segala ngisi buku ibadah tadi. Kaya aku sama anak-anak lain lho…Aku juga gak beribadah, tapi buku aku penuhi semua. Aku karang aja tanda tangan yang berbeda. Aman to….gak kena marah bu guru….”Kata Ngatiman enteng.

Parjiyono semakin bingung. Bukankah jujur adalah ajaran agama?Tapi mengapa justru bu guru menghukum orang yang berusaha jujur berkata bahwa ia tidak beribadah, dibanding teman-temannya yang hampir kebanyakan mengaku beribadah namun ternyata berbohong?

“Pak ustad..pak ustad….sudah waktunya adzan dhuhur….”Kata Rajiman, pemilik warung kopi depan masjid, membangunkan lamunan masa lalu pak ustad Parjiyono yang membuat kopi pesanannya mulai dingin. 
.

Tinggalkan Balasan