Ketika Tuhan Tak Lagi Populer

Suatu senja di musim yang lalu, saat bunga mulai bersemi. Telepon berdering dan percakapan ini dimulai.

“Halo”, terdengar suara jenis bariton di telepon.

“Ya, haloo. Siapa ini?” tanyaku.

“Masa kamu lupa. Aku Tuhan.”

“Tuhan yang mana ya?”

“Tuhan yang dulu dikenalkan orangtuamu saat kamu masih kanak-kanak”.

“Owh iya, aku ingat. Ada apa?”

“Tidak ada apa-apa. Hanya menanyakan keadaanmu, sebab sudah lama sekali kamu tidak berkirim kabar kepadaku.”

“Owh…aku baik saja kok. Maaf ya tuhan, aku tidak bermaksud melupakanmu.”

“Iya, tidak apa. Aku sudah terbiasa dengan perilaku seperti ini.”

“Ya begitulah. Banyak kejadian yang akhirnya membuka kesadaranku akan keberadaanmu, tuhan…”

“Oh yaa? Syukurlah kalau begitu.”

“Aku tahu bahwa engkau ada sebelum aku dilahirkan, bahkan juga sebelum orangtuaku dilahirkan”.

“Ya, dan itu memang benar”.

“Iya tuhan. Hanya saja aku tidak mengerti, siapa yang menciptakan engkau pertama kalinya. Sementara engkau tahu, engkau juga disembah oleh saudaraku manusia lain dengan nama yang berbeda-beda. Bahkan diyakini tanpa mereka tahu siapa sebenarnya engkau.”

“Teruskan, aku mendengarkan.”

“Aku akhirnya mengerti, bahwa nama dan keberadaanmu tidaklah penting. Termasuk rumahmu dan segala aktifitas didalamnya. Dulu aku terlalu asik melihat promosi ketuhananmu yang disampaikan oleh agen-agen penciptamu. Sementara aku melupakan asalku, melupakan kesejatianmu yang sebenarnya menyatu dalam diriku”.

Sejenak keheningan merasuk dalam percakapan itu.

“Lalu ketika kamu sudah tahu akan keberadaanku yang sesungguhnya, apa yang akan kamu lakukan?” tanya tuhan.

Aku terdiam, dan tak lama kemudian telepon terputus..

Penulis : Detik Wicaksono (Pengasuh komunitas meditasi Cakra Mandhala)

Tinggalkan Balasan