Kisah Titik Air

Aku tiba-tiba melihat Tuhan seperti air yang maha luas. Jernih, murni, tak berwarna, terberasa, agung, tenang, dan sangat sunyi. Terhampar luas tak berbatas, tak bertempat. Manusia-manusia seperti titik-titik air yang menjadi bagian dari air luas tersebut. Air yang sama, tak berbeda.

Lalu ada masa dimana titik-titik air itu merasa terpisah dari air yang maha luas. Ia lalu berkelana menjadi hujan, kemudian mengalir melewati semua kontur alam dan kehidupan. Selama di perjalanan, ia bertemu dengan ratusan kotoran, seperti ego, iri, amarah, dan segala macam kotoran yang membuat si air jenih tadi menjadi terliputi oleh minyak.

Lalu ada masa dimana titik air tersebut akhirnya mengalir dan kembali kepada air yang maha luas tadi. Ia selalu diterima kembali karena pada dasarnya titik air itu tidak berbeda dengan air sang maha luas. Namun minyak yang menempel pada titik air tersebut membuatnya tidak bisa menyatu dengan air yang maha luas. Pada dasarnya air bening tetaplah air bening. Kotoran minyak hanya menempel pada si air bening. Namun tetap saja minyak itu menghalangi si titik air untuk menyatu dengan air yang maha luas. Ia harus dimurnikan dan dibersihkan dari minyak agar dapat menyatu dengan air maha luas. Maka si titik air pun kembali berkelana untuk memurnikan diri agar dapat kembali menyatu dengan air yang maha luas…….

Tinggalkan Balasan