gembala dan kesederhanaan

Kisahmu dan Seorang Gembala

Suatu hari seorang gembala meniup seruling bambu dengan nada indah, di tepi sebuah sungai nan jernih di pinggiran hutan. Ketika alunan nada indah itu sampai ke telinga sang raja, maka dijadikanlah si gembala itu sebagai pemain musik istana. Namun apa daya, tidak satupun nada indah dilantunkannya. Lalu raja memberi sebongkah emas kepada si gembala, agar sang raja bisa segera mendengar nada indah seruling si gembala. Namun gembala menangis karena semakin ia memikirkan nada indah itu, serulingnya justru semakin mengeluarkan nada sumbang. Sang raja pun marah, dan mengusir si gembala dari istana.

Si gembala pun kembali ke pinggiran hutan menggembalakan ternaknya. Ia tak mau lagi menyentuh serulingnya. Hingga suatu sore, ratu peri penjaga hutan berkata kepadanya, “Nada terindah tercipta dari kebahagiaan sejati yang muncul dari kesederhanaan. Ia tak bisa diciptakan dengan paksa, tak bisa dibujuk dengan harta, tak bisa ditempatkan di istana, dan tak bisa dilantunkan dalam belenggu ketidakbebasan. Ia muncul tiba-tiba ketika hati diliputi kebahagiaan sejati, jiwa jatuh dalam pelukan kebebasan sejati, dan kelembutan rasa yang menyatu dengan cinta tanpa syarat…”

Lalu gembala pun duduk di atas sebuah batu besar di tepi sungai. Semilir angin dan gemericik air membelainya dengan lembut. Kesederhanaan apa adanya, kebahagiaan tanpa syarat, dan kebebasan sejati. Inilah nada sebenarnya dari kehidupan…….

Sejak itu, nada indah selalu mengalun dari seruling si gembala, walau hidup masih terus menerus berubah. Hanya kesederhanaan apa adanya yang membuat nada indah terus mengalun, melewati batasan-batasan yang dibentuk oleh manusia sendiri. Aku melihat hidup seperti ombak yang datang dan pergi. Kadang hidup seperti angin yang sejuk, namun mendadak tercipta badai. Semuanya datang, dan kemudian pergi. Tidak ada yang abadi kawan, kecuali nada indah yang kau ciptakan dari kesederhanaan apa adanya…

Tinggalkan Balasan