Mau Menjadi Apa Dirimu?

Tergantung…
Mau jadi apa dirimu?

Banyak orang yang iri dengan kehidupan orang lain yang dianggap lebih sukses. Kadang hal itu terjadi ketika kita reuni dengan kawan-kawan lama. Dulu ketika kita sekolah di sekolah yang sama, semua satu tongkrongan dengan nasib yang hampir setara. Kecuali ada teman yang bapaknya kaya.

Lalu setelah lebih dari 20 tahun berpisah, diantara teman-teman lama dahulu, ada yang hidupnya miskin, biasa-biasa, atau sukses…kaya…dan bahkan terkenal!
Lalu kita iri dengan kesuksesan mereka, dan menganggap hidup kita gagal.
Come on…. Tidak ada satupun hidup manusia yang sama bos! Banyak orang hanya melihat hasil semata. Oh dia sekarang kaya…oh dia sekarang sukses…oh dia sekarang terkenal….

Kalau sukses dan berhasil dalam hidup menggunakan patokan keseragaman ilmu ukur mungkin iya. Berhasil identik dengan kaya dan terkenal…Namun kita lupa, seperti apa prosesnya?Mereka yang terlihat sukses, seberapa menderita mereka dahulu?Seberapa keras perjuangannya?

Saya memiliki sahabat seorang koki yang kini memiliki usaha pastry yang sangat sukses. Dia bahkan pernah bekerja sebagai salah satu koki dari sultan Brunei Sultan Hassanal Bolkiah. Salah satu warung kopi bernama Starbucks bahkan selalu berlangganan kue kering buatan teman saya. Belum lagi instansi-instansi lain yang kadang sampai ia tolak pemesanannya karena saking penuhnya pesanan.
Ketika saya iri sekaligus memuji kesuksesan usahanya, ia berkata…
“Kamu hanya melihat saya yang sekarang…coba 15 tahun silam kamu melihat saya. Mungkin kamu tidak akan bilang aku sukses. Bahkan kamu mungkin tidak tega melihat hidupku sehari hari menjajakan kue kering keliling dengan sepeda. Kamu tidak melihat ketika beberapa kali usahaku bangkrut dan aku harus menahan lapar karena benar-benar tidak ada pemasukan. Saat kamu bekerja dengan nyaman, aku masih tidur di kontrakan kecil dan menahan lapar..”

“Lalu apa yang terjadi?” Tanyaku penasaran.

Diapun menjawab dengan senyum.
“Aku mengubah sudut pandang. Aku tidak menganggap lapar sebagai kemiskinan. Aku menganggap lapar sebagai puasa. Aku tidak menganggap bahwa tidak punya uang berarti miskin. Semua hanya label yang diberikan oleh manusia, terutama oleh diri kita sendiri. Saat kita merasa miskin, maka kita memang benar-benar miskin. Aku pun tidak mau menganggap diriku miskin. Tidak punya uang apakah lantas miskin? Miskin hanya ada di pikiranmu yang terus menganggap bahwa kamu kekurangan. Miskin karena kamu selalu membanding-bandingkan dirimu dengan orang lain. Aku lantas berpikir jika tugas paling utama manusia bukanlah kaya dan sukses karena materi. Namun tugas utama manusia adalah menjalani hidup saat ini, menjalani sesuatu yang dapat berguna bagi orang lain. Dengan itulah pelan-pelan hidupku berubah…”

Jadi jangan labeli dirimu dengan kaya miskin, sukses gagal. Karena semua label pasti bikinan manusia. Esensinya ketika semua label itu hilang, apakah ada orang kaya atau miskin?apakah ada orang sukses dan gagal?Semua tergantung dari apa yang kita pikirkan dan lakukan saat ini. Sekali lagi kita hanya “menjalani hidup” dengan cara yang berbeda-beda…Jangan lakukan standarisasi kebahagiaan. Belum tentu apa yang dianggap dimiliki orang lain, cocok jika kita jalani. Semua yang terjadi saat ini, adalah akibat proses yang dilakukan di masa lalu…

Lalu, mau jadi apa dirimu?Mau menjadi orang lain, atau menjadi diri sendiri?

Tinggalkan Balasan