Megahnya Menara Masjid di Kampungku

Sebuah kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta baru-baru ini membangun sebuah menara masjid megah setinggi 68 Meter di samping depan masjid agung kabupaten. Saking megah dan bagusnya, saya pun kagum setiap melewati menara tersebut. Namun setiap kali rasa kagum saya muncul, ada pertanyaan pula yang muncul mengiringi rasa kagum saya, “Berapa anggaran pembangunan menara masjid megah ini?”

Tidak ada yang salah untuk memperindah masjid. Keindahan masjid adalah salah satu bentuk penghargaan kepada Sang Pencipta. Namun saat ini pemahaman memakmurkan masjid tidak diimbangi dengan fungsi masjid itu sendiri.

Saat saya bertanya, berapa dana yang dibutuhkan untuk membangun menara masjid megah setinggi 68 meter itu, saya sedang berusaha mengajak anda untuk bertanya, apakah di kabupaten itu tidak ada lagi orang miskin? Miskin tentunya memiliki banyak kriteria, dari mulai miskin harta hingga miskin pemahaman spiritual. Jika anggaran milyaran rupiah hanya digunakan untuk membangun menara masjid, kantor takmir yang mewah, perpustakaan yang indah, lalu apakah hal itu berpengaruh terhadap kehidupan orang-orang banyak? Mungkin hanya segelintir pengurus saja yang menikmati. Namun bagi orang-orang miskin, mereka tetap saja setiap hari harus berpikir bagaimana besok ia memberi makan anak-anaknya, bagaimana membayar sekolah anaknya. Alangkah indahnya jika uang milyaran rupiah itu digunakan untuk memperbanyak bea siswa bagi anak-anak kurang mampu, atau memperbanyak aktifitas-aktifitas pembelajaran agama hingga ke desa-desa, agar semua orang menjadi paham esensi dari agama, yakni kebaikan dan cinta kasih kepada sesama, bukan pemahaman agama keliru yang mementingkan ego dan kekerasan.

Saat ini, orang beramai-ramai mewaqafkan atau menyumbangkan tanahnya untuk membangun rumah ibadah. Ada juga yang berlomba-lomba mempercantik masjidnya. Namun mereka lupa bahwa sebelum mempercantik masjid, percantiklah akhlak manusianya, percantiklah ekonomi masyarakatnya. Banyak daerah yang masjidnya cantik dan indah, namun masyarakat di sekitarnya masih miskin, dan pengetahuan agamanya rendah.

Suatu hari ada seorang kawan yang berkata, bukankan kalau masjidnya indah, orang akan tertarik datang dan belajar agama? Itu betul. Namun yang kita bicarakan di sini adalah meletakkan dasar pondasi keimanan. Saya mencontohkan, ketika anda memiliki hp baru, anda pasti akan sangat mengagumi dan berhati-hati memperlakukan hp tersebut. Namun setelah hp tersebut lama anda pakai, anda akan mulai bosan dan memperlakukan hp anda dengan tidak hati-hati lagi. Parahnya anda lantas berharap segera ganti hp jika anda sudah memikiki rejeki lebih. Berbeda jika anda memiliki hp baru karena ingin memiliki fungsinya, bukan bentuknya. Bahkan ada cerita menarik seorang kawan bule asal Britania yang sehari-hari bekerja di sebuah perusahaan tambang minyak di Qatar. Harusnya ia bisa saja membeli hp dengan harga termahal sekalipun. Namun karena ia lebih mementingkan fungsi, hpnya hanya hp merk Nokia jadul yang layarnya masih hitam putih. “Bukankah fungsi hp sebenarnya untuk menelepon atau mengirim pesan?Kalau internet saya akan lebih nyaman menggunakan tablet saya atau laptop saya yang layarnya lebih besar. Jadi buat apa membeli hp mahal-mahal?”Jawabnya sambil menunjukkan hp jadulnya yang masih bersih dan terawat dengan baik.

Hal ini berlaku sama dengan rumah ibadah. Esensi dari rumah ibadah adalah hanya sarana tempat ibadah, dan pusat belajar keagamaan. Ketika orang datang karena bentuknya bagus, suatu hari ia tidak akan datang lagi karena kekaguman pada bentuk yang indah tidak akan berlangsung lama. Ketika ia sudah bosan, maka ketertarikannya datang ke masjid akan berkurang. Hal ini berbeda jika, masyarakat dibangun pondasi keimanannya. Ia datang ke masjid tidak untuk mengagumi masjid. Ia datang ke masjid karena ingin beribadah dan berjumpa dengan Sang Pencipta. Ketika kesadaran itu telah terbangun, seperti apapun bentuk masjidnya, ia akan melihat masjid atau rumah ibadah selalu indah. Sederhana indah, apalagi megah.

Orang sekarang lupa bahwa masjid sebenarnya ada dalam diri masing-masing manusia. Keindahan masjid yang dibangun justru harus berawal dari keindahan masjid dalam diri masing-masing. Ketika masjid dalam diri setiap manusia indah, maka masjid di dalam bentuk arsitektur akan otomatis menjadi indah, apapun bentuknya. Dalam sebuah tindakan, pasti ada satu dua pikiran manusia yang mempengaruhi pemikiran manusia lainnya. Demikian pula pembangunan menara masjid yang cukup megah itu. Mungkin ada satu dua orang yang dengan ego berkata bahwa dengan membangun menara megah, maka hal itulah yang dimaksud memakmurkan masjid, sekaligus simbol kemakmuran masyarakat sekitarnya. Namun kadang hal itu adalah ego, dimana kadang ego dan keinginan harus dipaksakan dengan cara menutupi kenyataan yang sebenarnya. Tidak salah memang mempercantik masjid, namun harus dilihat apakah tingkat spiritual dan pemahaman masyarakatnya juga telah cantik, atau sebaliknya?Apakah tingkat ekonomi masyarakatnya telah benar-benar makmur?Masih ada satu saja masyarakat yang masih kesulitan dalam ekonomi, harusnya menjadi tanggung jawab masyarakat lainnya untuk membantu, dan bukan justru menutupi hanya untuk menampilkan sebuah citra daerah yang makmur kepada daerah lain.

Tuhan tidak akan anda jumpai dalam rumah ibadah yang indah. Tuhan hanya akan anda jumpai dalam pribadi dan akhlak yang indah, yakni rumah ibadah di dalam diri anda. Harusnya mempercantik rumah ibadah dalam bentuk arsitektur, menjadi keputusan terakhir ketika semua masyarakat telah makmur, tanpa kecuali, dan seluruh masyarakat telah memahami konsep serta esensi spiritual ketuhanan dengan benar, yakni kebaikan dan cinta kasih. Memakmurkan masjid, lebih dalam artinya dengan memakmurkan masjid di dalam diri masing-masing manusia. Renovasi masjid sah-sah saja, asal sesuai kebutuhan dan tidak berlebih-lebihan tanpa melihat kenyataan di sekitarnya.

Tinggalkan Balasan