Melepaskan dengan Cinta

Suatu hari, kalung istri saya hilang, ketika hendak dipakai ke pesta pernikahan seorang sahabat. Betapa bingungnya istri saya ketika kehilangan kalung, yang dibeli dari hasil menabung tersebut. Saya hanya berkata, “Cari seperlunya. Tidak perlu bingung, dan ngotot mencari. Mungkin begitulah cara Tuhan mengajarkan kita untuk melepas sesuatu”.

Melepas sesuatu, mungkin istilah tersebut sangat sepele. Namun anda bisa lihat, betapa banyak manusia yang tidak mau melepas sesuatu yang dianggap menjadi “miliknya”. Semakin sulit hal itu didapat, semakin anda mencintainya, semakin dekat barang atau sesuatu itu dengan anda, maka anda akan sulit sekali melepas, ketika tiba saatnya anda harus melepas. Orang tua sulit melepas ketika anaknya harus hidup mandiri atau menikah. Atau sebuah benda berharga yang anda beli dengan susah payah seperti kalung istri saya, atau karier, jabatan, uang, dan hal-hal lain yang anda dapatkan dalam kehidupan, akan sangat sulit untuk anda lepas ketika mereka harus hilang atau pergi. Bukankah semua yang anda cari dan dapatkan di dunia ini pasti akan hilang atau anda tinggalkan? Tidak ada satupun materi di dunia yang akan terus ada bersama anda.

Manusia lahir tidak ada yang membawa materi. Semua materi yang anda raih dan kejar, hanya ada di dunia. Ketika manusia mati, tidak ada satupun materi yang menyertai anda hidup di dunia akan dibawa mati. Semua ditinggalkan tanpa tawar menawar, termasuk nyawa manusia. Namun banyak manusia menganggap materi yang didapat dan semua yang ada disekilingnya, termasuk keluarga, adalah miliknya. Sehingga saat satu persatu hilang, manusia menangisinya tanpa henti. Kesedihan menjadi seperti kiamat kecil. Tidak ada kata “hilang” dalam kamus kehidupan. Sekali lagi, ketika manusia datang ke kehidupan tidak membawa apa-apa, demikian juga ketika manusia ketika pergi tidak membawa apa-apa, lantas apa yang “hilang”?. Hilang hanya ungkapan ketika kita merasa memiliki apa yang kita dapatkan di dunia.

Melepaskan adalah satu-satunya cara agar kita tidak terikat dengan materi, yang membuat kita merasa memiliki. Melepaskan, jika kita telaah sebenarnya bukan kehilangan, namun mengembalikan semua hal yang bukan menjadi hak kita. Maka ketika kita sadar harus melepaskan apa yang bukan menjadi milik kita, melepaskan tidak hanya akan mendapatkan ras ikhlas dan bahagia, namun juga cinta. Ketika seorang ibu dengan berat hati harus menyapih anaknya, tentunya sang ibu sedang melepaskan si anak dengan cinta. Karena menyapih anak ditujukan agar si anak mandiri. Keinginan agar si anak mandiri inilah yang tumbuh karena cinta. Ketika anda memberikan sedikit harta anda kepada seorang fakir, maka anda sedang melepas harta anda dengan cinta, agar si fakir bisa membelanjakannya untuk sekadar membeli makanan, membayar sekolah anaknya, atau membeli obat bagi keluarganya yang sedang sakit.

Melepas dengan cinta ini tidak akan anda dapatkan ketika anda masih berpikir untuk bertransaksi dengan Tuhan. Seberapa besar kebaikan anda untuk melepas, tergantung dari berapa pahala yang anda dapatkan. Melepas seperti inilah yang jauh dari cinta. Bukankah Tuhan memberi anda oksigen, air, dan makanan juga tidak melalui transaksi dengan anda?

Kembali kepada kalung istri saya tadi, tidak peduli berapa besar nilainya. Nilai adalah takaran manusia saja. Kalung bukan milik istri saya. Ketika istri saya kemudian melepaskannya, iapun kemudian merasakan kebahagiaan yang datang kemudian. Itulah esensi melepaskan karena cinta.

Uraian ini saya akhiri dengan mengutip kata-kata indah dari Ulama sufi terkenal Jalalludin Rumi : “Semua adalah sebuah perjalanan. Ibarat anda adalah seorang petualang, maka hidup ini adalah sebuah persinggahan sebentar. Ambil yang disediakan dunia secukupnya saja, sebagai bekal untuk melanjutkan perjalanan yang lebih panjang..”

Tinggalkan Balasan