Melihat ke Dalam Diri

Banyak ternyata manusia yang ingin dianggap kritis. Semua hal diluar dirinya yang tidak sesuai dengan akal logika dan kepentingannya ia kritisi. Ketika seorang kawan menegur, ia berdalih bahwa kritis itu perlu untuk menjadi penyeimbang.
Maafkan jika saya salah, bukankah kritis ke luar hanya memperpanjang ego manusia agar pemikirannya dianggap benar?Walaupun kemudian katakanlah ia bilang, kan kritikannya juga tidak perlu didengar..yang penting ia sudah menyampaikan kritik.

Beda dengan ketika kita kritis terhadap diri kita sendiri. Orang yang kritis ke luar, rata-rata tidak akan mau mengendapkan egonya. Baginya, akal, logika dan pengetahuan yang dia punyai adalah sumber kebenaran yang harus diperjuangkan. Uniknya saat orang lain mengkritiknya, ia akan segera membuat barikade dengan ketangguhan diplomasi, dioplos dengan ego, menepis kritik terhadap dirinya yang kemudian disebut dengan “mempertahankan idiealisme”.

Mungkin beda cerita dengan orang-orang yang memilih lebih banyak diam, namun rajin mengkritisi dirinya sendiri. Ketika setiap manusia rajin mengkritisi dirinya sendiri, apakah lantas ada kebobrokan yang perlu dikritisi lagi?Bukankah kebijaksanaan tertinggi adalah ketika kita melihat ke dalam diri kita, dibandingkan sibuk melihat kesalahan orang lain?

Ah sudahlah…saya juga rupanya sedang mengkritisi orang lain…..

Tinggalkan Balasan