EGO

Hari itu benar-benar menarik..

Dalam satu hari saya diperlihatkan 3 peristiwa yang hampir mirip di jalanan yang menjadi gambaran nyata kompetisi manusia yang penuh ego.

Pagi hari itu, seperti biasa saya berkewajiban mengantar anak pertama saya yang baru duduk di bangku SMP kelas 1 atau sekarang disebut kelas 7. Kebetulan hari itu adalah hari-hari awal anak saya bersekolah di SMP yang letaknya sekitar 2 Km dari rumah saya. Karena jaraknya tidak jauh, dan saya memang sedang melatih anak saya untuk mandiri, pagi itu saya mengizinkan ia untuk bersepeda ke sekolah. Namun karena saya masih khawatir jika ia menyeberang jalan raya di depan rumah, maka saya kawal anak saya dengan motor hingga jalan depan gang rumah untuk menyeberang jalan raya yang selalu ramai di pagi hari. Apa yang terjadi awalnya membuat saya jengkel. Ketika anak saya mau menyeberang jalan bersama beberapa anak sekolah lain, mereka harus menunggu lama walau hanya menyeberang jalan yang lebarnya sekitar 5 meter saja. Setiap mau menyeberang, motor-motor yang lewat di jalan raya lebih memilih untuk membunyikan klakson dan tidak mau menginjak rem untuk memberikan kesempatan anak-anak ini untuk menyeberang. Padahal jaraknya masih cukup jauh, dan sangat aman untuk menginjak atau menekan rem motor. Hampir semua motor lebih memilih untuk tancap gas, seolah-olah tidak mau didahului anak-anak ini menyeberang. Tidak hanya tancap gas, mereka pun memilih membunyikan klakson, bahkan ada yang berkali-kali, seolah-olah ingin bilang, “Whoi!!minggir!!!saya mau lewat!!”. Rombongan anak-anak yang mau menyeberang itupun, termasuk anak saya, saya minta untuk mengalah pada orang-orang dewasa yang mungkin, mereka sedang dikejar oleh kehidupan. Namun setelah hampir 5 menit tidak ada yang mengalah, sayapun memutuskan untuk maju duluan, dan menghentikan motor saya di tengah jalan untuk memberi kesempatan anak-anak muda ini menyeberang jalan. Beberapa motor, yang tadinya mau tancap gas pun membunyikan klason panjang. Saya hanya melihat mereka dengan kasihan dan geleng-geleng kepala. Begini ya contoh yang dilihat anak-anak generasi penerus ras manusia dari orang-orang dewasa yang harusnya lebih punya nalar, dan bisa dijadikan contoh?

Sekitar sejam kemudian, saya pun pulang dari mengantarkan anak kedua saya bersekolah. Karena jarak sekolah anak kedua saya ini agak jauh, biasanya setelah mengantar anak, saya mampir sarapan soto di kawasan Ketingan, Sleman. Ketika saya hampir mencapai warung soto, di depan saya seorang wanita muda terlihat kesusahan mendorong motornya yang sepertinya mogok. Karena jalan memang tidak terlalu lebar, saya pun berniat menepi ke kiri jalan dan berhenti di belakang si mbak yang mendorong motor untuk mencoba membantu. Ketika saya meminggirkan motor, di belakang saya ada sekitar 5 motor yang harus jalan pelan karena terhalang si mbak yang mendorong motor. Mereka sebenarnya bisa bersabar dengan menekan rem. pelan-pelang, dan menunggu waktu lalu lintas yang datang dari arah sebaliknya agak sepi. Saya perkirakan tidak ada 3 menit jika mereka mau sabar sebentar, karena jalan itu ramai, namun tidak seramai jalan raya yang lain mengingat jalan itu adalah jalan pintas ke arah kota Yogyakarta. Namun yang terjadi pasti bisa anda tebak. Orang-orang bermotor ini memilih untuk membunyikan klakson meminta si mbak yang mendorong motor itu untuk minggir karena mereka mau lewat. Si mbak itu pun bersusah payah berhenti dan meminggirkan motornya di tanah di pinggir jalan. Tidak ada niatan sedikitpun dari pemotor ini untuk membantu.

Siangnya, saya sedang berkendara di kawasan jalan Pasar Kembang, selatan stasiun Tugu Yogyakarta, lagi-lagi sebuah peristiwa membuat saya geleng-geleng kepala. Jalan siang itu sangat ramai, karena aktifitas di stasiun dan waktu pulang sekolah. Seorang ibu tua mengendarai sepeda onthel yang sudah lusuh menyusuri jalanan yang ramai. Bajunya sederhana, khas wanita Jawa lama dengan kebaya lusuh, dan jarit yang juga dalam kondisi sudah sering dijemur. Semua orang tahu kalau mengendarai sepeda pasti kecepatannya lambat. Tiba-tiba dari belakang saya, menyalip seorang ibu setengah tua mengendarai motor berboncengan dengan anaknya yang mengenakan seragam SD. Sepertinya si ibu baru saja menjemput anaknya pulang dari sekolah. Namun saya sendiri tidak mengerti apa yang membuatnya kalap dan terburu-buru saat menyalip motor saya dari kiri dengan mengklakson saya. Setelah menyalip motor saya, si ibu itupun langsung berada di belakang ibu tua pengendara sepeda. Ibu pengendara motor kesulitan menyalip si ibu pengendara sepeda karena sebelah kanan ibu pengendara sepeda adalah antrian mobil-mobil yang berhenti di traffic light, sekitar 100 meter dari si ibu pengendara sepeda. Tanpa berpikir panjang, si ibu pengendara motor pun membunyikan klakson berkali-kali dengan panjang…”Tiiiiinnnnn tiiiiinnnnnn tiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnn!!” seolah-olah sedang bilang, “Whoiii minggir!!sepeda minggir!!!!saya orang penting harus lewat!!!!”. Si ibu pengendara sepeda pun merasa di klason kemudian turun dari sepeda dan memilih berhenti lalu minggir ke pinggir jalan dengan mepet sedekat-dekatnya ke trotoar tanpa berkata-kata. Si ibu pengendara motor itu pun berlalu dengan angkuh, dan sekitar kurang dari seratus meter kemudian ia harus berhenti karena terhadang lampu lalu lintas yang menyala merah. Saya heran, sebegitu terburu-burunya kan si ibu itu?Apa yang di pikirannya ketika dengan arogan memilih membunyikan klakson berkali-kali dibanding memilih sabar sebentar sebelum mencapai lampu lalu lintas atau traffic light?Apa dia tidak berpikir pelajaran apa yang diserap anaknya yang duduk di belakang melihat arogansi ibunya??

Orang sekarang lebih memilih untuk membunyikan klason dan menaikkan gas kendaraannya dibanding memilih untuk menekan rem. Ego sudah membuat manusia lupa pada nalar dan nurani. Hidup membuat mereka ketakutan akan sesuatu, mungkin terlambat ke kantor, terlambat rapat, atau bahkan hanya sekadar malas memberikan kesempatan kepada orang lain. Begitulah hidup manusia sekarang bertumbuh. Adanya aku dan kamu, selalu harus dimenangkan oleh aku, kamu harus kalah. Uniknya setelah melakukan semua, tidak ada satu kemenanganpun yang diraih, selain hidup semakin menderita oleh sifat ego yang semakin menguasai. Memberikan sedikit waktu, dan kesempatan kepada orang lain menjadi sesuatu yang mahal di jaman sekarang. Manusia hidup dalam ketakutan yang luar biasa akan masa depannya. Ketika berhenti di traffic light di pagi hari, saya suka memperhatikan wajah-wajah manusia berkendara yang ada di jalan. Rata-rata tidak ada yang memiliki wajah ramah senyum dan bahagia. Yang saya jumpai wajah tegang, galak, stress, dan takut di raut wajah manusia-manusia jalanan ini. Itulah mengapa kehidupan sekarang begitu keras, dan tidak lagi lembut. Manusia satu sama lain saling tikam, bunuh, jegal, dan mencelakakan. Manusia sudah jauh lebih rendah dari hewan, yang diciptakan hanya memiliki naluri, tanpa akal, pikiran, dan hati nurani.

Tinggalkan Balasan