Meminta Maaf itu sangat Sulit

Dalam sebuah obrolan sore di warung kopi depan masjid, Samijo bertanya kepada pak ustad Parjiyono.

“Pak ustad, seandainya dalam sebuah ceramah pak ustad melakukan kesalahan dan menyinggung orang lain, apakah pak ustad bersedia meminta maaf?”

Mendapat pertanyaan itu, pak ustad Parjiyono pun menghirup kopi panasnya.

“Bersedia….” Jawabnya singkat.

“Lho tapi apa pak ustad tidak malu melakukan kesalahan?Kan pak ustad dianggap sebagai sumber ilmu kebenaran di dusun ini?Nanti kalau pak ustad tidak dipercaya lagi bagaimana?” Sambut Marwoto yang duduk jegang di sebelah Samijo.

“To..manusia itu tidak ada yang sempurna. Bahkan Rasulullah pun sekali waktu pernah marah, walaupun kemudian ditegur oleh malaikat Jibril. Saya bukan sumber ilmu kebenaran. Pemilik ilmu adalah Tuhan. Ilmu tidak ada yang salah, yang salah adalah yang menyampaikan dan memahaminya dengan salah. Jadi karena saya hanya menyampaikan sesuai pemahaman saya, bisa jadi saya salah atau khilaf. Perkara nanti orang tidak percaya lagi kepada saya, tidak masalah. Saya menyampaikan ilmu tidak untuk cari uang, namun menunaikan tugas hidup yang dibebankan kepada saya, karena saya sudah diberi ilmu lebih dari Tuhan. Percaya tidak percaya kan tergantung bagaimana jemaah membuka hati dan menganalisa dengan pikiran masing-masing. Buktinya kalau saya salah dan jemaah mengingatkan, artinya jamaah masih memiliki logika sehat dan benar. Beda jika saya salah, lalu dibiarkan saja dan terus dianggap benar, celakalah saya. Orang percaya kepada ilmu itu harus diawali dengan analisa, tidak grusa grusu dan membabi buta. Mentang-mentang ustad terus tidak salah? Kan kitab suci itu multi tafsir. Satu ayat saja, ada ratusan bahkan ribuan tafsir berbeda, tergantung bagaimana kita memahaminya. Jika tafsir saya salah menurut jemaah, mari diskusi. Saya tidak mau menang sendiri. Sekali lagi mentang-mentang ustad, terus saya paling benar. “

“Lha tapi jika ada umat agama lain yang tersinggung bagaimana pak ustad?”tanya Samijo.

“Pertama, hidup itu harus instrospeksi kepada diri kita sendiri dulu, apakah kita sudah menjalankan apa yang diajarkan agama dengan benar. Jangan menyinggung kepercayaan orang lain, karena dengan membuat orang sakit hati saja, itu sudah sebuah kesalahan. Bukankan agama mengajarkan untuk santun dan tidak menyinggung orang lain? Lha wong pribadi kita masih belum benar menjalankan agama kok ngomentari agama lain. Makanya jadi ustad itu tidak sembarangan orang bisa mengklaim dirinya ustad atau ustadzah. Saya harus bercermin kepada diri saya sendiri dulu, baru mengatakannya kepada jemaah. Jika diri kita masih belum melakukan tapi menganjurkan kepada jemaah, namanya saya munafik. Itulah mengapa selain Al-Quran, nabi menganjurkan untuk melihat hadits. Hadits itu berisi perilaku nabi, contoh yang diberikan nabi atau praktek yang dilakukan nabi dalam hidup beliau sehari-hari. Menyampaikan ajaran atau ilmu, lebih baik dengan perbuatan, bukan perkataan. Itulah mengapa banyak orang yang semakin tinggi ilmu agamanya, dia justru semakin irit bicara. Karena semakin tinggi ilmu agamanya, dia justru akan merasa bodoh dan tidak tahu apa-apa. Hiduplah dengan terlebih dahulu instrospeksi kepada diri kita sendiri. Tidak usah ngurus orang lain. Memberi tahu orang itu mudah, namun memberi tahu diri sendiri itu jauh lebih sulit….”

Setelah menyeruput kopinya, pak ustad melanjutkan.

“Meminta maaf itu sulit. Mungkin lebih sulit daripada menemukan caranya terbang ke bulan. Seorang insyinyur pandai yang menciptakan roket untuk terbang ke bulan, bisa jadi kesulitan saat ia harus meminta maaf kepada publik, karena kesalahan kecil yang ia perbuat. Memaafkan itu sama saja merendahkan diri kita di depan orang lain karena kita memiliki kesalahan. Namun merendahkan diri ini tidak lantas sama dengan merendahkan derajad kita kepada manusia lain. Sifat ketuhanan manusia sudah dibekalkan Tuhan semenjak kita lahir, bahkan waktu masih di dalam kandungan ibumu. Namun sifat yang suci itu tertutup oleh iblis yang bernama ego. Merasa saya orang pintar, saya orang pandai, saya orang kaya, saya seorang pejabat, saya seorang ustad, dan lain-lain. Padahal apa yang dimaksud dengan saya adalah itu tadi semua ilmu pemberian Tuhan untuk bekal kita hidup di dunia. Semua kepunyaan Tuhan, dan kebetulan kita sedang memakai “pakaian ilmu tadi”. Nanti saat kita mati, apa kita masih dianggap pintar, kaya, ganteng, cantik, pejabat, ustad? Mungkin iya, namun hanya tinggal nama saja yang mungkin akan segera dilupakan orang. Kita sendiri kembali ke asal tanpa membawa semua itu tadi. Nanti di kehidupan selanjutnya, apa kamu akan ditanya berapa kekayaanmu, apa pekerjaanmu?Mungkin iya, tapi bukan untuk membeda-bedakan dengan yang lain. Justru pekerjaan itu akan membuat kita menjadi berat memikul tanggung jawab. Jika jadi pejabat apakah sudah amanah, jika jadi ustad apakah sudah memberi contoh kebaikan kepada orang lain?Jika tidak, tendang bokongmu masuk neraka kamu!”

Pak ustad berhenti sejenak, dan menyalakan sebatang rokok kretek yang sedari tadi tergeletak di sebelah gelas kopinya.

“Pernah ada satu kasus, saat seorang ustad terkenal menyinggung dan menghina ajaran agama lain. Saat umat agama lain memprotes dan meminta dia meminta maaf, dia dengan arogan menolak dengan alasan dia hanya menyampaikan ajaran agamanya. Lho..lho..lho…iki kepiye to.. Ajaran agama apa yang ia sampaikan? Apakah Islam mengajarkan orang untuk menghina?Berarti dia tidak paham dong ajaran Islam. Egonya masih mendominasi dirinya. Saat saya melihat rekamannya, semua orang yang waras tahu pasti kalau si ustad sedang menghina agama lain dengan gaya bicara dan gestur tubuhnya. Ego menutupinya dari jalan kebenaran yang sesungguhnya. Mungkin ia merasa dirinya ustad, jadi tidak mungkin ia berbuat salah. Atau mungkin ia takut sepi job panggilan, kalau ia meminta maaf karena kesalahan yang ia perbuat. Atau ia takut publik akan menghina dan mengucilkan si ustad begitu publik tahu ia berbuat salah? Justru dengan tidak mau meminta maaf, publik jadi tahu seberapa tinggi tingkat pemahaman agama si ustad, dan seberapa tinggi kualitasnya sebagai manusia. Ia yang masih takut salah, takut tidak mendapat job, tidak lagi mendapat kehormatan, adalah kualitas manusia yang belum layak untuk menjadi penceramah. Ia tidak mau berkaca kepada dirinya sendiri, bahwa manusia adalah sumbernya kesalahan. Egonya masih tinggi, dan ketakutannya masih mendominasi batin dan pikirannya. Artinya ia belum layak menjadi penyampai kebaikan ilmu Tuhan yang suci. Memaafkan orang lain memang sulit, namun lebih sulit untuk meminta maaf, karena pada dasarnya manusia yang penuh ego tidak mau merasa lebih rendah, lebih kotor, lebih mundur, lebih bodoh sehingga hal itu menutupi sifat ketuhanan manusianya. Dia tidak ingat jika nanti egonya itu akan dipertanggung jawabkan di depan Tuhan, apalagi dalam posisinya sebagai ustad. Padahal harusnya dengan meminta maaf, ia telah mendeklarasikan dirinya sebagai manusia biasa yang penuh kekurangan, karena kesempurnaan hanya milik Tuhan. Jikapun ia lantas disepelekan manusia, derajadnya justru akan tinggi di hadapan Tuhan. Ia justru akan menyempurnakan ilmu agamanya, dengan merasa bahwa ia masihlah manusia biasa yang bisa kapan saja berbuat salah…”

Samijo dan Marwoto pun manggut-manggut sambil pikirannya menebak siapa ya kira-kira ustad terkenal yang dimaksud pak ustad Parjiyono? Sementara itu adzan maghrib pun mulai dikumandangkan…..

Tinggalkan Balasan