Menunggu Ashar

Masih menjadi pertanyaan besar, kenapa manusia sering membenarkan tanpa mengkaji bagian mana yang baik.

Kamu tahu bagaimana orang harus berbuat baik? Sebenarnya kebenaran dan kebaikan seperti api dan panas, dia sudah menyatu memberikan kedikdayaannya melebihi apapun yang dimiliki manusia itu sendiri. Bagiku kebaikan adalah tujuan akhir, bukan sebuah kebenaran yang dicari! Hasil dari sekian banyak kebenaran adalah kebaikan. Aku tidak pernah mendengar ada seorang pemain bola terbenar! Yang ada pemain bola terbaik! Manusia sering berpikir bagaimana menstabilkan antara kebaikan dan kebenaran sehingga ia lupa diri untuk berbuat kebaikan sesama manusia.

Sore itu aku menunggu sholat Ashar di jalan Senopati. Seorang ibu menjajakan dagangannya. Dia tampak lusuh dengan pakaian daster warna ungu. Duduk terdiam memandangi orang-orang yang lewat. Tak satupun orang memperhatikannya, langkah ibu itu mulai terlihat lelah. Pandangannya begitu tajam lurus ke depan, mungkin lebih tepatnya dikatakan pandangannya kosong. Dalam pikirannya hanya bagaimana hari ini ia bisa pulang dengan membawa rejeki untuk keluarganya. Suaminya sudah meninggal enam tahun lalu karena lever, semenjak itu ibu ini harus berjuang sendiri untuk menghidupi anak-anaknya.

Adalah Pawiro, umurnya sekitar 65 tahun jalan, seorang pedagang asongan yang sehari-hari keliling dari ujung ke ujung. Lelahnya tak terhingga yang ia tahu hanya bagaimana hidupnya harus tetap hidup, meski baginya hidup terlalu tinggi untuk diraih.

Tepat pukul setengah tiga, aku menghampiri Bu Pawiro. Dengan senyum ramah. Kami ngobrol sejauh yang bisa kami obrolkan, sampai pada suatu waktu aku tersentak dengan pemikiran Bu Pawiro tentang konsep hidup bertuhan dan menjalani hidup di dunia.

“Selama ajal belum menjemput, manusia itu harus selalu berbuat baik Mas. Menanam benih kebaikan pasti akan tumbuh buah kebaikan. Kebajikan, kesempurnaan yang kita harapkan akan senantiasa mengikuti kita. Tapi ingat, kalau ajal sudah datang ya tidak bisa apa-apa kecuali pasrah kepada Allah! Jadi, bagi saya, ajal itu pasti datang! Makanya saya doakan supaya saat ajal tiba, kita semua sudah siap menghadap Allah yang maha suci!”

“Saya doakan ibu umur panjang!” kataku.

“Gak usah didoakan manusia harus berumur panjang Mas”

Aku mulai tidak paham dengan kalimatnya. Aku mencoba untuk terus mengikuti setiap apa yang diselipkan.

“Kenapa? Bingung? Kata Bu Pawiro.

Aku hanya tersenyum simpul saja.

“Bedanya apa bu?” tanyaku.

“Ajal dengan umur itu lain Mas! Kalau ajal itu pasti datang, sedangkan umur itu harus panjang. Bukan pasti panjang, sebab semua orang belum tentu berumur panjang!”

“Maksudnya gimana bu?”

“Yang namanya umur panjang itu adalah ketika kita sudah bisa membuat sebuah kebaikan, dan kebaikan itu dipakai orang lain seumur hidupnya. Manfaatnya ada dan jelas! Itu baru namanya umur panjang”

Aku paham sekarang! Umur panjang adalah bagaimana manusia itu memanfaatkan umurnya untuk menanamkan kebaikan sehingga manfaat dari kebaikan itu banyak digunakan oleh orang lain. Sehingga muncul sebuah destinasi wisata religi dalam pikiran saya “BANYAK YANG MENINGGAL DUNIA SEBELUM MENINGGALKAN DUNIA”

Penulis : Fajar Dwi Putra                                                           
Penulis novel “Mawar Hitam” Dosen Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta            
Website : http://www.fajardwipa.com  
Instagram : @jokadesanta
E-mail : jokadesanta@yahoo.com                                                            

Tinggalkan Balasan