Makna “Amin” yang Sebenarnya

Dunia sains modern baru menemukan bahwa alam semesta kita terbangun dari energi, frekuensi, dan vibrasi setelah masuknya era fisika quantum. Namun pada jaman dahulu energi, frekuensi, dan vibrasi ini telah disadari oleh leluhur-leluhur bangsa timur, terutama Nusantara.

Tubuh manusia juga terdiri dari energi, frekuensi, dan vibrasi yang pada akhirnya mempengaruhi perilaku, kesehatan, emosi, dan pikiran. Hal inilah mengapa suara sangat mempengaruhi perilaku, emosi, pikiran, dan kesehatan tubuh manusia.Dalam spiritualitas Jawa, terdapat beberapa suara yang jika disuarakan dengan kesadaran akan menggetarkan sel-sel tubuh manusia dan lingkungan sekitarnya. Apakah anda pernah mendengar kata “hong”?atau “gong”? Suara “hong” jika dilafalkan dengan kesadaran benar-benar akan menimbulkan vibrasi yang luar biasa. Caranya tidak hanya mengucapkan hong saja. Namun harus diawali dengan kesadaran penuh, lalu tarik nafas sepanjang mungkin, dan hembuskan sepanjang mungkin sambil lafalkan “hong dengan lafal “ng” nya dipanjangkan dan digetarkan seperti ini, “hongggggggggg”. Lakukan beberapa kali dan harus rutin dilakukan setiap hari, terutama sewaktu bermeditasi.

Di ajaran Tantrayana Siwa Buddha Bali, aksara “hong” ini dilafalkan dengan “ong”. Caranya sama dengan melafalkan hong di atas. Mengapa “hong menjadi “ong”?. Ini hanya masalah aksen dan lidah saja. Intinya ketika hong atau ong diucapkan, lafalkan dengan ng nya lebih panjang dan digetarkan di dada anda.Beda Jawa, beda Bali, beda pula India. Di dalam tradisi spiritualitas India kuno, hong atau ong menjadi “om” (🕉️). Di kawasan pegunungan Himalaya hingga Indochina, hong, ong, om, dilafalkan menjadi “aum’. Dan di kawasan barat, agama-agama Samawi melafalkannya dengan “amm”. Entah bagaimana ceritanya, amm ini kemudian menjadi amen atau amin. Jadi amen atau amin sejatinya bukan berarti kabulkanlah doa kami, namun lafal untuk membuka portal-portal alam, agar pikiran-pikiran anda atau afirmasi anda (yang kemudian disebut doa) tervibrasi ke alam dan masuk ke ranah “Sang Maha Hening” agar terwujud.

Hal ini sedikit menjawab mengapa rumah peribadatan jaman dahulu tidak banyak, namun besar-besar dan tinggi-tinggi. Berbeda dengan sekarang yang banyak sekali, namun asal bangun saja. Ketika bangunannya semakin besar dan tinggi, maka akustik suaranya akan semakin bagus. Maka ketika lafal amm, aum, om. Ong, atau hong dilafalkan dengan benar, dan bersama-sama serta penuh kesadaran, hasilnya adalah getaran luar biasa yang akan rasakan di dada dan seluruh tubuh. Bagi saudara-saudara muslim, akan bisa merasakan getaran saat semua jamaah melafalkan ammin (amm), saat sholat jamaah di masjid yang tinggi besar. Bagi saudara-saudara Nasrani juga bisa merasakan di gereja yang tinggi dan besar. Sama dengan saat saudara saudara spiritual Jawa, Sunda, dan lain-lain melafalkan Hong di alam terbuka.

Saya sendiri takjub saat menemukan dua surah dalam Al-Qur’an yang menceritakan tentang kesejatian Tuhan, diawali dengan lafal ini. (Maaf saya belum mempelajari kitab suci lainnya. Jadi saya menceritakan yang saya tahu). Dan uniknya tidak ada yang paham bahwa ini adalah vibrasi. Saat Tuhan menceritakan “Dirinya”, maka saat dimulai dengan terbukanya portal-portal energi, frekuensi, dan vibrasi, maka manusia akan benar-benar merasakan getaran-Nya. Namun sayang, penerjemah kitab suci rupanya hanya menerjemahkan bahasa saja, sehingga ketika lafal vibrasi alam ini tidak ada di kamus bahasa apapun, maka penerjemahannya akan dibikin mudah : “Hanya Allah yang Tahu”. Padahal inilah sebenarnya bahasa universal alam semesta yang beresonansi dalam 432 hz, yang menggetarkan setiap dinding dinding energi alam semesta, termasuk manusia. Ketika akhirnya saya memahami makna awalan dua surah tersebut, dan kemudian saya teruskan dengan membaca ayat ayat berikutnya, hati saya tergetar dan tanpa sadar air mata menetes satu persatu. Bukan karena sedih atau bahagia, namun ternyata definisi Tuhan melampaui itu semua…Dan saya yakin di setiap agama pasti ada hal-hal yang menyebabkan hal tersebut terjadi.

Anda tidak perlu percaya kepada saya. Cukup rasakan saja bedanya saat amm dibaca bersama di masjid atau gereja yang besar dan tinggi. Amm atau hong, ong, om, aum ini tidak berarti apa-apa jika anda membacanya dengan asal dan tidak dengan kedalaman batin..Inilah frekuensi alam semesta raya, yang jika anda menyatu dengannya, maka satu persatu kebijaksanaan dan pengetahuan akan muncul dalam kehidupan anda.

Dalam tradisi spiritualitas Jawa, hong ini kemudian di transformasikan ke alat musik gamelan. Inilah mengapa, gamelan yang masih asli Jawa, semuanya instrumen perkusi atau tabuh. Suara gong jika anda bunyikan dengan lembut dan penuh kesadaran pun akan menimbulkan bunyi yang menggetarkan. Berbeda jika anda menabuhnya dengan serampangan. Dan uniknya setiap bilah gamelan menimbulkan vibrasi berbeda beda saat ditabuh.Bunyi gong atau hong di Jawa, dan Singing bowl di pegunungan Himalaya, yang jika ditabuh atau dilafalkan dengan benar akan mempengaruhi detak jantung dan sel-sel tubuh manusia. Bukankan detak jantung juga sebuah vibrasi saat berdetak? Coba saja bedakan rasanya denyut jantung, saat anda rilek dan marah.

Namun sekali lagi, anda tidak wajib percaya…

Tinggalkan Balasan