Menyontek

“Defri tadi nyontek pas ulangan IPA! Dia diam-diam membuka buku. Akibatnya nilainya sama dengan nilaiku. Waktu istirahat aku tegur, malah melototin aku…Menyebalkan!” Kata anakku saat pulang sekolah.

“Lha kalau dia nyontek apa kamu rugi”

“Rugi dong…nilainya sama dengan nilaiku. Padahal aku sudah berusaha keras bangun sebelum subuh untuk belajar!”Jawab anakku semakin marah.

Saya pun sedikit senyum. Dulu saya juga pernah sekali nyontek waktu sekolah, karena lupa ada ulangan dan takut nilai saya jelek. Namun walau nyontek nilai saya kok ya tetap jelek.

“Pertanyaannya, kamu sekolah tujuannya apa? Supaya pintar apa supaya nilamu baik?”Tanya saya kepada anak saya yang masih cemberut.

“Supaya pintar!”

“Lantas kenapa kamu marah saat ada temanmu nyontek?Apa kalau nilai bagus itu pasti anaknya pintar?Pintar itu didapat dari usaha, sementara nilai bagus itu tidak selalu didapat dari usaha. Bisa jadi nilai bagus didapat dari beruntung, bisa karena nyontek, dan bisa karena usaha belajar. Tidak penting nilai bagus, yang penting usahamu jujur untuk menjadi pintar. Buat apa nilai bagus kalau didapat dengan cara curang? Sekali lagi, tujuan sekolah supaya kamu pintar, bukan supaya kamu mendapat nilai bagus. Jadi sekarang setelah ini, apa kamu merasa rugi nilaimu sama dengan temanmu yang menyontek?”

“Tidak…”jawab anak saya mulai tersenyum

“Usaha dan kejujuranmu mendapat nilai baik, terlalu berharga jika dibanding berapa nilai yang kamu dapatkan nanti..Kamu tidak usah menegur Defri. Buat apa?Ingat ketika kita menanam benih padi, yang kita panen ya padi. Berbeda ketika kita menanam sampah, maka tidak akan ada pohon tumbuh. Yang didapat ya hanya sampah. Kecurangan dan kebohongan tidak akan berbuah kepandaian. Usaha, kerja keras, dan kejujuranlah yang berbuah kepandaian. Jadi besok lagi, kamu tidak usah menegur perbuatan Defri. Diamkan saja…kalau dia bangga dengan nilai baiknya, kamu cukup diam dan banggalah dengan usahamu..bukan nilaimu…”

Saya jadi ingat kata ibu saya di suatu hari.
Bicara susahnya membesarkan anak bukan pada bagaimana cara kita memberinya makan dan menyekolahkannya, tapi bagaimana membuat mereka menjadi orang berbudi baik. Orang pintar memperlakukan dunia dengan akal, sementara orang baik memperlakukan dunia dengan hati. Tentunya orang pintar yang baik akan memperlakukan dunia dengan akal dan budi baik.

Lihat saja para anggota dewan terhormat dan politisi-politisi disana. Mereka pintar-pintar, namun saking pintarnya lantas memperlakukan dunia dengan akal. Kejujuran pun diakali demi merampok materi bukan haknya, yang pasti akan mereka tinggal ketika mati. Saya tidak tahu apakah sewaktu kecil dulu mereka juga suka menyontek?

Lucunya di masa sekarang, banyak orang tua yang senang dan bangga melihat nilai anaknya bagus, tanpa mau tahu darimana ia memperoleh nilai bagus. Apalagi kalau nilai bagusnya dalam bidang IPA atau matematika. Ada pula orang tua yang bangga sekali anaknya pandai pelajaran agama, apalagi sudah khatam kitab suci. Namun orang tua tidak mau tahu apakah di pergaulan sehari-hari, anaknya sudah memiliki sifat welas asih dan budi pekerti baik kepada sesama, seperti yang diajarkan agama melalui kitab suci.

Pemahaman tujuan pendidikan memang berbeda-beda. Namun saya yakin tujuannya sama, membentuk manusia pintar dan baik yang nantinya memperlakukan dunia dengan akal dan hati nurani, walau implementasinya di sekolah kemudian berbeda. Banyak orang tua yang melupakan esensi pendidikan, dan lebih bangga jika anaknya meraih prestasi simbolik, yakni nilai baik, sertifikat, atau ranking kelas….

“Ayah! nanti aku bangun pagi lagi. Besok ada ulangan IPS…”kata anakku bersemangat.

“Siap bos!!” Jawabku

Tinggalkan Balasan