Nabi Isa Yesus Kristus

Nabi Isa, Yesus, atau Tuhan?

Tiga nama dalam satu orang? Sekali lagi ini bukanlah menyalahkan atau membenarkan satu sama lainnya. Namun saya hanya ingin mengajak anda untuk melihat ketiga nama tersebut dari sisi lalin. Mengapa? Hanya karena tiga nama tersebut, ribuan manusia saling membunuh, saling membenci selama ribuan tahun.

Tradisi Islam menyebut beliau sebagai nabi Isa, anak dari seorang gadis bernama Maryam, sementara dalam tradisi Kristiani disebut Yesus yang dipercaya sebagai anak Allah yang lahir dari rahim seorang gadis bernama Maria. Baiklah, pertama kita harus memahami sisi linguistik dahulu sebelum berbicara jauh mengenai nabi Isa.

Dalam bahasa Yahudi, nama Isa (عيسى) adalah Yaohúshua (הושע) diucapkan ‘yao-hóo-shua’ – tekanan pada suku kata kedua, dengan pengucapan huruf hidup pada suku kata pertama seperti pada pengucapan kata ‘how’ dalam bahasa Inggris. Arti dari Yaohushua ini adalah kuasa, Yaohu menyelamatkan. Yaohu sendiri berasal dari kata Yáohu UL, yaitu sebutan untuk Allah dalam bahasa Yahudi. Istilah ‘yáohu’ diucapkan: ‘yao-hoo’ – tekanan pada suku kata pertama, huruf hidup pada suku pertama disuarakan seperti kalau menyebutkan kata ‘how’ dalam bahasa Inggris, persis seperti pengucapan nama Yaohushua.
Kata Isa dalam bahasa Arab, tidak sepenuhnya mirip dengan kata Yaohushua dalam bahasa Yahudi, sebab bahasa Yahudi sendiri bukanlah merupakan bahasa ibu (Native tongue) dari Yesus yang sudah lazim diketahui berbahasa Aram (Aramaic), dan dalam bahasa Aram maka kata Isa disebut Eesho (bukan Esau seperti yang banyak disalah tafsirkan orang). Bahasa Aram sendiri adalah bahasa ibu dari masyarakat semit kuno yang tinggal di daerah timur, digunakan oleh bangsa Asiria, Khaldea, Yahudi dan Syiria.
Adapun istilah Jesus adalah hasil terjemahan kedalam bahasa Yunani (Gerika) dari bahasa aslinya yang diterapkan oleh para penerjemah agar lebih mudah diterima dan diucapkan oleh masyarakat yang berbahasa Yunani pada abad pertama dan kedua, disamping itu, masyarakat Gerika (sekarang Yunani) pada saat itu gemar sekali pada mitologi, kepercayaan, penyembahan kepada dewa ‘Zeus‘ dan juga ‘Dionysius‘ sehingga nama tersebut diterjemahkan dalam bentuk yang sudah dikenal dan mudah bagi lidah masyarakat mereka, yaitu ‘Iesous‘.

Asal muasal kata Yesus adalah IESVS yang diserap dari huruf Latin (Romawi kuno). Pada huruf Greek/Yunani ejaan huruf “Y” dalam bahasa kita biasanya disebut dengan i-igrek ditulis dengan huruf “Y”, dan huruf “U” ditulis “V” gaya tulisan huruf Latin kuno, seperti kata “IESVS” dibaca menjadi “YESUS”. Yesus yang merupakan seorang Yahudi yang berbahasa Aram, nama aslinya adalah Eesho. Baik bahasa IBRANI, ARAM maupun ARAB termasuk rumpun bahasa Semit yang mempunyai akar sama sehingga mempunyai kemiripan tulisan maupun ucapan:
IBRANI: (Y)eshua/(Y)ehosyua => ARAM: Eesho => ARAB: Eesa /Isa.
Selanjutnya => LATIN/Romawi Kuno: IESVS yang akhirnya => GREEK/Yunani menulis: YESUS, karena huruf I = Y pada tulisan Greek/Yunani, dan menjadi JESUS pada Bhs Inggris. (Catatan: Bahasa Yahudi Tidak Mengenal Huruf “J“)


ARAB: Eesa /Isa, (عيسى)
ARAM: Eesho, (Isho (Eesho) Aramaic name of Jesus)
IBRANI: Yeshua/Yehosyua, (הושע)
LATIN/Romawi Kuno: IESVS,
GREEK/Yunani menjadi : YESUS.(ἸησοῦςIesous)

INRI sendiri (kata yang tertulis di selembar papan kecil, di atas kepala Yesus saat disalib) merupakan singkatan dari huruf-huruf yang diambil dari Bahasa Latin Kuno: IESVS·NAZARENVS·REX·IVDÆORVM (dibaca: Iesus Nazarenus, Rex Iudaeorum, artinya: “Yesus orang Nazaret, Raja Orang Yahudi”) yang disematkan oleh Pontius Pilatus seorang pejabat Gubernur (Prefek) di wilayah Yudea (wilayah kekaisaran Romawi kala itu) yang bertugas mengadili Yesus. Namun apakah tulisan tersebut merupakan kalimat alegoris (kiasan), hinaan/pelecehan, atau gelar kepahlawanan sebagai seorang raja?\

Kata Al-Masih sendiri identik dengan kata Messiah atau Messias dalam bahasa Indonesia, atau juga disebut dengan Kristus, Kata Kristus (Christ dalam bahasa Inggris) berasal dari kata Yunani Χριστός (Christos), adalah terjemahan dari kata Ibrani מָשִׁיחַ (Meshiakh), dalam bahasa Yahudi istilah ini disebut dengan mashiah yang artinya kurang lebih orang yang diurapi. Diurapi di sini dimaknai sebagai sebuah prosesi penyucian yang diperuntukkan bagi seorang keturunan nabi Daud atau David yang dipercaya akan membawa bangsa Israel kembali ke jaman keemasannya.

Jadi kesimpulannya, “diduga” nabi Isa dan Yesus merujuk pada satu orang yang sama. Tradisi Islam dan Kristen atau Nasrani berbeda pendapat pada kepecayaan bahwa Isa atau Yesus adalah putra Allah, sementara tradisi Islam lebih percaya bahwa Isa atau Yesus adalah manusia biasa yang bergelar nabi, atau utusan Allah.

Saya ingin sedikit keluar dari tradisi agama-agama Abrahamic di Timur Tengah, dan terbang menuju ke Asia Timur dan Tenggara termasuk Indonesia. Dalam tradisi spiritualitas timur, terdapat dua nama besar yang dianggap Dewa atau titisan Dewa, yakni Siwa dan Buddha (Siddharta Gautama). Banyak yang salah paham menganggap jika Siwa dan Buddha adalah Tuhan itu sendiri. Tradisi Hindu, Buddha, dan Siwa Buddha (Jawa dan Bali) memiliki pandangan berbeda tentang apa yang disebut “Tuhan” oleh agama-agama Abrahamic. Walau realitas dalam kitab suci agama-agama Abrahamic Tuhan tidak bisa digambarkan dan berbeda dengan mahluk-Nya, namun mayoritas tanpa sadar memandang Tuhan itu wujud, anggaplah “sebuah” sosok yang menciptakan dan memerintah alam semesta. Menciptakan dan memerintah di sini lebih cenderung mengarah pada sifat manusia dimana manusia selalu berpikir, ketika sebuah materi ada dan terlihat pastilah ada penciptanya. Dalam tradisi timur, Tuhan dipandang dengan cara berbeda. Bahkan di Jawa, Bali, dan Sunda, Tuhan disebut tak bisa digambarkan atau tak bisa dideskripsikan. Artinya segala sesuatu yang masih bisa dideskripsikan manusia, pastilah bukan Tuhan, sehingga tradisi Jawa sangat simple menyebut Tuhan, “Tan keno kinoyo ngopo” atau tidak bisa dijabarkan atau diumpamakan atau dideskripsikan.

Namun menariknya, Tuhan dalam tradisi timur meliputi manusia. Manusia dipandang sebagai manifestasi dari Tuhan itu sendiri, sehingga manusia mewarisi sifat-sifat Tuhan. Bahkan dalam tradisi Hindu, terdapat tiga Dewa yang disebut Trimurti yakni Brahma (pencipta), Wishnu (pemelihara), dan Siwa (pelebur). Hal ini sebenarnya mewakili dari manusia itu sendiri, dimana manusia bisa memiliki sifat mencipta, memelihara, sekaligus meleburkan (menghancurkan). Sifat Tuhan yang memanifestasikan diri kepada manusia inilah yang kemudian menjadikan tradisi timur mempercayai, jika manusia bisa melepas sifat-sifat kemanusiaannya, maka yang tersisa adalah sifat Tuhan, dan itu berarti manusia menjadi Tuhan itu sendiri (dalam artian mewarisi sifat-sifat Tuhan yang penuh cinta dan welas asih). Sebenarnya tidak hanya manusia, namun alam semesta itu sendiri juga merupakan manisfestasi dari sifat Tuhan itu sendiri yang Maha Asih dan Maha Penyayang). Hal itu pula yang membuat masyarakat Asia Timur dan Tenggara berlomba-lomba menyingkirkan sifat-sifat manusia dengan beragam cara, seperti meditasi, Yoga, Samadhi, nenepi, dan lain-lain. Laku-laku spiritualitas timur, lebih tertuju kepada bagaimana manusia menyatu dengan Tuhan atau dalam tradisi Jawa disebut manunggaling kawula Gusti. Ketika manusia bisa menyingkirkan sifat-sifat manusianya, maka disitulah ia melebur dengan sifat-sifat Tuhan. Artinya manusia dan Tuhan tidak lagi memiliki batas. Manusia sebagai cermin dari sifat Tuhan, sementara Tuhan pun memanifestasi diri-Nya kepada manusia agar Ia dikenali. Namun masyarakat awam, terutama dari tradisi-tradisi agama Abrahamic salah dalam memandang sifat “Ketuhanan” Timur ini. Banyak yang salah menganggap bahwa manusia kok menuhankan diri, atau manusia kok menganggap dirinya Tuhan. Padahal makna dari “Ketuhanan” Timur tidak seperti itu.

Salah satu tokoh timur terbesar yang dianggap telah berhasil mencapai pencerahan sempurna, atau bisa dikatakan telah manunggal dengan Tuhan dengan cara menepikan sifat-sifat manusianya adalah pangeran Sidhharta Gautama yang kemudian disebut sebagai Buddha Gautama. Tradisi Buddha sendiri tidak pernah menuhankan Siddharta Gautama, seperti yang dituduhkan masyarakat awam yang menganut agama-agama Abrahamic. Buddha sendiri berarti “yang tercerahkan”, bermakna manusia yang telah meninggalkan sifat-sifat manusianya dan telah melebur kepada sifat Tuhan. Sehingga Tuhan sendiri telah menyatu dengan orang-orang yang mencapai level “Buddha”. Sama dengan Siwa dalam tradisi Hindu, Buddha dalam tradisi Asia Timur bukan Tuhan, melainkan manusia yang telah mencapai level ketuhanan karena telah menanggalkan sifat-sifat manusia atau duniawinya.

Sebenarnya ajaran ini juga dimiliki dalam tradisi agama-agama Abrahamic. Aliran Tassawuf atau sufisme di Islam juga menganut ajaran tersebut. Namun kata “Akulah Allah, dan Allah adalah aku” disalah artikan masyarakat awam sebagai syirik atau mengaku dirinya Tuhan. Itulah mengapa beberapa aliran di Islam menganggap ajaran sufisme sebagai ajaran yang menyimpang. Dalam Tradisi Nasrani juga sama. Banyak masyarakat Kristen dan Katolik yang tidak paham mengapa Yesus disebut Tuhan. Jika Yesus atau nabi Isa berkata bahwa “Aku adalah Allah, dan Allah adalah aku”, menurut saya bukan berarti kemudian Yesus adalah Tuhan atau Allah. Yesus adalah manifestasi dari sifat Allah, sehingga melebur dengan Allah adalah sebuah keniscayaan. Yesus putra Allah mungkin merupakan sebuah kiasan bagi Yesus untuk memahamkan masyarakat awam agar tidak terjebak pada kesalahpahaman bahwa Yesus adalah Tuhan. Namun apakah Yesus adalah Allah? Bukan jawabannya. Lalu yang benar bagaimana? Yesus adalah Allah, dan Allah adalah Yesus. Hal ini karena Allah telah memanifestasikan diri-Nya kepada Isa atau Yesus sebagai manusia yang telah meninggalkan sifat manusianya atau keduniawiannya. Hal ini dapat terjadi kepada semua manusia ketika semua manusia mampu meninggalkan sifat manusianya atau keduniawiannya dan telah melebur kepada sifat-sifat Tuhan atau Allah, tidak hanya Yesus, Buddha, Siwa, dan lain-lain. Bahkan nabi Muhammad SAW pun telah mencapai fase ini, yakni ketika terjadi peristiwa Isra’ Mi’raj. Namun banyak umat Islam yang tidak paham bahwa proses Isra’ Mi’raj adalah peristiwa sakral dan puncak tertinggi spiritualitas nabi Muhammad SAW yang patut dirayakan, seperti halnya Waisyak yang memperingati “kelahiran kembali” Buddha dengan mencapai puncak pencerahan atau pencerahan sempurna.

Jika anda tidak memahami bahwa nabi Muhammad telah mencapai level Buddha pada saat Isra’ Mi’raj, mungkin anda perlu mencermati mengapa Al-Qur’an disebut Allah berfirman, dimana firman Allah ini keluar dari suara nabi Muhammad yang dalam kondisi kontemplasi atau penyatuan dengan Allah. Sementara Hadist juga keluar dari suara nabi Muhammad sebagai manusia biasa yang kemudian disebut sebagai ‘sabda nabi’. Apakah nabi Muhammad sendiri tidak menyatu dengan Allah saat firman-firman Allah itu turun?Kalau tidak, pastilah anda wajib meragukan Al-Qur’an sebagai firman Allah karena tidak ada Allah di situ. Namun karena nabi menyatu dengan Allah, maka firman Allah melalui nabi Muhammad adalah benar-benar firman Allah yang datang melalui nabi Muhammad SAW.

Lalu bagaimana dengan kenabian Isa atau ketuhanan Yesus? Yang mana yang benar? Ah saya rasa semua adalah kepercayaan masing-masing. Tidak ada yang mewajibkan percaya kepada tulisan ini. Itulah mengapa saya juga tidak berhak menyalahkan siapa-siapa. Karena agama dan kepercayaan adalah personal dan tidak elok rasanya menghakimi mana yang benar dan mana yang salah. Silakan anda terjemahkan sendiri apakah Yesus atau nabi Isa adalah Allah, Tuhan, atau Anak Allah…apapun lah sebutan-Nya…

Tinggalkan Balasan