Ada Pesan Tersembunyi di Balik Tempat Sampah di Rumah Anda

“Hiduplah seperti tempat sampah”. Hah??Maksudnya?? Pernahkan anda melihat tempat sampah di rumah anda? Pernahkan anda berpikir suatu hari kehilangan tempat sampah di rumah anda?

Memang anda bisa dengan mudah membelinya lagi. Namun sebelum membeli, anda akan merasakan permasalahan sepele dan remeh temeh, yang tidak pernah anda pikirkan sebelumnya.
Tempat sampah, walaupun selalu menjadi benda yang menjadi “bagian rumah yang dianak tirikan”, menampung segala macam sampah yang dihasilkan keluarga anda. Semua benda tidak terpakai dan berbau busuk, akan diterima tempat sampah tanpa protes. Saat tempat sampah penuh, petugas sampah pun memperlakukan tempat sampah sebagai benda yang dilempar, dibanting, diseret, lalu dikembalikan ke tempat semula. Saat tempat sampah telah kosong, anda tentunya tetap akan mengisinya dengan sampah, dan bukan barang-barang yang bersih dan bagus. Celakanya, tempat sampah adalah satu-satunya benda di rumah, yang harus disembunyikan tanpa terlihat penghuni rumah, maupun orang lain yang berkunjung ke rumah anda. Jarang ada tempat sampah anda tempatkan di depan ruang tamu, yang biasanya menjadi ruang paling bagus di rumah anda.

Lalu apa hubungannya dengan hidup? Begini…Rata-rata manusia ingin hidup dengan segala kebaikan. Manusia cenderung menolak keburukan dalam hidupnya. Padahal keburukan dan kebaikan, merupakan produk pikiran anda sendiri. Seorang bijak pernah berkata, “Lihatlah pohon berbuah lebat itu…dibalik buah yang lebat dan manis, terdapat peran akar yang tidak indah bentuknya dan selalu tersembunyi di dalam tanah. Namun justru karena tumbuh di dalam tanah yang gelap itulah, akar menyerap semua mineral dan zat-zat yang berguna bagi pohon, sehingga bahan baku tersebut dapat dimasak oleh pohon menjadi buah yang manis dan lebat. Namun coba anda tempatkan akar di atas tanah yang penuh cahaya. Tak perlu waktu lama, tanaman anda akan layu dan mati:.

Banyak manusia yang menderita karena kesedihan atau kisah buruk di masa lalu. Manusia cenderung menghindari keburukan dan kesedihan. Padahal kesedihan tersebut merupakan bahan baku yang sangat berguna untuk menyalakan cahaya kebahagiaan anda. Rata-rata orang yang kini bergelut mempelajari spiritual, berawal dari memiliki masa lalu yang gelap. Jarang sekali ada orang yang bahagia, lantas belajar spiritual dengan tekun.
Penolakan terhadap kesedihan dan trauma masa lalu inilah yang akhirnya membuat hidup anda menderita yang diakibatkan rasa sakit di masa lalu.

Berbeda dengan ketika anda berperan seperti tempat sampah, yang menerima segala kebusukan dan kekotoran tanpa penolakan. Seperti halnya kebaikan, keburukan juga merupakan produk dari pikiran anda yang membuat anda menderita. Kebaikan dan keburukan merupakan hal sementara yang akan hilang. Namun kebanyakan manusia, sangat tidak mau kehilangan keburukan dan kebaikan. Keburukan sifat, emosi, dan masa lalu selalu melekat dalam diri anda, seolah sampah-sampah batin itu menjadi bagian dari anda. Padahal seperti halnya tempat sampah, apakah tempat sampah adalah bagian dari sampah yang anda buang?Tidak!Tempat sampah dan sampah adalah dua hal yang terpisah dan berbeda. Ketika anda membuang sampah yang ada dalam tempat sampah, maka tempat sampah tersebut akan terbebas dari sampah. Namun sebelum membuang, tentunya terlebih dahulu, tempat sampah tersebut harus menerima sampah apapun yang dibuang si pemilik rumah. Begitu juga trauma dan rasa sakit di masa lalu. Anda harus menerimanya sebagai bagian dari masa lalu anda. ketika anda menerimanya dan memaafkan diri anda, maka sampah-sampah masa lalu itu akan otomatis terbuang dari batin anda, dan anda akan memulai hidup baru yang lepas dari beban masa lalu.

Banyak orang terjebak depresi dan stress, bahkan menjurus kepada kegilaan dan keputusasaan akibat masih terus menolak sampah di masa lalu. Beban kesalahan, rasa malu, trauma disakiti orang, adalah sampah-sampah yang mengendap di batin anda. Semua adalah bagian dari masa lalu yang telah selesai bukan? Masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Masa lalu telah selesai, dan masa depan belum datang. Anda hidup di masa sekarang. Masa lalu yang telah selesai tidak akan terulang di masa sekarang, jika anda memaafkan diri anda, menerima diri anda apa adanya, dan mengevaluasi untuk menyiapkan masa depan. Ketika anda belum bisa memaafkan diri anda, memaafkan orang lain, dan menerima diri anda apa adanya sebagai manusia yang penuh kekurangan serta kesalahan, sama saja dengan tempat sampah yang menolak sampah. Sampah akan menggunung di rumah dan menimbulkan bau tak sedap hingga membuat hidup anda di rumah tidak nyaman.

Masa lalu yang gelap akan menjadi penyulut cahaya, ketika anda mengingat cerita tentang akar di atas. Akar hidup dalam kegelapan, namun justru dari kegelapan itulah ia menumbuhkan bunga yang indah atau buah yang manis. Kegelapan masa lalu akan menjadi cahaya ketika anda menerima dan memaafkan diri anda atau orang lain di masa lalu. Beban anda akan hilang, hidup anda akan ringan, dan pelan-pelan kebahagiaan akan muncul seperti bunga yang mekar atau buah yang mulai matang di pohon. Ketika itu, sampah-sampah di dalam diri anda, akan dibawa oleh petugas sampah, dan anda kembali menjadi tempat sampah yang kosong. Tidak ada lagi sampah di dalam diri anda.

Memaafkan orang lain memang sulit, namun akan lebih sulit memaafkan diri anda sendiri. Namun memaafkan diri sendiri dan orang lain, adalah jalan satu-satunya agar hidup anda seperti bunga mekar yang indah dan lepas dari penderitaan masa lalu yang sudah selesai, namun masih terus anda bawa hingga masa sekarang.
Ketika anda masih merasakan derita akibat trauma, dan sakit hati yang diakibatkan oleh seseorang, maupun terbeban dengan kesalahan anda sendiri di masa lalu, ingatlah tempat sampah di rumah anda…Ikhlas, rela, dan tak menolak apapun sampah yang masuk kedalamnya, namun ada saat dimana sampah yang ada didalam itu akan hilang diangkut oleh petugas sampah, dan menyisakan tempat sampah kosong. Tempat sampah bukanlah sampah….bedakan itu…….

Tinggalkan Balasan