Ragam Makna Merah Putih di Dusunku

Pagi tadi, Ngatimin sibuk mencari bambu untuk memasang bendera merah putih, setelah kemarin sore ditegur pak RT karena hanya rumahnya yang belum mengibarkan bendera merah putih, jelang Peringatan Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.
“Pak erte cerewet! Ngibarkan bendera kok dipaksa!”katanya sambil ngomel-ngomel.

Berbeda dengan seorang nenek bernama mbah Sariyem. Setiap bulan Agustus tiba, nenek berusia 76 tahun itu selalu “nyambat” atau meminta tolong Ahmadi, tetangga sebelah rumahnya, untuk memasangkan bendera. Maklum mbah Sariyem sudah sejak lama ditinggal mati suaminya dan kini hidup sendiri di desa.

“Lha ini baru awal bulan kok sudah mengibarkan bendera to mbah?”tanya Ahmadi.

“Saya mengalami sendiri bagaimana susahnya jaman itu. Jangankan mengibarkan bendera, baru punya rencana saja sudah dilaporkan sama begundal-begundalnya Londo…Orang sekarang tinggal enaknya, mengibarkan bendera saja harus disuruh. Itupun sambil ngomel-ngomel pasangnya. Padahal bendera itu bukan hanya bentuk dan kainnya, tapi tresno atau wujud cinta saya kepada tanah surga ini…”Kata mbah Sariyem setengah berorasi.

Tak ada bendera, yang sekaya Merah Putih filosofinya

Tak jauh dari rumah mbah Sariyem, tepatnya di masjid Al-Hikmah, ketika khotbah sholat Jum’at siang tadi, pak ustad Parjiyono juga berkata senada.
“Mengibarkan bendera itu wujud rasa syukur dan cinta. Bukan hanya cinta kepada negara, tapi cinta kepada Allah yang menganugerahkan tanah subur seperti surga ini untuk bebas dari penjajahan. Semua ciri-ciri surga dalam Al-Qur’an ada di sini. Dan kita diijinkan tinggal menikmatinya. Bukankah kita telah berada di surga? Jangan melihat bendera sebagai benda. Tidak ada bendera di dunia, yang memiliki makna sedalam merah putih. Nenek moyang kitalah yang mengenalkan filosofi merah putih, dan mengaitkannya dengan kehidupan hingga bermakna sangat indah. Merah putih itu sebuah pesan. Merah adalah gula, putih adalah buah kelapa. Mengapa merah ada di atas dan putih ada di bawah? Gula merah itu rasanya manis. Gula manis dapat diartikan kesejahteraan, yang hanya bisa didapat dengan laku yang berat, yakni harus mendapatkan air kelapa.

Sambil membetulkan letak pecinya, pak ustad Parjiyono melanjutkan khotbah.

“Manisnya gula merah yang diartikan sebagai kesejahteraan tadi, tidak bisa didapat dengan instan. Kita harus terlebih dahulu melakukan pekerjaan berat, yakni mengupas buah kelapa selapis demi selapis, untuk mendapatkan air sari buah kelapa yang digunakan sebagai bahan baku gula merah. Mengupas buah kelapa itu berat, dan harus lapis demi lapis, dimulai dari kulit kelapa atau sabut, batok kelapa, hingga bertemu air. Air inipun tidak lantas jadi gula, karena harus diolah lagi dengan melakukan pekerjaan yang juga berat. Semua pekerjaan tadi tidak bisa dikerjakan oleh segelintir orang saja. Semua harus bergotong royong dengan ikhlas. Setelah peluh keluar, tubuh dilanda lelah, bahkan berdarah dan airmata tercurah, barulah sebongkah gula merah yang manis tersaji di depan mata. Itulah kesejahteraan dan kemakmuran. Jadi merah di atas adalah tujuan negara kita, dan putih di bawah adalah pekerjaan berat yang harus kita lakukan terlebih dahulu, untuk mendapatkan manisnya kesejahteraan dan kemakmuran. Jadi untuk mendapatkan manisnya gula kemakmuran dan kesejahteraan, tidak ada yang instan. Kita tidak bisa hanya bermalas-malasan lalu bisa sejahtera. Kita harus bekerja dan berkarya, saat ini juga. Tidak bisa nanti atau besok, atau lusa.
Jadi kalau masih ada di antara kita yang berat hati mengibarkan bendera, artinya dia tidak memahami arti dari bendera yang kaya filosofi agung ini. Inilah bendera kita, sebuah pesan indah yang ditancapkan di setiap rumah, dari desa hingga kota, dari gunung hingga pantai di seluruh Indonesia sebagai komitmen kita untuk bergotong royong, agar bangsa ini sejahtera dan makmur…Itu tadi baru makna filosofi terkait tujuan negara, belum makna filosofi merah putih terkait ketuhanan, dan pembentukan perilaku manusia Indonesia…. “Kata pak ustad Parjiyono meneruskan khotbah Jum’at yang nasionalis itu, dan mengakhirinya dengan kesimpulan akhir menggantung seperti film sekuel Hollywood…

Tinggalkan Balasan