#meditasi #meditation #yoga #sabar #menerima #life #hidup #inspirasi #motivasi

Penyapu Jalanan di Sudut Pancoran

Suatu hari, saya ditugaskan untuk meliput sebuah berita ringan, pada saat bulan suci Ramadhan, untuk mengisi berita religi. Koordinator liputan meminta saya dan reporter saya, meliput kehidupan para penyapu jalan di Jakarta. Mereka bekerja dua kali sehari, yakni sebelum shubuh saat orang-orang Jakarta yang biasanya sibuk masih terlelap dalam mimpi, dan sore hari saat jam pulang kantor yang merupakan saat dimana lalu lintas sedang padat-padatnya. Kamipun memilih untuk meliput aktifitas seorang ibu berusia sekitar 50 tahunan, yang menjadi penyapu jalan di kawasan tugu Pancoran, Jakarta Selatan. Sore itu, setelah janjian dengan si ibu, kami beranjak dari kantor yang tak jauh dari lokasi si ibu bekerja di bawah jembatan layang Pancoran. Tanpa ingin membuang waktu, sore itu proses pengambilan visual si ibu menyapu jalanan saya kebut.

Hari pun mulai senja, ketika kami harus mengambil visual si ibu berbuka puasa di rumahnya, selepas bekerja menyapu jalanan. Kami baru tahu, yang disebut “rumah” oleh si ibu, ternyata adalah gubung dari triplek non permanen yang terletak di sebuah lahan kosong di sudut pertempatan tugu Pancoran waktu itu. Bangunan yang disebut rumah itu hanya memiliki dua ruang, yakni ruang tidur dan ruang tamu yang juga dimanfaatkan sebagai dapur tempat memasak. Jika di detailkan luasnya kira-kira 3 kali 3 meteran. Si ibu ternyata tinggal bersama suaminya yang juga bekerja sebagai penyapu jalanan. Kedua orang tua itu berasal dari sebuah desa di Jawa Barat, dan bekerja di Jakarta karena tidak lagi memiliki sawah untuk ditanami padi. Anak-anaknya mendesak agar sawah satu-satunya dijual, dan hasilnya dibagikan sebagai warisan untuk dua anaknya yang telah berkeluarga. Namun ironisnya, setelah sawah dijual dan mendapatkan uang hasil penjualan, kedua anaknya tidak pernah lagi pulang ke rumah menjenguk orang tuanya. Bahkan orang tuanya tidak pernah tahu dimana anak-anaknya tinggal. Mereka hanya tahu dari teman-teman anaknya yang bercerita jika kemungkinan anaknya merantau ke Malaysia dan Kalimantan. Tak ada sawah, maka tak ada pekerjaan. Maka kemudian suami istri yang usianya sudah beranjak senja itupun merantau ke Jakarta, sekadar untuk bertahan hidup mencari sesuap nasi.

Sore itu, saya belum sempat menyelesaikan pekerjaan pengambilan visual aktifitas si ibu dan suaminya, saat adzan maghrib datang. Karena sempitnya rumah, saya dan teman saya pun duduk-duduk di luar sambil menunggu si ibu menyiapkan makanan dan minuman buka puasa. Ia menuang empat gelas teh panas manis yang tidak kental. Setelah itu ia pun menuangkan sepiring sop panas yang hanya terdiri dari daun kol. Dengan sopan kami menolak sementara pemberian karena saya harus menyelesaikan pengambilan visual, suasana berbuka di rumah si ibu. Artinya saya tidak boleh melewatkan momentum berbuka puasa tersebut.

Sembari melakukan proses pengambilan visual, saya dan teman saya melihat sebuah pemandangan, yang mungkin tidak dijumpai di setiap rumah di republik yang maha luas ini. Sebuah pemandangan dimana sepasang suami istri berusia tua, bercanda sambil berbuka puasa walau dengan sop yang berisi daun kol dan teh manis yang tidak kental. Mereka tertawa renyah tanpa terlihat kelelahan, setelah bekerja dari sebelum subuh. Mereka saling bercerita, tanpa terlihat adanya nasib buruk. Tidak terlihat dampak perlakuan anak-anak yang telah mereka lahirkan dan besarkan, yang membuat mereka harus hidup di rumah triplek di tengah padatnya persaingan hidup di ibukota.

“Ayo nak…makan bareng kita…”ajak si bapak membangunkan saya dari pikiran liar yang menghakimi bahwa suami istri ini harusnya menderita.

Kali ini kami tidak bisa menolak ajakan mereka, dan makan bareng di depan rumah beralaskan tikar lusuh.  Dengan ramah mereka bercerita betapa bahagianya bisa berkumpul dan berbuka puasa bersama. Sambil makan, si bapak dan si ibu tertawa-tawa menceritakan kisah-kisah lucu di desa dahulu, dan sewaktu mereka bekerja menyapu jalanan di ibukota yang katanya kejam. Mereka seolah tidak memiliki masalah seperti orang-orang lain yang sedang bermacet ria di perempatan Pancoran, yang walaupun bermobil, namun wajahnya terlihat kusut dan lelah.

“Nak, tahu bedanya sabar dan menerima?”tiba-tiba si bapak bertanya kepada saya

Dengan tersenyum kecut, saya memancing si bapak untuk menjawab, karena saya memang tidak tahu jawabannya.

“Sabar itu bisa dipaksa, sementara menerima tidak…”kata si bapak.

“Paling gampang, coba lihat mobil-mobil di perempatan itu. Pengemudinya belum sempat berbuka karena terkena macet. Lihat wajah lelah dan jengkel mereka karena harus terjebak macet di tengah waktu buka puasa. Mereka harus bersabar karena memang tidak punya pilihan selain harus menunggu di tengah kemacetan untuk sekadar berbuka, atau bahkan sampai di rumah. Mereka terpaksa sabar, karena tidak punya pilihan. Artinya sabar itu bisa dipaksakan. Berbeda dengan menerima. Menerima itu yang menerima apapun yang terjadi di hidup kita, baik atau buruk. Baik atau buruk itukan hanya pikiran kita kan. Semua yang kita alami dan dapatkan akan menjadi baik jika kita berprasangka baik dan menerima apa adanya. Menerima dengan ikhlas akan membuat kita bahagia, karena kita selalu berprasangka baik jika semua yang diberikan Tuhan di kehidupan kita adalah baik. Kalaupun buruk, itu hanya karena kita berprasangka buruk. Jika kita mampu terus berprasangka baik, kehidupan akan selalu membuat kita hal-hal menyenangkan. Jadi orang sabar belum tentu menerima apa adanya, karena sabar bisa karena terpaksa harus sabar. Namun orang yang menerima, pastilah orang itu orang yang sabar, karena apapun yang ia dapatkan, itu adalah berkah. Hidupnya ia habiskan untuk berterima kasih atas nikmat yang didapatkan, walau dalam pandangan orang hidupnya susah….”

Saya jadi paham mengapa suami istri ini masih bisa tertawa-tawa lepas di tengah kesederhanaan dan rumah triplek yang kecil selepas lelah bekerja menyapu jalanan. Mereka benar-benar menerima kehidupan apa adanya, karena berpikir positif bahwa kehidupan itu sendiri sudah indah. Kesusahan hanya ada di pikiran orang-orang yang tidak bersyukur, dan tidak menerima pemberian Sang Kuasa dengan pikiran positif, karena buat kebanyakan orang, kesenangan dan kebahagiaan hanya terwujud jika Tuhan memberikan apa yang mereka inginkan. Jika tidak, hidup terasa mengecewakan dan menyedihkan…

Kami pun pamit sore itu karena adzan Isya sudah berkumandang…

Tinggalkan Balasan