Sederhana Tak Sesederhana Kesederhanaan

Banyak orang mempertanyakan bagaimana caranya hidup kaya dan tidak akan menjadi miskin? Dalam pikiran mereka yang ada hanya mencari cara supaya tidak miskin, mereka takut kemiskinan akan menelantarkan mereka dan mengantarkan masuk ke lembah kesengsaraan. Tapi mereka salah cara berpikir.

Tuhan memberikan beberapa pilihan hidup, antara senang, susah, miskin dan kaya. Tapi, Tuhan hanya memberikan satu cara untuk mencapai itu, yaitu “menjadi yang mana” itulah cara Tuhan mengajarkan dimensi keberagaman dan tatacara hidup manusia.

Meski kadang manusia secara bodoh menyia-nyiakannya menjadi sebuah historical semata. Perilaku manusia terjerembab pada struktur yang tak beraturan, berpindah-pindah lokasi untuk mencapai tujuannya. Bisa dengan cara pergi ke dukun dan orang Pinter.

Agama apapun itu mengajarkan sebuah cara berpikir dan berperilaku manusia. Sehingga, manusia akan dijamin aman hidup di dunia. Namun, perintah Tuhan itu diabaikan nya dengan alasan bahwa Tuhan hadir hanya untuk urusan siksa menyiksa, neraka, surga dan keabadian. Tuhan tidak mengurusi segala macam sesuatu yang bersifat sekunder.

Terkadang manusia dan Tuhan tercipta sebuah jarak yang begitu besar dan panjang. Rasionalitas nya di urungkan menjadi hanya sebagian saja. Tuhan tidak marah dan tidak akan marah, Tuhan itu sabar dan bijaksana. Keberagaman manusia menjadikan dunia ini ada “bentuknya”, manusia salah mengartikan menjadi kreatif atau -re-kreatif?

Sungguh sebuah dasar yang tak mendasar untuk mencapai nilai tatanan sosial dalam hidup! Kesederhanaan sering dianggap sebagai jalan murahan mencapai kesenangan duniawi. Mengangung-agungkan setiap inci dari elektabilitas manusia.

Kerancuan berpikir tentang hidup sederhana menjadi bench mark[1] untuk melangkah ke kehidupan yang tidak hakiki. Risikonya cukup mudah dideteksi, kalau manusia hidup sederhana maka dia akan tenang, dan kalau manusia hidup disederhanakan maka dia akan susah, dan kalau manusia hidup sederhana maka dia akan bahagia, Lalu bahagia itu bagaimana? Sederhana itu apa? Banyak orang yang tidak paham membedakan keduanya. Bahkan ada yang sengaja membedakannya dari sudut yang sama, padahal kedua hal itu berbeda.

Tuhan menciptakan pertanyaan kenapa harus hidup sederhana? Karena orang yang sederhana tidak pernah akan menjadi miskin. sebab saya tidak pernah menemukan lawan kata dari sederhana.

Penulis :                                                                                                                   Fajar Dwi Putra                                                           Penulis novel “Mawar Hitam”                                                                          Dosen Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta  Website : http://www.fajardwipa.com Instagram : @jokadesanta  E-mail : jokadesanta@yahoo.com


[1] Tolok Ukur

Tinggalkan Balasan