Selembar Surat di Pagi Hari

Pagi ini, aku tulis selembar surat..Kepada-Mu yang hanya kusapa saat aku dalam kesulitan..Namun kali ini aku tidak dalam kesulitan. Aku hanya ingin membuktikan sulitnya berserah kepadamu sebagai mahluk yang percaya, bukan berserah sebagai mahluk yang merasa lemah seperti yang dilakukan kebanyakan manusia…Bukankah seperti itu yang Kau mau?

Kumulai surat pendek itu dengan menawarkan masa depanku kepada-Mu. Bukankah Kau lebih menyukai penawaran, dibanding permintaan? Sayang banyak manusia yang tidak tahu dan lebih memilih memohon-mohon supaya Dirimu mengabulkan ego pribadi yang mereka bungkus dengan doa. Aku lihat Kau hanya tertawa terbahak saat melihat manusia seperti itu..

Di bait kedua aku tulis sebuah laporan untuk-Mu. Tentang kebahagiaan dan rasa syukur yang aku definisikan sebagai sebuah adonan berbahan cinta kasih, belas kasih, dan menyerahkan proses masaknya kepada-Mu. Namun entah mengapa rasanya sedikit hambar akibat aku kurang percaya kepada-Mu. Entah apakah karena racun bernama takut, khawatir, dan lupa akan kerennya Dirimu saat mengatakan, “Serahkan kepadaKu…”. Aku seperti orang tua yang khawatir dengan anak perempuannya yang memutuskan untuk menikahi seorang laki-laki yang belum aku kenal. Apakah mungkin karena aku belum benar-benar mengenali-Mu?

Surat kututup dengan perkataan-Mu kepadaku di suatu petang yang indah.”Hiduplah dalam kebahagiaan sejati, dan aku pasti mengabulkan apapun penawaran terkait masa depanmu…”Waktu itu aku berpikir, “Kebahagiaan sejati?Seperti apa itu?””Salah satu syaratnya adalah menyerahkan semua proses kepada-Ku dengan kepercayaan penuh. Bukan dengan memamerkan ego yang dibungkus doa dalam derai air mata…”Kata-Mu sore itu….

Tinggalkan Balasan