Semar Bodronoyo

Ki Lurah Semar Bodronoyo adalah simbolisasi sifat paradoks Tuhan. Tuhan adalah kesenangan sekaligus kesedihan. Tuhan juga mengampuni sekaligus “membalas” karma. Memberi nikmat sekaligus bencana. Namun Tuhan juga bukan dualitas itu sendiri. Ia tidak diluar sana sekaligus tidak didalam mahluk Nya. Dalam tradisi Jawa, Tuhan bukanlah semua yang bisa digambarkan oleh bahasa manusia. Maka lantas munculah sosok Semar Bodronoyo.⁣

Semar atau Samar atau abu abu. Ia punya kuncung seperti bayi, namun ia sekaligus berwajah tua. Matanya seperti orang menangis, namun mulutnya tersenyum. Dan banyak simbolisasi sifat paradoks Tuhan lainnya dalam sosok Semar, yang juga ada dalam diri manusia. Semar selalu tampak menunjuk dengan jari di belakang tubuhnya. Artinya semua kesamaran adalah petunjuk tersembunyi ketika manusia ingin menemukan Tuhannya.⁣⁣

Semar merupakan putra kedua dari Sang Hyang Tunggal dan bernama asli Ismoyo, dengan kakak bernama Antogo (Togog) dan adik bernama Manikmoyo (Betoro Guru). Semua juga merupakan kiasan atau ajaran yang disembunyikan merujuk pada ilmu menuju kasampurnan jati. Dikisahkan ketiganya lahir dalam wujud telur (bahasa Jawa : tigan) artinya tiga. Antogo lahir dari cangkang, Ismoyo dari putih telur, dan Manikmoyo dari kuning telur. Telur adalah lambang perputaran kehidupan yang tidak ada awalan dan akhirnya. Selain itu telur juga merupakan petunjuk jalan menuju Tuhan. Untuk menjadi manusia yang sempurna, seseorang harus memecahkan cangkang tubuhnya (pikiran dan emosi serta tubuh materi). Setelah melewati cangkang, lalu bertemulah dengan tubuh halus atau ruh atau kesadaran yang dilambangkan putih telur. Ketika perjalanan telah melewati putih telur, barulah akan bertemu dengan ilmu kebenaran atau guru sejati yang disimbolkan Manikmoyo atau kuning telur. Segala rahasia jagad raya dan Tuhan sendiri akan diketahui melalui ilmu kebenaran yang tersembunyi setelah melampaui cangkang dan putih telur ini.⁣⁣

Satu kesalahpahaman yang terjadi, Semar bukanlah ciptaan Sunan Kalijaga. Beliau hanya mengadopsi sosok Semar yang telah ada untuk kepentingan dakwah Islam. Semar telah menjadi simbol spiritualitas dalam tradisi Jawa, jauh sebelum Islam masuk ke pulau Jawa. Ia bahkan dibuatkan sebuah candi bernama candi Semar di kawasan Dieng, Jawa Tengah.

Tinggalkan Balasan